RSS

Monthly Archives: September 2010

Happy Birthday, Dani! :)

Waw, banyak orang-orang hebat yang ultah bulan ini… (yang ge-er ngacung!!!) :D

Yang satu ini juga nih…

Siapa coba???
Yupz, tak lain dan tak bukan, pujaan hatiku yang prestasinya ga kalah kinclong sama meja makan baru: Dani Pedrosa.

imuuut ^_^

Brondong kelahiran Barcelona, Spanyol ini sedang merayakan ulang tahunnya di Jepang karena ia tengah bersiap membela tim Repsol-Honda di sirkuit Motegi tanggal 3 Oktober 2010 mendatang. Poinnya memang masih terpaut 56 angka dari rival senegaranya Jorge Lorenzo yang kini merajai klasemen sementara.

Fun facts about Dani Pedrosa:
- Tingginya cuma beda 3 cm sama aku dengan berat hampir sama :D
- Mendapatkan motor pertamanya, Italjet 50, di usia 4 tahun.
- Mendapatkan “motor balap” pertama, sebuah replika Kawasaki di usia 6 tahun.
- Mulai terjun ke dunia balap motor di usia 9 tahun, di Spanish Minibike Championship.
- Juara dunia Grand Prix 125 cc di usia 18 tahun.
- Saat bergabung dengan tim Repsol Honda di MotoGP tahun 2006, ia dikritik karena badannya yang kecil dinilai ga akan kuat meng-handle motor balap yang gede dan berat ituh. But he proved them wrong! Biar kucil tapi edun! :D
- Dan dia single, dengan asumsi janur kuning spanyolnya belom melengkung ;)
- Kalo lagi tegang, sebelom start boro-boro bakalan nyengir ke kamera, dia bakalan bersikap galak :D

Saat orang-orang yakin bahwa Lorenzo takkan terkejar lagi (istilahnya waktu itu, dia ga ikutan race dua kali aja poinnya belom bisa dikalahkan), Pedrosa tak pantang menyerah. Okay, beberapa orang yang sinis mungkin menyebutkan bahwa faktor cederanya Rossi ikut menyederhanakan persaingan. Tapi, teteup… saat orang-orang meremehkan, dia semakin terpacu untuk mengejar ketertinggalan. Dan kini, dari lima race yang tersisa musim ini, peluang juara dunia itu semakin terbuka. Itulah yang aku kagumi darinya. No matter what people say, just go get your victory!

Mudah-mudahan aja trofi juara dunia itu menjadi hadiah ulang tahun untuk usaha kerasnya tahun ini! Semoga ^_^

 
28 Comments

Posted by on September 29, 2010 in Uncategorized

 

Cerita Meja Makan

Semua berawal dari Carrie Bradshaw.

Karena bagiku ia mewakili sebagian gambaran impian perempuan metropolis yang sukses: kolumnis surat kabar terkenal (yang kemudian bukunya best-seller) sekaligus fashionista yang tak takut makan cupcakes :) . Meskipun cerita cintanya tak semulus jalan tol Bakrie :D

Aku selalu suka cerita yang tokoh utamanya seorang penulis. Dan anehnya, kalimat sederhana Carrie Bradshaw di salah satu versi filmnya yang terpatri kuat di otakku adalah: “Aku membutuhkan meja tulis yang bagus!” :) .

Carrie dan apartemennya

Konyol?

Mungkin! Tapi, dia benar. Kurasa menginginkan meja tulis bagus adalah sesuatu yang wajar bagi seorang penulis, uhmm… well… untuk kasusku… calon penulis :D :D

Karena ingin memiliki sebuah meja tulis (yang besar, bagus dan harganya tak terlalu mahal) inilah, aku meminta Dede menemaniku untuk keluar masuk toko furnitur sore itu. Sayangnya, meja tulis dengan budget patokanku modelnya cenderung menyedihkan. Meja sederhana dari kayu multipleks bongkar-pasang dengan warna monoton (tau, kan, serupa tiruan Olym***).

Setelah kecewa karena tak menemukan yang pas di hati, dalam perjalanan pulang, aku melihat toko furnitur dekat kantor yang beberapa waktu sudah tutup karena dikabarkan pindah ke tempat lain. Toko itu buka kembali dan rupanya sedang mengadakan sale untuk menghabiskan stok barang yang sudah terlanjur dirakit (untuk display).

Petugasnya menunjukkan sebuah meja ukuran sedang, kokoh dan berwarna gelap. Meskipun sama-sama kayu multipleks, tapi modelnya tak pasaran. Harganya sedikit di atas budget. Sebenarnya tak masalah kalau saja barang ini tidak memiliki cacat (namanya juga obralan) yang tak bisa dihilangkan.

Aku naksir sebuah lemari belajar lebar berwarna putih dan biru yang cute. Tapi, sedikit sentuhan corak anak-anak (karena sepertinya didesain untuk anak sekolahan ABG) membuatku pikir-pikir. Lucu, sih, lucu… Lalu aku akan semakin dituduh immature… Nggak, deh…

Setelah membuat dua petugasnya puyeng dengan keinginanku yang abstrak :D , akhirnya aku memutuskan berjalan mengitari toko hingga ke bagian display dapur di bagian belakang yang agak tersembunyi. Dan di sanalah ia… ngejugruk di sebuah sudut. Aku membaca harganya dan…

“Mas, aku ambil ini, deh….”

Dede yang mengantarku agak melongo.

“Meja makan?” Tanyanya bingung.

“Meja ini kan bisa untuk segalanya. Buat makan, nulis, ngerumpi sama Mimi… Aku bahkan bisa nulis sambil minum kopi.” Harganya memang jauh berkali lipat dari budget semula buat beli meja tulis. Tapi kursi dan meja makan dengan harga bagus? I definitely need it!

Setelah mengurus pembayaran, kami pun pulang.

Dan di kamar…

Aku bengong…. Tiba-tiba panik mulai melanda….

KAMU INI APA-APAAN, SIH? NGAPAIN BELI MEJA MAKAN SEGALA? SAMPAI MENGURAS TABUNGAN PULA? KATANYA AKHIR TAHUN PENGEN LIBURAN?

Huhuhu… Aku bukan Carrie Bradshaw, tapi Rebecca Bloomwood yang shophaholic!

Apa dibatalin aja, ya? Mumpung barangnya belum dikirim…. Mungkin bisa ditukar dengan meja makan lain tanpa kursi (yang bentuknya bulat dari kaca) dengan harga lebih murah. Setelah resah-gelisah dan mulai lapar, aku tiba-tiba menyadari satu hal…

“Ma, aku stress!” Laporku cemas, teringat nafsu makanku yang menggila dan keputusanku di toko furnitur tadi.

“Kenapa?” Tanya Mama di ujung telepon sana, hampir terdengar geli (btw, percakapan ini terjadi dalam Sundanese medok dan sudah kuterjemahkan dengan ilmu kira-kira :D ).

“Aku ngabisin banyak uang hari ini….”

“Nggak apa-apa. Nanti kan bisa diganti,” kata Mama dengan ketenangan luar biasa. Kadang aku kagum dengan ketidak-terikatan Mama akan materi. Prinsip ‘materi-penting-tapi-bukan-yang-terpenting dan rejeki Allah itu Maha Luas’ benar-benar diterapkannya dengan baik. Aku harus banyak belajar lagi!

“Tapi, aku beli satu set kursi-meja makan…,” kataku takut-takut, bersiap dengan kehebohan Mama dengan ‘apa-apaan? Ngapain beli itu? Nanti kalo pindah mau ditaro di mana?’. Yang terjadi malah membuatku heran…

“Oh, baguslah…. Setidaknya uangnya bermanfaat….”

*bengong*

Mama kembali meyakinkanku bahwa itu ‘tidak apa-apa’ dan aku tak seharusnya khawatir. Pun waktu Bu Eko, sahabatku, aku beritahu, mulanya ia harus menahan diri untuk nggak ngakak. Lalu berkata dengan bijak bahwa ada masanya seorang perempuan berhak membeli barang yang diinginkannya dari uang hasil keringatnya sendiri. Membuatku kembali tenang dan merasa normal.

Lagipula… punya meja makan sendiri ternyata memang menyenangkan! ^_^

masih kinclong :D

sambil duduk bisa ngintipin teras dan taman

 
26 Comments

Posted by on September 27, 2010 in Uncategorized

 

Perbaikan Gizi :)

Kalimat-kalimat awal saat aku pulang ke rumah adalah:
“Eh, koq gendut lagi?” (Komentar kakak nomor 3)
“Kayak lagi hamil, ya?” (komentar kakak nomor 2)
“Aduh, gendut banget sih, jadi sempit nih…” (komentar ponakan nomor 1) –> yang ini halal dijitak :D

Berat badanku memang terbiasa turun naik dalam waktu relatif singkat… Dalam setahun, bisa jadi proses kurus-ndut-kurus-ndut lagi terjadi berulang-ulang hingga aku nyaris tak ambil pusing lagi. Itu sebabnya, aku selalu membeli baju dua nomor lebih besar dan sedia rok berpinggang karet di lemari untuk antisipasi. Baru ngerem kalo baju udah mulai ga muat semua… Mending diet daripada beli baju-baju baru, kan? Hehe…

Tapi… lebaran… di Bandung… diet?

Ohmygawd! Sengsara amat! :D

Jadi, meski kali ini angka di timbangan mencapai rekor terbesar (ewh!), aku tetap hepi-hepi menjadi omnivora :D

Owh, ayolah! Dengan begitu banyaknya makanan enak plus hawa dingin musim hujan di kampung halaman, sungguh manusiawi kalo aku berusaha menimbun lemak untuk menghangatkan badan, hahaha…

Dan inilah tempat-tempat penggemukan diri kesukaanku (selain di rumah, tentunya!):

1. Prima Rasa

oleh-oleh-bandung.blogspot.com

oleh-oleh-bandung.blogspot.com

Kebanyakan orang mungkin lebih mengenal Kartika Sari untuk pisang bollen dan Amanda untuk brownies kukus. Tapi, di toko ini, menurutku kedua makanan khas itu lebih enak (ini murni soal selera, sih). Aku biasanya pergi ke Prima Rasa Jl. Kemuning karena letaknya paling mudah dijangkau dari rumah. Di Prima Rasa, selain membeli brownies dan bollen apel favorit keluarga, aku juga biasa membeli picnic roll (pastry besar berisi daging (ayam/sapi) cincang, keju dan telur rebus).

(Ssssttt… OOT, di seberang Prima Rasa Kemuning, ada toko pernak-pernik anak yang cute banget! Namanya Bestcare. Penampakan luarnya memang eksklusif banget, tapi harganya ternyata rasional koq. Apalagi buat ibu-ibu (dan calon ibu sepertiku, hihihi…) yang senang dengan gaya interior American country, wuiiiiii… bakalan betah, deh, ngoprek di sini. Selimut bayi quilting yang di Paris van Java harganya hingga lewat sejuta, di sini lebih murah, lho!)

2. Cizz Cake

en.petitchef.com

Surganya cheese cake ya di sini. Aduh, pokoknya ga usah mikirin lemak deh, kalo ke sini. Tokonya kecil dan nyempil di Jalan Laswi, beberapa meter dari perempatan A.Yani-Riau. Favorit kakakku tiramisu. Aku kemarin nyobain mousse cokelat, opera cake dan cookies and cream. Lembut dan yummm… ^_^
Selain membeli satu loyang berbagai ukuran, kita juga bisa membeli potongan (biar bisa mencoba berbagai rasa). Satu potongnya dipatok Rp 16.000,00.

3. Batagor

bandungbox.com

Kayaknya ga afdol kalo ke Bandung ga makan batagor. Yang terkenal batagor Riri di Jl. Burangrang, tapi aku lebih suka ke Batagor Kingsley di Jalan Veteran. Biasanya, aku pesan batagor kuah. Jangan khawatir, semuanya enak koq (termasuk bakso-yamin-asin kesukaan Papa). Di sini juga dijual berbagai makanan ringan kriuk-kriuk buat oleh-oleh. Kalo ingin dibawa ke luar kota, batagor akan digoreng setengah matang. Sampe kota tujuan, baru digoreng hingga matang dan garing, dimakan panas-panas… *ngences* :-P

4. Mi Kocok

buburayamqu.blogspot.com

Secara pribadi, aku ga terbilang doyan banget sama mi+toge berkuah dilengkapi jeroan ini. Ini makanan kesukaan kakakku, tiap ke Bandung pasti yang pertama dicariin mi kocok. Sebenarnya yang lewat depan rumah juga enak, tapi lebih mantap yang di kaki lima Pasar Baru (cuma suka lupa tempatnya… soalnya sekarang yang jualan mi kocok di situ bejibun). Kalo ogah yang kaki limaan, ada kaki enam (hehe… becanda…) di Jalan Sunda. Masih banyak daftar lainnya karena mi ini ngetop banget.

Oh, ya, waktu pertama pindah ke Cirebon, aku pikir mi koclok Cirebon sama dengan mi kocok Bandung. Ternyata beda, sodara-sodara! Mi koclok Cirebon kuahnya bersantan dan mirip soto.

5. Bakso Atom Cendana

rayyan.wordpress.com

Terletak di Jalan Cendana yang rindang, rumah makan ini sejuk dan asri. Depannya mungil, dengan jejeran bermacam-macam bakso besar dengan isi aneka rasa (kalo ga salah 10 macam, deh). Coba tahunya, enak lho! Untuk ukuran perut Mama dan para Teteh yang mungil (beneran, sekarang aku jadi perempuan ‘terbesar’ di keluargaku :D ), satu buah bakso di sini sudah cukup mengenyangkan. Buatku yang berusus 17 jari (haha!), jelas harus lebih dari itu.

Di sini, kita mengambil sendiri bakso dan kelengkapan yang kita inginkan (self-service). Tapi, kalo kesulitan, petugasnya sigap membantu dan ramah koq! Bihunnya sudah termasuk charge, jadi boleh ambil sebanyak-banyaknya. Oh, ya, di sini tidak ada mi kuning.

Duh, ngomongin makanan mulu, laper ah… Padahal udah harus puasa sunnah Syawal…
Sebenarnya daftarnya masih panjang, bisa-bisa tujuh hari tujuh malam ngomongin makanan melulu, hahaha…

Nah, sekarang, setelah kembali ke Cirebon, waktunya mengencangkan ikat pinggang lagi… :)

PS. Btw, tau ga, kalo mau nanyain tempat makan ngetop terbaru di Bandung, jangan tanya sama orang Bandung asli. Tanya sama orang Jakarta karena mereka lebih tau! Ini serius! :-P

 
37 Comments

Posted by on September 15, 2010 in Uncategorized

 

Sebelum Mudik…

Izinkan yang punya blog mengucapkan…

Semoga selepas Ramadhan kita istiqamah menjadi orang yang sungguh-sungguh mencintai-Nya dan saling mengasihi satu sama lain karena-Nya… Amin…

PS. Gambarnya ngedadak bikin, girlie amat ya… :D

 
11 Comments

Posted by on September 8, 2010 in Uncategorized

 

Roti dan Buah

www.vectorstock.com

Gagap bahasa yang menimbulkan kejadian lucu, mungkin sudah banyak diceritakan. Aku tentu saja pernah mengalaminya, terutama di awal-awal kedatanganku ke Jogja. Contohnya, suatu saat, di perjalanan, aku merasa perutku lumayan lapar. Meski begitu, aku tidak terlalu mood untuk menyantap nasi dan lauk-pauk. Maka, aku mampir ke sebuah toko untuk mencari roti. Bagi keluargaku (dan kukira bagi banyak keluarga Sunda lainnya), roti adalah jenis makanan berbahan dasar terigu dan mentega yang adonannya dikembangkan dengan ragi. Padanan kata dalam bahasa Inggrisnya adalah bread.

Yang tidak kuketahui, definisi roti menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah semua jenis makanan yang dibuat dari bahan pokok tepung terigu. Berarti, biskuit, kukis, pie, muffin, cake dan segala jenis kue yang tidak menggunakan ragi pun dikategorikan roti. Salah paham inilah yang membuat lucu.

Kebetulan, roti (bread) yang kumaksud tidak kutemukan di toko itu. Jadi, aku bertanya pada mbak pegawainya. “Ada roti, nggak, Mbak?”

Si Mbak langsung menunjuk ke deretan biskuit dalam berbagai kemasan.

“Eh, bukan, bukan biskuit, tapi roti… yang isinya bisa macam-macam itu lho… roti cokelat, roti keju, susu…,” kataku berharap si Mbak ngeh maksudku. Ternyata ia malah mengerutkan kening.

“Ini, kan?” Katanya menunjuk kembali biscuit cokelat di hadapannya.

“Bukan,” aku mulai garuk-garuk kelapa. “Kadang ada yang isinya kacang ijo,” kataku mulai ga konsen, hihihi… :D

“Oh, ini?” Tanyanya menunjuk bakpia kering. Waduh…. Aku kembali menggeleng.

“Roti, Mbak… Roti… bukan kue… Ada juga yang isinya pisang,” kataku mulai putus asa, teringat roti pisang keju favoritku yang bikin perut makin berkruyuk-kruyuk.

“Ini?” Si Mbaknya malah menyodorkan… keripik pisang!

Aku akhirnya menyerah dan membayar kripik pisang itu buat camilan, hahaha…. Untungnya aku lagi ga pengen pepaya. Kalau aku bilang gedang (dalam bahasa Sunda, gedang artinya pepaya), pasti bakal disodorin pisang juga, kan? Karena gedang dalam Bahasa Jawa berarti pisang.

Para ponakanku yang tinggal di Pekalongan juga pernah membuat Mama bingung dengan penggunaan kata roti ini. Saat mereka merengek, “Eyang, pengen roti…” Mamaku langsung mengambilkan roti manis. Dan para kucrit itu langsung merajuk, “Roti yang itu,” kata mereka sambil menunjuk biskuit dan cake di dalam lemari es. “Itu bukan roti,” kata Mama heran, “Roti tuh yang begini.” (sambil menunjuk roti manisnya). Dikiranya kakakku salah mengajarkan vocabulary pada anak-anaknya, hahaha….

Satu hal lagi yang agak membingungkan bagi orang di luar Sunda, adalah penggunaan kata buah. Bagi kami, kata buah merujuk pada mangga (karena mangga sendiri telah punya arti lain, yaitu ‘silakan’ – sebagai jawaban dari kata ‘punten’). Jadi, kalau aku berkata, “Palay buah”, itu artinya pengen mangga (palay = pengen, buah = mangga), bukan pengen buah dalam arti kata ‘buah’ secara umum, hehehe…

Bingung, kan? :-P

 
25 Comments

Posted by on September 2, 2010 in cerita

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.