Kalimat-kalimat awal saat aku pulang ke rumah adalah:
“Eh, koq gendut lagi?” (Komentar kakak nomor 3)
“Kayak lagi hamil, ya?” (komentar kakak nomor 2)
“Aduh, gendut banget sih, jadi sempit nih…” (komentar ponakan nomor 1) –> yang ini halal dijitak
Berat badanku memang terbiasa turun naik dalam waktu relatif singkat… Dalam setahun, bisa jadi proses kurus-ndut-kurus-ndut lagi terjadi berulang-ulang hingga aku nyaris tak ambil pusing lagi. Itu sebabnya, aku selalu membeli baju dua nomor lebih besar dan sedia rok berpinggang karet di lemari untuk antisipasi. Baru ngerem kalo baju udah mulai ga muat semua… Mending diet daripada beli baju-baju baru, kan? Hehe…
Tapi… lebaran… di Bandung… diet?
Ohmygawd! Sengsara amat!
Jadi, meski kali ini angka di timbangan mencapai rekor terbesar (ewh!), aku tetap hepi-hepi menjadi omnivora
Owh, ayolah! Dengan begitu banyaknya makanan enak plus hawa dingin musim hujan di kampung halaman, sungguh manusiawi kalo aku berusaha menimbun lemak untuk menghangatkan badan, hahaha…
Dan inilah tempat-tempat penggemukan diri kesukaanku (selain di rumah, tentunya!):
1. Prima Rasa

oleh-oleh-bandung.blogspot.com

oleh-oleh-bandung.blogspot.com
Kebanyakan orang mungkin lebih mengenal Kartika Sari untuk pisang bollen dan Amanda untuk brownies kukus. Tapi, di toko ini, menurutku kedua makanan khas itu lebih enak (ini murni soal selera, sih). Aku biasanya pergi ke Prima Rasa Jl. Kemuning karena letaknya paling mudah dijangkau dari rumah. Di Prima Rasa, selain membeli brownies dan bollen apel favorit keluarga, aku juga biasa membeli picnic roll (pastry besar berisi daging (ayam/sapi) cincang, keju dan telur rebus).
(Ssssttt… OOT, di seberang Prima Rasa Kemuning, ada toko pernak-pernik anak yang cute banget! Namanya Bestcare. Penampakan luarnya memang eksklusif banget, tapi harganya ternyata rasional koq. Apalagi buat ibu-ibu (dan calon ibu sepertiku, hihihi…) yang senang dengan gaya interior American country, wuiiiiii… bakalan betah, deh, ngoprek di sini. Selimut bayi quilting yang di Paris van Java harganya hingga lewat sejuta, di sini lebih murah, lho!)
2. Cizz Cake

en.petitchef.com
Surganya cheese cake ya di sini. Aduh, pokoknya ga usah mikirin lemak deh, kalo ke sini. Tokonya kecil dan nyempil di Jalan Laswi, beberapa meter dari perempatan A.Yani-Riau. Favorit kakakku tiramisu. Aku kemarin nyobain mousse cokelat, opera cake dan cookies and cream. Lembut dan yummm… ^_^
Selain membeli satu loyang berbagai ukuran, kita juga bisa membeli potongan (biar bisa mencoba berbagai rasa). Satu potongnya dipatok Rp 16.000,00.
3. Batagor

bandungbox.com
Kayaknya ga afdol kalo ke Bandung ga makan batagor. Yang terkenal batagor Riri di Jl. Burangrang, tapi aku lebih suka ke Batagor Kingsley di Jalan Veteran. Biasanya, aku pesan batagor kuah. Jangan khawatir, semuanya enak koq (termasuk bakso-yamin-asin kesukaan Papa). Di sini juga dijual berbagai makanan ringan kriuk-kriuk buat oleh-oleh. Kalo ingin dibawa ke luar kota, batagor akan digoreng setengah matang. Sampe kota tujuan, baru digoreng hingga matang dan garing, dimakan panas-panas… *ngences*
4. Mi Kocok

buburayamqu.blogspot.com
Secara pribadi, aku ga terbilang doyan banget sama mi+toge berkuah dilengkapi jeroan ini. Ini makanan kesukaan kakakku, tiap ke Bandung pasti yang pertama dicariin mi kocok. Sebenarnya yang lewat depan rumah juga enak, tapi lebih mantap yang di kaki lima Pasar Baru (cuma suka lupa tempatnya… soalnya sekarang yang jualan mi kocok di situ bejibun). Kalo ogah yang kaki limaan, ada kaki enam (hehe… becanda…) di Jalan Sunda. Masih banyak daftar lainnya karena mi ini ngetop banget.
Oh, ya, waktu pertama pindah ke Cirebon, aku pikir mi koclok Cirebon sama dengan mi kocok Bandung. Ternyata beda, sodara-sodara! Mi koclok Cirebon kuahnya bersantan dan mirip soto.
5. Bakso Atom Cendana

rayyan.wordpress.com
Terletak di Jalan Cendana yang rindang, rumah makan ini sejuk dan asri. Depannya mungil, dengan jejeran bermacam-macam bakso besar dengan isi aneka rasa (kalo ga salah 10 macam, deh). Coba tahunya, enak lho! Untuk ukuran perut Mama dan para Teteh yang mungil (beneran, sekarang aku jadi perempuan ‘terbesar’ di keluargaku
), satu buah bakso di sini sudah cukup mengenyangkan. Buatku yang berusus 17 jari (haha!), jelas harus lebih dari itu.
Di sini, kita mengambil sendiri bakso dan kelengkapan yang kita inginkan (self-service). Tapi, kalo kesulitan, petugasnya sigap membantu dan ramah koq! Bihunnya sudah termasuk charge, jadi boleh ambil sebanyak-banyaknya. Oh, ya, di sini tidak ada mi kuning.
Duh, ngomongin makanan mulu, laper ah… Padahal udah harus puasa sunnah Syawal…
Sebenarnya daftarnya masih panjang, bisa-bisa tujuh hari tujuh malam ngomongin makanan melulu, hahaha…
Nah, sekarang, setelah kembali ke Cirebon, waktunya mengencangkan ikat pinggang lagi…
PS. Btw, tau ga, kalo mau nanyain tempat makan ngetop terbaru di Bandung, jangan tanya sama orang Bandung asli. Tanya sama orang Jakarta karena mereka lebih tau! Ini serius!