Sebuah Pertunjukan


Be yourself.

Kalimat ini sungguh familiar. Terdengar di mana-mana, diucapkan banyak orang, di banyak tempat. Kita mungkin telah mengenalnya, jauh sebelum bisa mengucapkan dan mengerti artinya dengan benar. Entah jenius mana yang menemukan rangkaian kata ini pertama kali. Tapi, aku yakin, ia mengeluarkan pikiran ini karena manusia kadang lupa untuk menjadi dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

The life we’re living, it’s all a masquarade. Hidup ini bak pesta topeng. Lagu lama yang telah dinyanyikan puluhan bahkan ratusan kali. Pagi hari, ketika kita memutuskan memakai baju tertentu, kita siap untuk berpesta di panggung besar bernama dunia dengan skenario kehidupannya. Kita tampil menjadi wanita kuat, meskipun semalam air mata tertumpah di atas bantal. Kita siap menjadi seorang yang disibukkan pekerjaan dan terlihat smart, meskipun di saat sendiri, kita merutuki diri sebagai manusia paling bodoh dan paling malang sejagat raya.

Lalu kapan kita benar-benar jujur menjadi diri sendiri? Saat merasa tak ada seorang pun melihat kita? Saat di kamar mandi? Oh, yeah, aku yakin setiap orang pernah mengalami fase ‘melarikan diri dari dunia dan pergi ke kamar mandi’. Untuk menangis, atau hanya sekedar mencuci muka agar emosi menjadi reda. Lalu melihat cermin, berusaha mengenali diri kita kembali. Namun bayangan di cermin hanya mampu memberikan wajah dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan – amarahkah itu? Atau kesedihan?

Keluar dari kamar mandi, kita kembali bersandiwara. Pertanyaan, “kamu nggak apa-apa?” takkan dijawab, “aku jelas APA-APA, aku bahkan hampir gila!” meskipun dalam hati kita menjerit-jerit setengah mati. Tidak, kita tetap berusaha tesenyum dan berkata, “nggak… nggak apa-apa.” Setengah untuk menguatkan diri, setengahnya karena drama yang sedang dimainkan tidak membutuhkan aktor/aktris pengecut dan cengeng. Mainkan atau menyingkir dari sini!

Barulah, ketika semua orang telah pulang, ketika kita kembali sendirian di kamar, kejujuran itu akan tergali lagi. Emosi yang terserap sepanjang hari diputar ulang hingga pikiran kita menjelajah waktu; mengorek-ngorek masa lalu kemudian mengerutkan kening untuk mencari cara mempertahankan diri di masa depan.

Beruntunglah mereka yang memiliki orang-orang tercinta. Karena semua kegilaan dari akting semu itu hilang begitu saja saat memandang wajah polos anak-anak dalam kedamaian mimpi masa kecil mereka. Atau sekedar ucapan selamat tidur dari kekasih yang terpisah jarak. Bahkan dengkuran halus ayah dan ibu yang menandakan nafas mereka masih ada untuk mencintai kita di usia yang tersisa.

Beruntunglah mereka yang mengenal Tuhan. Karena dengan curangnya kita selalu menjadikan Ia sebagai pelarian terakhir. Ah, memangnya mau ke mana lagi? Tempat terbaik untuk melepaskan segala topeng, kostum dan kebohongan hanyalah saat kita benar-benar menghadirkan diri di hadapan-Nya. Raga mungkin diam, tapi hati meleleh, mencair dan mengalir deras seiring do’a dan permohonan untuk keluar dari segala himpitan.

Lalu berusaha memejamkan mata. Dan kembali memakai kostum sandiwara keesokan harinya.

Kurasa, kita memang tak bisa menjadi diri sendiri sepanjang waktu, 24 jam setiap hari. Tak ada cerita mempertahankan ego sebesar planet Jupiter dengan pembenaran ‘inilah aku apa adanya’. Ada bagian yang harus ditunjukkan, ada yang harus disembunyikan dan ada yang harus diubah. Living wild and free sebagai ekspresi kemurnian diri tetap mengikuti takaran ‘seberapa wild’ dan ‘seberapa free’ karena kita bukanlah binatang yang tak tahu aturan.

Kita manusia. Dan kita memang memiliki peran dan skenario masing-masing dengan agama sebagai panduan. Tinggal pilih, menjadi protagoniskah? Atau antagonis? Atau jadi penonton apatis yang tak mau terlibat apapun?

Hanya nurani yang tahu jawabannya.

Gambar diambil dari sini

Advertisements

30 thoughts on “Sebuah Pertunjukan

  1. awali hari dengan bersyukur kepada Allah sudah tertuang dalam doa bangun tidur. .. lanjut menjadi diri sendiri yang menerima apa adanya dan berusaha sekuat tenaga. ..

  2. yg paling penting, tentunya menjadi diri sendiri, walau terdengar klise, aplikasinya bisa kita tunjukkan dgn selalu berusaha utk melakukan yg terbaik, dan bermanfaat bagi sesama , Mida sayang …………setuju?
    salam

  3. dunia ini, adalah panggung sandiwara, setiap kita memiliki peranan yang berbeda……..

    yups, seperti lagu itu, dunia ini adalah pangung sandiwara. tugas kita hanyalah mengikuti kehendak sang sutradara, sang pembuat hidup ini dan berusaha untuk menjadi pemain yang baik, tentu saja baik ini adalah di hadapan sang sutradara, bukan sekedar baik dihadapan pemeran sandiwara yang lain.

  4. be your self, jadilah diri sendiri.
    kalimat itu begitu mudah untuk diucapkan, tapi ya itu tadi, seperti yang sampean bilang, kita lebih banyak memakai topeng, dengan berbagai alasan dengan berbagai pembelaan

  5. Pengen jadi diri sendiri Midaa..
    selalu menjadi yang terbaik nuat diri kita dan buat sesama Amin..
    terkadang kliatan klise,tapi berusaha dan berdoa itu kuncinya ..

  6. Jadi diri sendiri itu yang selalu aku coba lakukan, mbak sayang..
    Tapi kadang, jadi munafik ketika menghadapi situasi dan orang tertentu

  7. saya pikir menjadi diri sendiri yang dimaksud dalam istilah yang sering kita dengar itu adalah agar kita tidak kehilangan jati diri kita yang sebenarnya, tak perlu berpura2 menjadi seperti yg orang inginkan agar diterima di linkungan.. dan masalah menutupi kesedihan saya kira itu lain soal, itu bukan berarti kita tidak sedang menjadi diri sendiri.. karena itu bukanlah karakter sebuah kepribadian.. itu hanyalah sifat manusiawi..

  8. bukan itu bukan sandiwara dan bukan menutupi, jangan terlalu berlarut dalam kesedihan Mida… tetap semangat. jgn bersedih berkelanjutan karena akan membuat sakit dirimu dan org sekitar kamu yg menyayangi, peduli, dan cinta padamu.
    kepura2an itu misalnya: tidak cinta berkata cinta, jelek dibilang bagus. bisa sy katakan munafik 2 hal tersebut.
    sandiwara itu mungkin cenderung pada org yg munafik. mulut manis dan munafik saja beda, mulut manis hanya dibibir saja sedangkan munafik lebih mematikan. maaf kalau saya salah…
    salam hangat 🙂

  9. Mida…semua yang ada di benak saya, tertuang tuntas di posting ini.
    Dunia memang panggung sandiwara, manusia juga kadang perlu mengatur posisi di tempat yang tepat. Kenapa begitu?
    Agar orang lain nyaman dengan keberadaan kita 🙂

    Jadi kalau ada yang bilang orang bertopeng itu munafik, kayaknya nggak sepenuhnya bener deh ya…

  10. Sejauh yang aku mampu, aku berusaha untuk menjadi diri sendiri. Tetapi, aku memang lebih suka menyimpan kesedihan untuk diri sendiri. Kebahagiaan dan senyum untuk dibagi kepada orang lain, tapi kesedihan dan tangis tak perlu dibagi-bagi, bukan? Kecuali kepada beberapa orang tertentu, pastinya …

  11. mbak mida…semuanya adalah pilihan. Mau jadi protagonis atau antagonis…berbeda dengan sandiwara sesungguhnya yang sudah diplot peran2nya. Kita memiliki pilihan sesuai dengan hati kecil (atau besar). Bagi saya pribadi, cukup memperlihatkan kepada lingkungan sekeliling kita apa adanya…ada yang suka alhamdulillah, ada yang tidak berkenan…ya mohon maaf aja.

  12. sayyidahali says:

    menjadi diri sendiri,,ehmm..ku sendiri tak tau apa seperti apa diriku,,bagiku,,selama itu jalan menggapai cinta Robb,,akan ku lakukan walaupun harus memaksa diri..

  13. saya -akui- kadang saya memakai topeng, karena saya ga hidup sendiri di dunia ini. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk diperbuat atau dikatakan, bila memakai topeng yang bertujuan untuk kebaikan kenapa tidak???

    Apa kabar mba’ Mida?? 🙂

  14. Menjadi diri sendiri …

    Dan ada tambahannya Mid …
    Menjadi diri sendiri … yang lebih baik dari waktu ke waktu ….

    Lebih baik dari waktu ke waktu adalah …
    suatu titik dimana hidup bukan lagi panggung sandiwara …

    Hidup adalah lakon protagonis … yang sesuai dengan kenyataan yang ada

    Salam saya

  15. Bagian “Lari ke kamar mandi dan menangis disana kemudian keluar dan tersenyum kepada semua orang padahal hati menjerit” itu bagian favorit saya 🙂
    Pernah mengalaminya…
    Salam kenal mbak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s