RSS

Curhat Kontraktor :)

Akhir-akhir ini, saya jarang sekali bisa membuat sebuah tulisan yang berkualitas. Itu sebabnya, saya melarang diri saya menulis di blog tentang hal-hal yang tak penting hanya demi blognya terlihat aktif. Setiap kali saya blogwalking, saya malu sekali dengan tulisan sahabat-sahabat lain -yang meskipun hanya berupa tulisan ringan- tapi tetap menambah wawasan atau sekedar menghibur dan membuat pembacanya tersenyum.

Hal-hal tak penting berupa curhat ge-je itu saya tulis di kertas, hanya untuk saya baca sendiri saja, bukan untuk dikonsumsi oleh publik. Jika sudah tak diperlukan, saya bisa membuangnya (karena kebanyakan curhat-curhat seperti itu nadanya negatif).

Tapi kali ini, saya tak tahan lagi, saya pengen curhat, huhuhu… Dan saya putuskan untuk ditulis di sini untuk melihat komentar para sahabat blogger saya tentang sikap saya yang seharusnya, atau mungkin sepantasnya.

Curhat ini berawal dari sebuah rumah kecil bercat biru…

Saya pernah menulis, bahwa pernikahan saya terhitung mendadak, karena kedua keluarga meminta kami untuk menyegerakan kehalalan hubungan itu sesuai ajaran agama (bukan berarti kami melakukan yang ga halal lho ya :D )

Di tengah kehebohan mempersiapkan segala sesuatunya (yang terasa sempit untuk sebuah perencanaan pernikahan), saya dan suami mendadak sadar bahwa kami memerlukan sebuah rumah. Ga lucu jika setelah menikah kami masih tinggal di kos yang berbeda bak mahasiswa :)

Jadi, kami mulai berburu kontrakan di beberapa daerah Jogja. Sayangnya, harga sewa rumah di daerah-daerah favorit kami yang strategis tidak terjangkau oleh kantong ‘dua mantan jomblo yang lupa nabung’, hehehe… Kami akhirnya memutuskan mencari di daerah Jl. Wonosari dengan pertimbangan harga yang lebih murah plus kantor stasiun tv lokal tempat kerja suami saya juga berada di situ.

Melalui sebuah iklan di koran, saya dan suami menemukan rumah bercat biru ini. Biasanya, saat saya memasuki sebuah rumah, ada feeling tertentu yang bisa saya rasakan jika rumah itu agak ‘bermasalah’. Hawanya akan terasa tidak enak. Tapi rumah ini tidak memberikan feeling apa-apa. Melihat ruang-ruangnya yang cukup bersih, saya setuju untuk mengontrak di situ. Selain saya sudah lelah mencari kesana-kemari, waktunya juga cukup mepet karena saya harus segera pulang ke Bandung, tak ada waktu lagi untuk mencari rumah idaman lain.

Mulai bermasalah saat kami meminta daya listrik dinaikkan dari 450 Watt ke 1300 Watt. Yang mengiklankan rumah ini ternyata bukan pemilik, melainkan seorang makelar yang tinggal di kompleks yang sama. Saat itu, suami saya meminta nomor kontak empunya rumah untuk meminta surat-surat berkaitan dengan kenaikan daya listrik itu, tapi ditolak oleh sang makelar. Katanya, biar semuanya dia yang urus. Kami tak usah repot-repot menghubungi pemilik rumah.

Saat itu, sempat suuzhan sih… Jangan-jangan harga sebenarnya dari pemilik rumah ga seperti kesepakatan kami dengan sang makelar. Tapi, daripada uang muka yang udah disetorkan hangus, kami pun menyerahkan urusan ini padanya. Dan akhirnya urusan listrik pun selesai.

Masalah lain, sebelum kami kontrak, rumah ini sebenarnya memang akan dijual. Dan inilah gangguannya…

Rupanya, makelar rumah di kompleks ini ternyata bukan hanya si ibu yang berurusan dengan kami. Yang saya tidak tahu, rumah ini ternyata tetap “dipasarkan” oleh beberapa tetangga di sini untuk dijual.

Saya terbengong-bengong ketika suatu siang, saat saya sedang demam, pintu rumah diketuk oleh beberapa orang. Makelarnya bilang mereka adalah calon pembeli rumah, jadi mau masuk lihat-lihat seisi rumah. Saya jelas merasa tidak nyaman memasukkan orang asing untuk melihat ke seluruh penjuru rumah saya, apalagi tanpa seizin suami. Saya sudah berusaha menolak dengan sopan, tapi mereka agak memaksa, “Sebentar saja, Mbak, ini sudah datang jauh-jauh ke sini…”.

Saya bahkan belum sempat menghubungi suami dan mereka sudah berada di dalam rumah. Saat tahu, suami marah dan berkata bahwa lain kali saya harus hati-hati. Memang hare gene, banyak sekali kejahatan dilakukan dengan cara tak terduga. Nah, yang menyebalkan, itu tidak hanya terjadi sekali saja, dengan makelar yang berbeda-beda pula. Kedatangannya juga selalu mendadak, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Sungguh, saya tahu menjual rumah itu tidak mudah. Dan saya juga tidak ingin menghalangi rezeki si pemilik rumah. Tapi, saya pikir, selama kami sudah melunasi kewajiban kontrak, kami juga berhak mendapatkan privasi di rumah ini kan? Tidak nyaman jika beberapa orang asing tiba-tiba datang ingin melihat-lihat seluruh sudut-sudut tempat tinggal kita. Dan akhirnya, meski mendapatkan wajah-wajah jutek, permintaan mendadak dangdut seperti ini selalu saya tolak.

Saya ingin sekali menghubungi si pemilik, menyatakan keberatan dengan hal ini. Tapi, saya takut beliau jadi tersinggung dan memutuskan kontrak sepihak (itu mungkin saja, kan?). Sedangkan untuk menyediakan sejumlah uang berjuta-juta rupiah untuk menyewa rumah lain, jelas kami belum mampu.

So, what should I do? Anyone?

 
15 Comments

Posted by on January 13, 2012 in Uncategorized

 

Si Gopek

Resolusi tahun ini rajin apdet blog ga kesampean… Malah blognya lebih banyak terlantar… Dengan banyak alasan, hehehe… :hammer:

Baiklah, tahun depan, mudah-mudahan bisa apdet setidaknya seminggu sekali, di hari Kamis.

Kenapa harus Kamis?

Karena buatku -yang pengangguran ini- semua hari keliatan sama, jadi suka lupa nama-nama hari, hahaha… Tapi, setiap hari Kamis suami akan berangkat ke kantor mengenakan seragam hijau pupusnya. Kalo pagi-pagi udah liat seragam itu baru ngeh, oooh… ini Kamis ya… udah seminggu ga ngeblog ya… Gitchu…

(Ga mutu banget alesannya… :P )

Pagi ini, entah kenapa, aku tiba-tiba teringat sebuah humor sederhana. Lupa juga baca di mana, udah  lama sih…

Alkisah, sebuah uang koin lima ratus dan selembar uang seratus ribu bertemu di suatu tempat. Si uang seratus ribu dengan bersemangat bercerita tentang tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Dari penyimpanan bank-bank ternama di Indonesia, dompet para jutawan, koruptor hingga tempat-tempat hiburan elit.

Selesai bercerita, ia bertanya pada uang koin lima ratus, “Nah, coba ceritakan, tempat-tempat mana aja yang pernah kamu kunjungin?”

Si uang koin menjawab kalem, “Ah, aku sih ga sehebat itu. Paling pindah ke dua tempat aja. Kalo nggak ke WC Umum, ya… ke kencleng masjid.”

HADEWWW…

Serba salah baca humor ini, serasa tersindir, mau ketawa juga nyinyir…

Padahal sekarang, mana ada WC Umum harganya gopek, minimum juga seribu perak. Tapi, mau masuk surga cuma ngasih lima ratus, hehehe… Dasar kita manusia emang makhluk malu-maluin.

Kadang godaan juga sih… Maklum rumah tangga baru dengan hanya mengandalkan satu pemasukan memang keadaan ekonominya masih gonjang-ganjing. Masih terbawa-bawa aja kebiasaan boros jaman single dulu, hehehe… Jadi, saat tangan ingin memberi, ada aja bisikan-bisikan maut, “Ga usah ngasih dulu deh… Kita juga masih butuh lho…”.

Huufffttt…

Kalo udah gitu, lagi-lagi aku teringat nasihat Mama yang ajib…

Allah itu Maha Kaya!

Jadi,kenapa harus takut kekurangan karena memberi? Apalagi jika pemberian itu membuat saudara-saudara kita berbahagia… Rasanya the whole world smile with you:D

Karena kata seorang ustadz, orang yang PELIT itu adalah orang yang berzakat, tapi TIDAK bersedekah. (Nah lho, jadi yang ga zakat namanya apa dunk???).

 
7 Comments

Posted by on December 15, 2011 in Uncategorized

 

When I Said ‘Yes’…

Selepas ujian skripsi, ketika (dengan malasnya) aku wara-wiri di kampus meminta tanda-tangan persetujuan para dosen penguji, ada satu dosen yang biasanya nangkring di warnet kampus. Kebetulan, beliau tak pernah mengajar di kelasku, jadi aku tak tahu seperti apa sifatnya. Tapi, saat menguji sepertinya baik-baik aja, tidak terlihat sadis atau semacamnya. Dan, ya, mudah sekali mendapatkan tanda-tangan beliau, tanpa ribet, tanpa pertanyaan macam-macam, malah diberi bonus senyum lebar…

Siapa sangka, bertahun-tahun kemudian aku ternyata menikahi keponakannya…

Aku tak pernah merencanakan akan menikah tahun ini. Jangankan menikah, membayangkan bisa jatuh cinta lagi saja rasanya sungguh sulit, mengingat kisah yang terakhir penuh dengan rasa sakit yang susah sembuhnya *drama*.

Jadi, ketika dalam kurun waktu 6 bulan tiba-tiba saja aku harus mempersiapkan pernikahan dengan seorang yang kukenal selama 9 tahun sebagai ‘teman-say-hi’, yang ngobrol aja seumur-umur tak pernah lebih dari 5 menit, rasanya agak aneh. Dan jujur, selama beberapa waktu aku sempat ragu. Is he really the one? Mr. Right?

Hanya Allah yang Maha Tahu jawabannya. Maka aku bertanya pada-Nya, lagi dan lagi. Dan kata-kata penolakan yang tadinya sering kupersiapkan setiap bertemu dengannya hilang entah ke mana… Berganti pertanyaan yang terus muncul di kepalaku, “Kenapa kau ingin menolak orang sebaik dia?” Dan entah kenapa sebuah hadits Rasulullah SAW terus terngiang-ngiang…

Jika datang seorang laki-laki kepadamu (untuk melamar), sedang kau tahu ia baik akhlak dan agamanya lalu kau tolak, maka jadilah fitnah buatmu dan kerusakan yang besar,” (HR. Ibnu Majah)

Padahal, sebelumnya aku bahkan tidak hafal hadits ini…

Bertukar saran dengan orang tua dan sahabat pun tak henti kulakukan. Lucunya, berbeda dengan hubungan yang sudah-sudah (ada yang pro dan kontra *halah*), kali ini semua saran justru mengarah pada jawaban: beri dia kesempatan.

Nasihat terbaik dari curhat tentang ‘ketidaksiapanku menikah’ kudapatkan dari Bu Eko, sahabatku yang kini pindah ke pulau seberang. Intinya dia bilang, “Sampai akad nikah pun kita ga akan pernah siap. Menikah bukan hanya sebuah tahapan kehidupan. Menikah itu ibadah. Yang namanya ibadah, ga siap ya harus disiapin, ga khusyu ya harus dibuat khusyu…”.

Uh, dalemmmm…

Sampai kini pun, kadang aku masih merasa tak siap. Apalagi ego-ku yang demikian besar sepertinya agak sulit menerima bahwa kini posisi kapten kapal telah berpindah tangan pada seorang laki-laki yang belum kukenal seutuhnya. Aku tak boleh lagi mengendalikan kapal ini tanpa izinnya.

Tapi satu hal yang aku tahu pasti, aku tak lagi belajar mencintai laki-laki ini. Karena ia telah berhasil membuatku jatuh cinta pada akhirnya. Namun, masih banyak pelajaran lain menanti, dengan ujian yang semakin berat.

Persiapan, meluruskan niat dan mengkhusyu’kan diri dalam ibadah itu memang harus terus dilakukan sepanjang hayat. Termasuk dalam menikah.

Betul?

(Ah, siapalah saya, berani-beraninya menggurui para pembaca tentang masalah pernikahan ini…)

 
5 Comments

Posted by on December 7, 2011 in Uncategorized

 

Wisata Ngos-ngosan ke Kalibiru

(Ahaaayyy… Lama nian ini blog ga diurus… *bersih-bersih, nyapu, ngepel…)

Ngomong-ngomong… Ada yang tahu Kalibiru?

Aku nemu tempat ini lewat bisikan Mbah Gugel. Ceritanya, akhir Maret kemaren, ada tamu-tamu keren dari Batam yang salah satu rencananya selama menjejakkan kaki di Pulau Jawa adalah mengunjungi Jogja. Maka, sebagai satu-satunya panitia penyambutan seksi jalan-jalan, aku kasak-kusuk dengan Si Mbah Gugel beberapa hari, mencari-cari alternatif piknik yang oke selama sehari penuh. Lalu, didapatlah penampakan alamat ini.

Dengan gambar-gambar meyakinkan ditambah keterangan-keterangan dari beberapa blogger yang menjadi saksi hidup rayuan pemandangan Perbukitan Menoreh yang kesannya romantis, tanpa pikir panjang, aku langsung memasukkan Kalibiru ke dalam daftar. Karena letaknya di Kulonprogo, aku menambahkan Pantai Glagah di bawahnya. Sounds perfect. Pagi-pagi menghirup udara segar perbukitan hingga makan siang, sorenya menyaksikan keindahan pantai.

A simple plan…

Kenyataannya? Hahahahaha… Aku pengen ketawa ngakak sekaligus jengkel kalo inget acara jalan-jalannya yang nyaris berantakan…

Pertama, sopir dari mobil yang kusewa ga pernah ke Kalibiru. Untungnya Mas Sopir yang masih muda dan begitu sopan ini tahu jalan menuju Waduk Sermo (karena Kalibiru memang terletak di atas waduk ini). Pas lewat waduk yang indah, damai, tentram dan sentosa sih, kita pada hepi… Begitu liat tanda panah kecil bertuliskan ‘kalibiru’ menuju jalan kecil yang tanjakannya na’udzubillah, barulah kami mulai bertanya-tanya… Ini wisatanya kayak apaan ya? Yang kubayangin semula sih wisata outbond kayak di Katumiri, Bandung (muuph, ga nemu link-nya). Katumiri juga terletak di dataran tinggi Cihanjuang, sebuah tempat wisata yang ga cuma nawarin berbagai fasilitas outbond kayak flying fox, high rope, hingga Gocar, tapi juga ada track hiking menuju sebuah air terjun di lembah bukitnya. Asik lah, pokoknya… Ponakan-ponakanku aja sampe susah diajak pulang, hehehe…

Nah, setelah melalui jalan kecil-nanjak-berliku, mobil tiba-tiba parkir di halaman sebuah rumah dengan baligo besar bertuliskan… (eh, apa, ya, tulisannya, We? :D )… kalo ga salah “Selamat datang di kawasan wisata Kalibiru bla… bla.. bla…”. Kami clingak-clinguk, koq sepiiii???

Empunya rumah (yang ternyata pondokan untuk menginap bagi para wisatawan) memberitahu kami untuk menyusuri jalan menanjak yang sukses membuat kami pada melongo… Habisnya, kami para cewek udah berdandan imut dengan flat shoes buat piknik, bukan buat hiking (well, aku malah pake sendal jepit, hihihi…).

Setelah ngos-ngosan (udah lama banget ga trekking, hiksss… :( ), jalan lalu menyempit menjadi jalur setapak tanah dengan baluran semen (apa keramik, ya? Lupa :D ), di tengahnya… Kemudian menurun tajam berupa anak-anak tangga berkelok… Antara kehabisan nafas sampe pengen ketawa guling-guling, kami akhirnya memutuskan berhenti saat anak-anak tangga berubah kembali menjadi jalur setapak tanah yang tak bersemen karena sepertinya jalan ini kayak di mimpi (baca: bikin capek tapi ga ada ujungnya, hahaha…).

Dan yang nyebelin, di sini juga ga ada restoran, hihihi… Jadi, terpaksalah itu gembolan berisi makanan dan minuman buat 7 orang ikut dipanggul ke atas bukit :D

Terusss… Flying Fox-nya mana yaaa?

Berhubung belom pada sarapan dan ga ada yang jualan makanan, bekal sate Ponorogo jadi laris manis... ^_^

Tali di atas makhluk-makhluk imut ini ternyata buat luncuran flying fox... Tapi fox-nya udah kabur kali... :D

"Wisata ke Desa," kata Dek Daiva dengan polosnya, haha...

Tante Ika, buncis dulu dunk... (lagi ngos-ngosan dipaksa nyengir sama fotografer :p)

Jadiiiii… Kalibiru itu memang wisata hiking, gituuuu… Koq ga ada yang ngobrol, sihhhh??? Hahahaha…

Tapi, pemandangan dari atas bukit memang indaaaaaaaahhhh… banget. Waduk Sermo yang gede itu jadi keliatan imut diantara pepohonan hijau.

Nah, kalo sahabat sekalian berencana ke sini, lebih asik naik motor kayanya (kalo bawa mobil, pastikan sopirnya ga panik duluan liat jalannya, hahaha…). Jangan lupa juga bawa sepatu olahraga, bekal makanan-minuman, dan kamera. Lebih oke lagi, kalo bawa bekal piknik dan tikar… Jadi makan-makannya bisa di samping danau yang menenteramkan jiwa, hehe…

Sekian curhat-curhatan kali ini… *nerusin bersih-bersih dulu ah…

Meskipun capek, teteup senyum dunkkk...^_^

NB. Makaci ya Weee, udah minjemin futu-futunya… :-*

 
32 Comments

Posted by on May 30, 2011 in jalan-jalan

 

Award Yang Tertunda

Kalo ada lomba blogger paling ga tau diri, mungkin aku bakalan masuk nominasi… Udah tiga orang blogger baik hati yang memberiku award, tapi baru diposting sekarang… Muuph yaaa… Dan terima kasih banyak udah mempercayakan award-award ini kepadaku… *membungkuk takzim…

Pertama, award dari Andinoeg alias Sang Penjelajah Malam

Lalu award dari Dek Anla Arinda

Dan terakhir award dari Mabruri

Kedua award terakhir, ternyata pe-ernya sama… Diminta menuliskan minimal delapan hal tentang diri sendiri. Hahaha… ya ampyunnn, aku menampilkan page About Marinouy aja awalnya ga niat banget :D Tapi, baiklah, untuk menghormati blogger-blogger ganteng (dan cantik – khusus dek Anla :D ) yang udah ngasih award di atas, aku tambahkan lagi beberapa hal tentangku.

  1. Aku maniak warna ungu. Dan biasanya, aku bereaksi negatif sama siapapun yang mengatakan ungu itu warna janda atau warna gay atau hal-hal jelek lainnya. Reaksinya dari yang paling ringan (manyun) hingga yang parah (ngamuk :P ). Bagiku, ejekan itu jadi terdengar seperti mendo’akan. So, berhenti dunk ngejek-ngejek warna ungu… Ini kan cuma masalah selera aja…
  2. Suaraku mirip anak kecil (ga percaya? Telpon aja :D ). Yang paling parah, pernah suaraku direkam oleh seorang temen kosku di hape-nya. Lalu suatu hari, tanpa sengaja rekaman itu didengar oleh temannya (yang ga kukenal), temennya itu langsung bertanya dengan polosnya, “Ang (panggilan untuk Anggraini — temenku), ini suara kucing, ya?”. Kontan aja semuanya pada ketawa ngakak. Sebeeeelll…!!!
  3. Suka kucing dan pernah berminat memelihara kucing dengan sungguh-sungguh. Tapi, saat aku satu kontrakan dengan seorang Mbak dan dia memelihara kucing di dalam kontrakan kami, aku jadi berpikir ulang. Kenapa? Hmmm… perlu satu postingan khusus kayaknya… :D
  4. Jijik sama kecoak. Lebih be-te lagi kalo kecoaknya terbang. Kalo ada kecoak dalam radius 50 meter, aku bisa ngenalin baunya yang bikin empet itu. Dan kalo ada kecoak berhasil “menyentuhku” (iiiiihhh… *merinding), biasanya aku bakalan gatel-gatel dan bentol-bentol dari ujung kepala sampe ujung kaki.
  5. Lebih suka tidur dengan lampu menyala. Bukan, bukan karena takut hantu, tapi karena serangga itu tadi. Kalo ada kecoak berhasil masuk kamar, aku bisa mengusirnya dengan lebih mudah dalam keadaan terang (atau membunuhnya kalo dia lagi sial).
  6. Berbeda dengan kebanyakan orang, aku sama sekali ga memiliki ketergantungan pada guling. Aku malah ketergantungan sama selimut. Meskipun di tempat-tempat hangat seperti Cirebon dan Jogja, aku teteup tidur pake selimut. Ga perlu selimut khusus, sih, sarung atau pashmina-nya Mama juga jadi :D yang penting hangat…
  7. Ga suka masakan berbahan ikan air tawar dan ga doyan sayur asem. Ini rada mengherankan karena keduanya ga bisa dilepaskan dari menu masakan Sunda. Dan karena Papaku juga ga doyan sayur asem, masakan satu ini jarang muncul di meja makan rumah orang tuaku :)
  8. Jarang dikenali sebagai orang Sunda. Kebanyakan mengira aku orang Jawa atau Sulawesi… *geleng-geleng kelapa… Pernah ngotot-ngototan sama sopir angkot di Bandung hanya gara-gara ini, hahaha… *kurang kerjaan…

Dengan berakhirnya nomor delapan di atas, maka langkah berikutnya adalah mengumumkan blogger yang bakalan ketiban durian award berikutnya. Hmmm…  harus delapan blogger yang baru dikenal ya? Baiklah, kalo begitu, aku hadiahkan padaaaa…

  1. Anak Tapsel
  2. Dieka
  3. Dheeasy
  4. Mebigina
  5. Dek Fi
  6. Elsa (dan Baby Dija kalo udah ngerti award sih, hehehe… :P )
  7. Akbar
  8. Semua yang komen di postingan ini :D (silakan diborong ketiganya yaaa…)

Sekali lagi terima kasih banyak untuk award-awardnya… Mudah-mudahan silaturahim kita di dunia maya semakin terjalin erat dan makin semangat menulis (fiuhhh… :P ).

Salam hangat dari Jogja… ^_^

 
62 Comments

Posted by on March 24, 2011 in Uncategorized

 

Ke Kawaru Yukkk…

Mungkin belum banyak yang mengenal Pantai Kawaru (ada juga yang menuliskannya dengan ‘Kwaru’) di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pantai ini sebenarnya masih ‘tetanggaan’ dengan Parangtritis dan Pantai Depok yang lebih dulu ngetop.

Tadinya, aku dan temanku, Achy, agak ragu untuk pergi berdua aja karena kami benar-benar tak tahu jalan menuju ke sana. Berbekal wangsit dari Mbah Gugel dan secarik peta yang digambar sederhana (tapi ternyata cukup komplit) oleh saudaranya Achy, kami pun nekat bermotor-ria ke sana Hari Minggu pagi (Alhamdulillah cuaca cukup cerah).

Ternyata jalannya ga sesulit yang dibayangkan. Kami terlebih dahulu melaju menuju pertemuan Ring Road Selatan dengan Jalan Raya Bantul (bisa diliat di gugelmap). Dari Jalan Bantul, jalannya tinggal luruuuus aja ke selatan (tapi, jauh banget emang, siap-siap bemper jadi rata, deh… :D ).

Melewati banyak perempatan dan pertigaan utama (di antaranya perempatan Kasongan, Pemda Bantul dan Srandakan), kami juga dibantu papan petunjuk jalan yang terdapat di setiap persimpangan. Kalau sudah melewati pertigaan Ganjuran, ikuti Jalan menuju Pantai Samas. Namun, hati-hati, setelah itu akan ada pertigaan menuju Pantai Pandan Simo. Nah, buat yang ingin ke Pantai Kawaru, ikuti belokan menuju Pantai Pandan Simo.

Dari pertigaan menuju Pantai Pandan Simo, lagi-lagi, kami tinggal mengikuti jalan. Namun, jalan yang relatif kecil sepertinya ga akan muat dilewati bis berukuran besar. Di depan kami ada tiga buah bis berukuran sedang (kira-kira isinya 27 seat ) – sepertinya sih rombongan dari Purworejo. Begitu di belokan ketemu pick-up jenis Panther, si Panther terpaksa mundur mengalah dulu karena jalannya terlalu sempit.

Nah, di sebuah perempatan, akan ada petunjuk menuju pantai.  Petunjuk jalannya agak kecil, kalo ngebut ga bakalan ngeh deh… (lagipula kebut-kebutan bahaya juga kan…). Ikuti terus jalan ini pelan-pelan. Nanti juga bakal ada petunjuk jalan lagi menuju berbagai Pantai yang ada di sana.Kami, tentu saja terlebih dahulu menuju Pantai Kawaru.

Asiknya di Kawaru, banyak pohon jenis Cemara Udang yang ditanam di pinggir pantai untuk menahan abrasi, jadi suasananya teduh banget. Pantai ini ramai dikunjungi keluarga-keluarga yang menggelar tikar di bawah cemara, bekal makanan dibuka, bercanda akrab sambil menikmati deburan ombak, hmmm…

Achy berpose depan pepohonan Cemara Udang yang bikin adem...

Karena datang agak pagi, sekitar jam 10, beberapa perahu nelayan ada yang baru saja kembali membawa berbagai jenis ikan. Bisa langsung ditawar di situ, lho… Tapi kalo ingin lebih lengkap lagi, di sana juga ada Tempat Pelelangan Ikan. Asal pinter nawar aja…

Dan kayaknya ga afdhol kalo ke Kawaru ga nyobain naik ATV. Tenang aja, mengendarainya cukup mudah koq… Anak kecil aja  bisa :P Dan jalur yang dilalui juga teduh. Sewa ATV ini harganya Rp 25.000,00 untuk pemakaian 15 menit.

seru lohhh...

Karena ga bawa bekal makan siang (emang udah niat mau makan seafood segar di situ sih…), kami memesan cumi saus tiram dan udang goreng tepung dari salah satu deretan warung di sana. Sayangnya, si Mbak yang masak seleranya manis, bumbu saus tiramnya terlalu encer dan kurang klop sama lidahku yang lebih suka asin. Jadinya aku lebih sibuk ngabisin udang goreng, hehe…

Setelah shalat Dhuhur, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Goa Cemara. Di sini ga ada goa. Dinamakan begitu, karena pepohonan Cemara Udangnya tumbuh rapat, jadi membentuk goa. Lucu juga, kesannya jadi ada hutan kecil di pinggir pantai… Di sini airnya lebih kehijauan dan bersih. Kalo Pantai Kawaru sih airnya coklat dan di pasirnya banyak sampah… :(

di belakang Achy, jalan teduh menuju pantai Goa Cemara

Mungkin karena pantai ini lebih sepi dan lebih “remang-remang” (halah… soalnya pepohonannya kan rapat…), di pantai ini banyak anak muda yang… well… pacaran… Mereka bercengkerama sambil nangkring di cabang-cabang pohon yang cukup rendah… Cieee… Asoy banget dah… Hahaha… :D

Di sebelah Pantai Goa Cemara, ada lagi Pantai Pandan Sari… Di sini ga banyak yang bisa dilihat. Hanya ada mercu suar (salah satu benda favoritku di muka bumi karena bentuknya yang dramatis :P ) dan beberapa petak kebun buah naga.

Pantai terakhir yang kami kunjungi sebelum pulang adalah Pantai Samas. Sepertinya, Pantai ini dulu cukup ramai (terlihat dari banyaknya lapak dan sisa-sisa sampah makanan), namun saat kami ke sana suasananya benar-benar sepi… Beberapa lapak makanan di pinggir pantai tampak kotor tak terurus. Apa mungkin jadi kalah pamor sama Kawaru ya?

Karena sore telah menjelang dan cuaca juga mulai mendung, kami pun pulang menuju Sleman… *penting gitu ya disebutin :D Jalan pulang lebih mudah, soalnya dari Pantai Samas tinggal lurus aja ke arah utara. Ga terasa, dalam waktu kira-kira 90 menit, udah nyampe kos lagi…

Sekarang tinggal rajin luluran buat ngilangin gosongnya, hahaha…

Update: ternyata di tiket masuk, ditulisnya Pantai Kuwaru :)

 
44 Comments

Posted by on March 9, 2011 in jalan-jalan

 

Up and Down

Do’a akhir tahunku adalah menginginkan adanya perubahan. Ke arah yang lebih baik, tentunya. Tak terpikirkan seperti apa. Hanya saja, aku ingin pindah dari Kota Udang. Ke mana? Tak tahu juga…

Setelah Dede Harun – (the one and only) my partner in crime – mengajukan resign pertengahan Desember lalu dan pindah ke Jakarta, aku sempat down. Tiba-tiba saja meja sebelahku kosong, ga ada yang bisa digangguin lagi, ga bisa manja-manja dan pundung teu puguh lagi, hehe… Dan tiba-tiba saja aku harus mengurus segala tugas yang tertunda sendiri.

Niatku sebenarnya resign bersamaan dengan Harun :) Abisnya, dulu, kami diterima di sini juga hanya bertaut beberapa hari… Kan ceritanya kompak gitu deh… Aku sampai sempat bilang, kalo dia resign duluan aku mw nangis… (Tapi pas dia pamit, aku ternyata ikut happy… Semoga rezekinya di sana lebih baik dan berkah. Amin.)

Di sela-sela membantu sebuah event mahasiswa, aku mulai rajin bergabung dengan dunia jobseeker, sampe tiap hari ngintipin kaskus :D Sempat was-was, tak terbayangkan jadi pengangguran… Secara, pekerjaanku saat itu sungguh nyaman, terlalu nyaman malah. Berkutat dengan kegiatan yang kusukai, bisa jalan-jalan gratis, ketemu para pembicara ahli yang hebat, teman-teman yang asik, well-paid pula. Tapi, semuanya mulai membosankan…

Need new challenge adalah alasan basiku setiap mengisi formulir lamaran online di bagian ‘The reason you leave current job’. Sedikit belagu, ya, tapi ada benarnya koq.

Dan begitulah Allah mengabulkan do’aku. Begitu laporan event yang terakhir kuselesaikan, aku dikenalkan juniorku di Jogja dengan seorang temannya. Dan ia menawariku pekerjaan. Ah, ternyata, timing-nya telah diatur oleh-Nya sedemikian rupa… Sempat ga pe-de karena posisinya benar-benar berbeda, bukan lagi tukang sablon seperti dulu :P But, hey, u said u need new challenge? Hehe… *termakan omongan sendiri…

Jadi, hari ini aku duduk di ruangan yang baru, meja yang asing, dengan rekan-rekan yang ramah dan jenaka. Tugas pertamaku adalah belajar. Mempelajari proyek yang sedang berlangsung, mendownload software-software yang udah kutinggalkan sejak wisuda :P   dan di depanku terbentang buku english setebel bantal tentang application development untuk iPad :D

Astaga… Si tukang sablon sedang belajar jadi programmer… Walaupun, seperti bos baruku bilang, “Aku ga  pengen kamu jadi programmer dan terjebak dengan hal-hal teknis…”.

Aku belum mengerti rencana si bos…

Juga belum memahami sepenuhnya rencana-Nya…

Tapi, aku tahu, aku tengah berada dalam perubahan menuju ke arah yang lebih baik… Insya Allah.

Jadi, apa kabar sahabatku semuanya? :)

 
27 Comments

Posted by on February 16, 2011 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.