Semua berawal dari Carrie Bradshaw.
Karena bagiku ia mewakili sebagian gambaran impian perempuan metropolis yang sukses: kolumnis surat kabar terkenal (yang kemudian bukunya best-seller) sekaligus fashionista yang tak takut makan cupcakes
. Meskipun cerita cintanya tak semulus jalan tol Bakrie
Aku selalu suka cerita yang tokoh utamanya seorang penulis. Dan anehnya, kalimat sederhana Carrie Bradshaw di salah satu versi filmnya yang terpatri kuat di otakku adalah: “Aku membutuhkan meja tulis yang bagus!”
.
Konyol?
Mungkin! Tapi, dia benar. Kurasa menginginkan meja tulis bagus adalah sesuatu yang wajar bagi seorang penulis, uhmm… well… untuk kasusku… calon penulis
Karena ingin memiliki sebuah meja tulis (yang besar, bagus dan harganya tak terlalu mahal) inilah, aku meminta Dede menemaniku untuk keluar masuk toko furnitur sore itu. Sayangnya, meja tulis dengan budget patokanku modelnya cenderung menyedihkan. Meja sederhana dari kayu multipleks bongkar-pasang dengan warna monoton (tau, kan, serupa tiruan Olym***).
Setelah kecewa karena tak menemukan yang pas di hati, dalam perjalanan pulang, aku melihat toko furnitur dekat kantor yang beberapa waktu sudah tutup karena dikabarkan pindah ke tempat lain. Toko itu buka kembali dan rupanya sedang mengadakan sale untuk menghabiskan stok barang yang sudah terlanjur dirakit (untuk display).
Petugasnya menunjukkan sebuah meja ukuran sedang, kokoh dan berwarna gelap. Meskipun sama-sama kayu multipleks, tapi modelnya tak pasaran. Harganya sedikit di atas budget. Sebenarnya tak masalah kalau saja barang ini tidak memiliki cacat (namanya juga obralan) yang tak bisa dihilangkan.
Aku naksir sebuah lemari belajar lebar berwarna putih dan biru yang cute. Tapi, sedikit sentuhan corak anak-anak (karena sepertinya didesain untuk anak sekolahan ABG) membuatku pikir-pikir. Lucu, sih, lucu… Lalu aku akan semakin dituduh immature… Nggak, deh…
Setelah membuat dua petugasnya puyeng dengan keinginanku yang abstrak
, akhirnya aku memutuskan berjalan mengitari toko hingga ke bagian display dapur di bagian belakang yang agak tersembunyi. Dan di sanalah ia… ngejugruk di sebuah sudut. Aku membaca harganya dan…
“Mas, aku ambil ini, deh….”
Dede yang mengantarku agak melongo.
“Meja makan?” Tanyanya bingung.
“Meja ini kan bisa untuk segalanya. Buat makan, nulis, ngerumpi sama Mimi… Aku bahkan bisa nulis sambil minum kopi.” Harganya memang jauh berkali lipat dari budget semula buat beli meja tulis. Tapi kursi dan meja makan dengan harga bagus? I definitely need it!
Setelah mengurus pembayaran, kami pun pulang.
Dan di kamar…
Aku bengong…. Tiba-tiba panik mulai melanda….
KAMU INI APA-APAAN, SIH? NGAPAIN BELI MEJA MAKAN SEGALA? SAMPAI MENGURAS TABUNGAN PULA? KATANYA AKHIR TAHUN PENGEN LIBURAN?
Huhuhu… Aku bukan Carrie Bradshaw, tapi Rebecca Bloomwood yang shophaholic!
Apa dibatalin aja, ya? Mumpung barangnya belum dikirim…. Mungkin bisa ditukar dengan meja makan lain tanpa kursi (yang bentuknya bulat dari kaca) dengan harga lebih murah. Setelah resah-gelisah dan mulai lapar, aku tiba-tiba menyadari satu hal…
“Ma, aku stress!” Laporku cemas, teringat nafsu makanku yang menggila dan keputusanku di toko furnitur tadi.
“Kenapa?” Tanya Mama di ujung telepon sana, hampir terdengar geli (btw, percakapan ini terjadi dalam Sundanese medok dan sudah kuterjemahkan dengan ilmu kira-kira
).
“Aku ngabisin banyak uang hari ini….”
“Nggak apa-apa. Nanti kan bisa diganti,” kata Mama dengan ketenangan luar biasa. Kadang aku kagum dengan ketidak-terikatan Mama akan materi. Prinsip ‘materi-penting-tapi-bukan-yang-terpenting dan rejeki Allah itu Maha Luas’ benar-benar diterapkannya dengan baik. Aku harus banyak belajar lagi!
“Tapi, aku beli satu set kursi-meja makan…,” kataku takut-takut, bersiap dengan kehebohan Mama dengan ‘apa-apaan? Ngapain beli itu? Nanti kalo pindah mau ditaro di mana?’. Yang terjadi malah membuatku heran…
“Oh, baguslah…. Setidaknya uangnya bermanfaat….”
*bengong*
Mama kembali meyakinkanku bahwa itu ‘tidak apa-apa’ dan aku tak seharusnya khawatir. Pun waktu Bu Eko, sahabatku, aku beritahu, mulanya ia harus menahan diri untuk nggak ngakak. Lalu berkata dengan bijak bahwa ada masanya seorang perempuan berhak membeli barang yang diinginkannya dari uang hasil keringatnya sendiri. Membuatku kembali tenang dan merasa normal.
Lagipula… punya meja makan sendiri ternyata memang menyenangkan! ^_^







dina.thea
September 27, 2010 at 09:18
hehe, dari meja tulis ke meja makan. selamat deh menikmati yg kinclong
mida
September 27, 2010 at 09:18
Jadi meja multifungsi, mbak, hehe…
budiarnaya
September 27, 2010 at 09:18
Heeee hampir sama nich..saya punya rencana beli baju di Mall, sebelum masuk ke tempat baju, mampir di gramedia sekedar lihat-lihat, hal hasil 3 buah buku saya beli, dan tidak jadi beli baju, padahal besoknya mau wawancara, hal hasil pula pinjam baju ama teman heeeee
Mejanya bagus tuh..pasti nyaman kalau makan sambil nulis (tentu sesudah makan):)
mida
September 27, 2010 at 09:18
Tapi wawancaranya sukses kan, bli?
Makan sambil nulis pasti banyakan makannya. Dijamin.
hudaesce
September 27, 2010 at 09:18
Hem……..,bagus bwanget tuh mejanya,masih bening..,hhe
mida
September 27, 2010 at 09:18
Yah, kita liat sebulan ke depan, masih bening ataw nggak, hihihi…
hudaesce
September 27, 2010 at 09:18
Mending meja nya sambil dibungkus plastik aza atu neng biar kliatan bening terus.hehehehe
mida
September 29, 2010 at 09:18
nggak, ah, kinclong kayunya jadi ga terekspose *banyak gaya*
agusnuramin
September 27, 2010 at 09:18
hho uang masih bisa di cari mbak, hhe
nnti kan makin betah nulis di meja baru itu.. nah hasil tulisannya bisa di komersilkan buat novel mgkn.. hha
salam knal jg.. hhe
mida
September 27, 2010 at 09:18
amin… bisa bikin novel…
*meskipun sekarang rasanya masih sebatas ngimpi*
CaLiWa
September 27, 2010 at 09:18
bagus koq we mejanya, meskipun pertama kali waktu dirimu bilang aku cuma bengong dan mikir mo ditaruh dimana, tp pas tau itu tipe paviliun ya agak lega, masalahnya kirain tipe cm kamar doank
mida
September 27, 2010 at 09:18
kapan dunk wewe mampir buat ngupi bareng?
bundadontworry
September 27, 2010 at 09:18
wah, meja makan yg keren dan bagus juga multiguna .
asik ya Mida , semoga dr menja itu nanti lahir sebuah buku best seller,amin
salam
mida
September 29, 2010 at 09:18
amin, ya Rabbal ‘alamin…
Dido’ain Bunda semoga makbul…
Makasih ya, Bunda…
Masda
September 27, 2010 at 09:18
perlu ditiru, cari sesuatu yang multiskill, hehe
mida
September 29, 2010 at 09:18
apalagi kalo yang punya juga multi-talented kayak Masda, makin sip aja tuh…
R. Indra Kusuma
September 27, 2010 at 09:18
Mejanya licin banget ya Mba. Semoga harfanya murah dan dapat erjangkau sama aku ya !
Dengan mengatasi permasalahan yang kecil, kita dapat menyelesaikan permasalahan yang besar.
Salam dan sukses selalu.
mida
September 29, 2010 at 09:18
Kalo udah rejeki mah insya Allah terjangkau, Mas
Salam saya…
kiraitomy
September 28, 2010 at 09:18
duduk berdua, emmm.. romantis
hahahahaha
mida
September 29, 2010 at 09:18
aihhh… pelit amat, kursinya kan ada empat, kenapa cuma berdua, hahaha…
iip albanjary
September 28, 2010 at 09:18
jangan gentar punya meja tulisa bagus..
ibarat pembalap, itu mobil ferarri lo
ayo nulis1!:)
mida
September 29, 2010 at 09:18
Ntar sambil nulis serasa jadi Alonso gitu ya
kyaine
September 29, 2010 at 09:18
film dng tokoh utama seorang penulis yg masih saya ingat adalah Basic Insting yg dibintangi oleh Sharon Stone
mida
September 30, 2010 at 09:18
masih terlalu kecil buat nonton pilem itu… *sok imut* hihihi…
septarius
September 29, 2010 at 09:18
..
Bagus kok mejanya, warnanya juga ok..
Dan yang paling penting multi fungsi..
..
mida
September 30, 2010 at 09:18
harganya juga ‘bagus’, hihihi…