RSS

A Formed Path

I can’t tell you how much I miss to be here and write again.

But, I’m still on my way finding a somewhat-magical-healer. Sometimes, I feel funny because I don’t know exactly what kind of illness I’ve been suffering. The anger, hatred, blame everyone for everything… I’m not the person I used to be. All I want is to stop the hurt from hurting me…

Time will heal, they said. Well, it’s a very slow healer for me…

Of course, I didn’t mean to underestimate the power of prayer. But, imho, God always wants us to try, to learn, to struggle, so we can understand our life.

I do everything I can to cure my heart. But first, I need to define my pain. A doctor couldn’t give you an effective medicine if he/she doesn’t know the disease, right?

So, I took an online quiz – no, don’t laugh, I really did. And you know what? Those simple questions were determining all the feelings I kept inside. Questions that forced me to be honest to myself. Few minutes later, the result came to my inbox.

And the points are:

You fall into a pretty high category of pain. I understand this is an extremely difficult time, but there is still hope for you to feel better – and soon. Below is a quick summary of your results followed by a custom healing lesson which will start your healing today.

1 – You are suffering from Emptiness.
2 – You are experiencing the Reminder Syndrome.
3 – Negative thoughts.
4 – Loss of a possible soulmate.

Okay, the result might say the same things to every person who takes take quiz (I mean, who knows?). And I hate to admit it, but I guess those points are drawn toward my problems. Well, here’s the good thing: at least, I finally found a path to step on.

Picture is taken from here

 
8 Comments

Posted by on December 22, 2010 in Uncategorized

 

Hapehate

Zaman dahulu kala :) , aku pernah mengikuti sebuah praktikum yang melibatkan alat bernama HPHT Filter Press. HPHT merupakan akronim dari High Pressure High Temperature. Alat ini membantu kami untuk mengetahui sifat-sifat fisik lumpur dan pengaruh lain (seperti penambahan zat aditif tertentu) sesuai kondisi suhu dan tekanan di lapangan.

Udahan dulu meracaunya…

Sekarang, tentu saja, aku tak lagi berurusan dengan hal-hal berbau lumpur :D Tapi istilah HPHT ini tetap tinggal dalam ingatan. Pertama, karena alat ini sangat melegenda bagi para mahasiswa dengan resiko ledakannya. Langit-langit laboratorium yang tingginya sekitar 6 meter dihiasi sebuah noda raksasa yang konon diakibatkan ledakan saat angkatan ’97 melakukan praktikum :D Kedua, karena alat ini membutuhkan waktu yang amat-sangat-lama-sekali untuk menghasilkan sejumlah data yang kami perlukan, sampai-sampai kami sempat tidur dan beli makan malam dulu daripada manyun nggak jelas. Dan kelompokku cukup beruntung karena bisa selesai sekitar pk. 22.00 WIB, sementara kelompok lain ada yang manyun hingga tengah malam :D

Dengan dua alasan itu, aku dan teman-teman kerap menyebut HPHT (diucapkan ‘hapehate’) sebagai pelesetan dari capehate alias bikin capek hati. Dan ini tak hanya berlaku di praktikum, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Kita kerap dibuat pusing dengan tekanan pekerjaan serta setumpuk masalah lainnya. Tekanan hidup ini biasanya membuat tekanan darah jadi tinggi dan temperatur otak dan hati ikut meningkat tajam hingga kita berkata, “rasanya mau meledak aja deh!”. Nah, inilah yang kami sebut dengan kondisi high-pressure-high-temperature alias hapehate :D

Itulah yang sedang kualami akhir-akhir ini…

Bukan sebuah awal yang baik di tahun yang baru, memang… Kurasa, aku membutuhkan waktu untuk menyepi dari keramaian, introspeksi dan… mencari cara untuk memperoleh kembali kemampuan untuk memaafkan. Memaafkan dia, mereka, juga diriku sendiri.

Itu artinya, aku akan pamit sementara dari dunia blogging. FB pun akan kunonaktifkan. Jadi, mohon maaf jika aku lama tak berkunjung ke blog sahabat sekalian. Semoga masih diberikan-Nya kemudahan bagi kita untuk kembali bersilaturahmi dalam keadaan yang jauh… jauh… lebih baik.

Dan, ya, aku berjanji akan kembali dengan hati yang baru…

Okay, mungkin nggak baru (karena kartu garansinya ga ada :P ), tapi setidaknya retakan-retakan dan buteknya sudah jauh berkurang… Insha Allah…

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang, dan kesewenang-wenangan orang.”

 
13 Comments

Posted by on December 16, 2010 in Uncategorized

 

Writing Workshop: Behind The Scene

Pasti banyak yang bingung, ngapain sih kantorku ngurusin acara workshop penulisan kayak gini? :D

Sebenarnya, dulu kami hanya meng-handle workshop dan kegiatan outdoor untuk kalangan tukang minyak dan sekitarnya :D Namun, Pakde Lama, bos kami yang brilian, berinisiatif untuk mengadakan acara-acara yang bisa diikuti oleh masyarakat umum agar nama kami lebih dikenal.

Nah, salah satu event yang beliau usulkan adalah workshop tentang penulisan. Singkat kata singkat cerita, setelah membuat daftar beberapa alternatif pembicara, kami mulai mengontak manajemen Asma Nadia karena mereka juga tengah gencar melakukan workshop penulisan di berbagai kota, jadi klop gitu deh.

Aku sendiri udah mengenal tulisan-tulisannya Mbak Asma sejak SMA, melalui majalah Annida (yang bikin hepi, salah satu cerpenku juga pernah dimuat di majalah yang sama, hihihi… Alhamdulillah…). Jadi, bagiku tulisan-tulisan beliau sudah tak asing lagi.

Asalnya, event ini dijadwalkan bulan Oktober, namun diundur karena bentrok dengan seminar parenting bersama Ibu Elly Risman, Psi. yang diadakan atas inisiatif ibu-ibu kantor di sini. Maklum, bendera organisasinya sih boleh keren, tapi yang bertugas mengurus event cuma berdua aja (aku dan Harun). Makanya, agak sulit jika kami menangani dua event sekaligus. Kemarin pun aku dan Harun terpaksa bagi-bagi tugas: aku lebih fokus di writing workshop (sampe jadi setrikaan bolak-balik Cirebon-Bandung pp untuk mencari meeting room dan mengurus promosi), Harun lebih fokus di pemilu dan simposium nasional yang diadakan pusat di Jakarta.

Rasanya sampe butek otak kami memikirkan segala detail. Ada saat-saat aku ngambek teu puguh sama Harun saking stresnya (muuph ya, Dek… :( ). Bahkan di saat-saat akhir, mobil kantor yang telah kami reservasi beberapa hari sebelumnya, ternyata tak ada karena dipakai ke lapangan. Alhasil, panitia workshop baru sampai di Bandung menjelang Sabtu tengah malam, itupun berkat Mas Iwan yang merelakan Baleno-nya mengangkut kami ke sana.

Nyampe di hotel, sempat bersitegang dengan resepsionis karena kamar untuk panitia hanya disiapkan satu aja (gara-gara marketingnya salah paham). Untung masih ada kamar kosong. Ruangan yang akan dipakai workshop juga masih berantakan, hiks…

Sambil menunggu pagi tiba, kami membereskan seminar kit yang akan dibagikan pada peserta dan mengeprint file-file yang masih tersisa. Jam 3 pagi, udah ga kuat lagi, ambruk deh di kasur sampe Subuh :D Barulah pagi-pagi lanjut mengatur kursi, meja registrasi dan memasang spanduk di ruangan dibantu banquet hotel. Alhamdulillah, semua selesai sebelum para peserta tiba.

Namun, masih ada satu hal yang mengganjal pikiranku: soal makanan! Dari jauh hari sebelumnya, aku sudah meminta daftar menu untuk di-fax ke Cirebon. Beberapa hari sebelum hari H, aku ulangi lagi permintaan itu, namun si menu tak kunjung tiba. Karena tak pernah mencoba makanan tester, agak deg-degan juga, takut makanannya ga enak. Kalo soal perut, urusannya bisa gawat kalo mengecewakan. Alhamdulillah enak-enak aja (meski menurutku masakannya agak keasinan :P ).

Saat sarapan, datang para mahasiswa yang sudah dimintai bantuan untuk acara ini. Dan mereka malah ngetawain tampang-tampang kusut kami yang kurang tidur, heuheu…

Mbak Asma dan Mas Isa sendiri kabarnya berangkat pukul 03.00 WIB dari Depok menuju Bandung. Kru Asma Nadia Publishing House datang lebih dulu untuk mengatur bazar buku di depan pintu masuk. Awalnya agak kaku karena selama ini kami hanya berkomunikasi via telepon, email dan FB. Tapi, lama-lama ‘cair’ juga… ^_^

Alhamdulillah, acaranya bisa dimulai tanpa ngaret dan semuanya lancar. Satu hal yang sangat membahagiakan bagi EO adalah jika pembicara dan peserta sama-sama hepi dan puas dengan acara yang diselenggarakan. Kami akui masih banyak kekurangan di sana-sini, namun semoga termaafkan :)

Special Thanks buat Mbak Nchie Hani, Mbak Erry, Ismi dan Deden Hf yang telah menyempatkan datang dan melaporkan acaranya lebih dulu di blog, jangan kapok yaaa… ^_^

Mbak Erry serius konsultasi sama Mas Isa, Deden sadar kamera :D

hwaaw... ada penampakan di belakang, hihihi... :D

pembicara yang kompak dan saling mengisi... romantis ^_^

 
23 Comments

Posted by on December 8, 2010 in Uncategorized

 

Dicari: Peminat Serius!

Terima kasih banyak untuk para sahabat yang telah ikut menjawab quiz di postingan sebelumnya. Terima kasih juga untuk yang sudah mendo’akan kesuksesan acaranya :)

Nama asli Asma Nadia adalah Asmarani Rosalba

Sedangkan Eva Maria Puri Salsabila atau dikenal dengan nama pena Putri Salsa (Chacha) adalah putri sulung beliau yang juga merupakan penulis cilik dan telah menerbitkan beberapa buku.

Maka, para sahabat yang menjawab benar adalah:
- Deden Hf
- Goyang Karawang
- Bunda Lily
- Kang Achoey
- Hudaesce
- Ismi

Bunda Lily dan Kang Achoey sudah menyatakan ga bisa…

Jadinya, ada tiket yang mubazir nih

Hiks…

Kalo ada yang berminat, silakan hubungi aku segera ya… Mungkin Kang Fir’aun Ngeblog, Jayarosmana atau The Gombals?

Oh, iya, aku mau sedikit curhat nih…

Sebagai EO, udah beberapa kali aku berurusan dengan beberapa penerima tiket gratis workshop yang kurang menyenangkan. Yang pertama, mereka hanya menginginkan suvenir dan makan gratis. Jadi, setelah break makan siang, mereka biasanya kabur entah-kemana. Yang kedua, adalah tipe plin-plan. Sehari sebelumnya bilang oke. Pas hari H, ga muncul-muncul. Saat dihubungi, dengan entengnya dia jawab, “Maaf, mbak, aku hari ini kondangan…” *pengen nyekek* :(

Bukan apa-apa… Asal tahu saja, menjadwalkan kehadiran para pembicara ahli (misalnya penulis seperti Mbak Asma Nadia) cukup sulit karena mereka orang-orang sibuk. Belum lagi energi dan biaya yang kami keluarkan juga tidak sedikit (karena itu biaya workshop kepenulisan ini dipatok tiket cukup mahal bagi peserta lain, mulai Rp 250.000,00 – Rp 400.000,00). Sayang jatah kursinya. Akan lebih baik jika diberikan pada orang-orang yang memang serius dan sungguh-sungguh ingin memanfaatkan ilmu dari kegiatan seperti ini. Jadi, kami yang telah jungkir-balik mempersiapkan acara berbulan-bulan sebelumnya merasa hasil pekerjaan kami tidak sia-sia…

Tapi, aku sih yakin sobat-sobat bloggerku ga begitu… ^_^

*udahan ah, curhatnya :D

Nah, untuk para pemenang tiket gratis, mohon kirimkan nama lengkap, alamat dan nomor yang bisa dihubungi ke imelku: midasutrani@gmail.com. Ditunggu hari ini ya!

 
46 Comments

Posted by on December 3, 2010 in Uncategorized

 

5 Tiket Asma Nadia Writing Workshop Gratis!!!

Hehehe… Aduuuhhh… maaf ya, saking hepinya, aku jadi lupa memoderasi komentar tadi *jedotin kepala*. Tapi, jangan khawatir, Kang Deden Hf dan Kang Argun, komennya udah disimpen biar ga dicontek :P

Jadi, aku jelasin lagi yaaa…

Tersedia 5 tiket Asma Nadia Writing Workshop GRATIS buat sobat blogger yang beruntung. Workshop yang berlangsung sehari penuh dari pk. 09.00-17.00 WIB ini akan dipandu langsung oleh penulis buku-buku best-seller Mbak Asma Nadia dan penulis buku motivasi No Excuse! Mas Isa Alamsyah.

Nah, caranya gampang bangeeet, jawab pertanyaan berikut di kolom komentar:

SIAPAKAH NAMA ASLI ASMA NADIA?

Aku tunggu hingga besok malam, 2 Desember 2010, pk. 23.59 WIB. Ok? Good Luck!

 
39 Comments

Posted by on December 1, 2010 in Uncategorized

 

Masih Garansi Kan?

Tadi malam telah kukirimkan sebuah pesan kepada Tuhan
untuk meminta hati yang baru
Yang kupunya ini
sudah patah
Tak bisa lagi kurekatkan
Terlalu banyak serpihan menghilang
Di bagian yang hilang itu
aduuuh! Sakitnya tak sembuh-sembuh
Sungguh…
Jadi kukirimkan saja pesan kepada Tuhan
untuk meminta hati yang baru

*koq sakit hatinya masih ya… :(

 
14 Comments

Posted by on November 25, 2010 in Uncategorized

 

Stadion Jalak Harupat

Sebenarnya lagi males ngaku sebagai bobotoh, heuheu… Prestasi Persib Bandung akhir-akhir ini memang sangat menyedihkan, hingga pelatih Persib Jovo Cuckovic akhirnya resmi dipecat karena sejak awal Liga tahun ini bergulir, Persib cuma bisa menang satu kali aja waktu lawan Persiba Balikpapan (itupun aku diejek temenku di Balikpapan karena Persiba sengaja mengalah sebagai kado ulang tahun Kota Bandung, hehe… :D ).

Nah, yang menyedihkan bukan cuma prestasi Si Maung Bandung, tapi juga stadion Siliwangi yang sementara ini jadi basecamp-nya. Aku pernah tuh dapet mata kuliah olahraga di situ, kondisinya ampyun deh… Lapangannya becek dan bolong-bolong. Kalo nendang bola di situ kayaknya lajunya ga bakal mulus tapi bakal lompat-lompat karena lapangannya ga rata :D .

Selain itu, karena letaknya di tengah kota, suka bikin dag-dig-dug-der kalo Persib lagi maen di Stadion Siliwangi… Bukan apa-apa, oknum bobotoh ada yang masih berlaku norak dengan berpikir merusak fasilitas umum itu sepertinya terlihat keren (please, dweeeh…). Dulu, kalo Persib lagi tanding, aku yang bersekolah di Jalan Belitung dengan posisi lumayan dekat dengan stadion suka kena getahnya. Selain macet, angkot pada ‘menghilang’ karena ga mau ambil resiko dirusak oknum, jadinya terpaksa jalan kaki dulu sampe ketemu angkot lagi….

Sebenarnya Persib sedang menunggu selesainya pembangunan stadion di Gedebage yang konon akan bertaraf internasional (tapi ditunggu-tunggu koq ga selesai-selesai yaaa… :D ). Persib juga sempat berbasis di sebuah stadion lagi milik ‘saudara kandung’-nya Persikab Kabupaten Bandung yang lebih baru dan megah. Nah, stadion inilah yang aku kunjungi waktu mengantongi ‘izin bebas’ sebagai tukang sablon beberapa waktu lalu.

Namanya Stadion Jalak Harupat yang terletak di Soreang, ibu kota Kabupaten Bandung, dan cuma berjarak sekitar 10 menit dari rumah sepupuku :) . Nama ‘Jalak Harupat’ sendiri diambil dari julukan salah satu pahlawan nasional asli Bandung yaitu Oto Iskandar Di Nata. Jalak Harupat berarti ‘burung Jalak yang tajam lidahnya’ – dijuluki demikian karena Oto sering melontarkan kritikan pedas kepada pemerintah Belanda di Volksraad.

Stadion Jalak Harupat mulai dibangun tahun 2003 dengan menelan biaya sekitar 70 milyar… (ah, masih lebih banyak duitnya gayus :-P ). Luas bangunannya 28.177 m², luas lapangan sepakbola 7.500 m², luas lansekapnya 13.000 m² serta tribun yang mampu menampung 27.000-40.000 penonton. Rumputnya dari jenis zoyzia matrella lin mer yang bisa meminimalkan cedera pemain bola.

stadion masih dalam perbaikan untuk PORDA

dilengkapi electronic scoring board

'rolade' rumput yang belom dipasang :D

Stadion ini tadinya disiapkan untuk pertandingan-pertandingan yang berskala internasional. Namun, ternyata masih banyak yang harus dibenahi. Meskipun bangunannya kokoh dan rumputnya lebih baik, fasilitas-fasilitas pendukungnya belum memenuhi syarat. Salah satu fasilitas yang paling banyak mendapat protes adalah toiletnya yang tak terawat (ewhhh… kebayang deh joroknya… >.<). Tempat duduk penonton juga masih berupa 'tangga', bukannya deretan kursi seperti laiknya sebuah stadion bertaraf internasional.

Selain itu, tidak adanya penginapan terdekat yang bagus serta akses jalan raya menuju stadion juga cukup sempit, membuat para ‘tamu’ jadi kurang nyaman untuk bertanding di sini.

Tapi, satu hal yang aku suka adalah lingkungannya yang masih asri. Sambil duduk di tribun, memandangi siluet kehijauan perbukitan di sekitar stadion cukup menyegarkan. Udaranya juga relatif masih bersih ^_^.

perbukitan hijau di latar belakang ^_^

Mudah-mudahan aja setelah dibenahi, stadion ini bisa lebih baik perawatannya dibanding sekarang. Aku yakin, dukungan fasilitas yang baik akan mendorong para atlet untuk berprestasi lebih baik lagi. Semoga.

 
23 Comments

Posted by on November 22, 2010 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.