Serba Terlambat

Beberapa hari ini lagi sakit gigi. Mulanya gusi bengkak, hingga aku menuruti saran Mama untuk mengkonsumsi vitamin C 1000 mg. Tapi di larut malam, gusi belakang benar-benar sakit dan geli-geli gimanaaaa… gitu. Saat lidahku dengan centilnya mencolek-colek gusi itu, aku tersadar, ada bagian gigi yang baru nongol di paling belakang. Hah???

Bukan apa-apa, umurku jelas sudah terlalu uzur untuk tumbuh gigi lagi, ini koq bisa? Memang, sih, bukan satu gigi utuh. Gigi gerahamku yang terakhir cuma nongol setengahnya, setengahnya lagi ‘ngumpet’ di dalam gusi. Nah, pas pagi-pagi aku cek (setelah susah tidur gara-gara gusi bengkak itu), ternyata yang setengahnya lagi udah mulai nongol hingga satu gigi geraham itu terlihat utuh. Duh, udah nenek-nenek harusnya sakit gara-gara gigi tanggal, ini malah baru tumbuh lagi.

Tapi, kejadian ini membuatku jadi merenung, banyak hal dalam hidupku yang memang serba terlambat. Aku terlambat menyadari ‘passion’-ku, terlambat lulus kuliah, terlambat bekerja, dan (kalo boleh dikategorikan terlambat – meski menurutku jodoh adalah hak prerogatif Tuhan) terlambat mendapatkan pasangan hidup.

Semuanya memang efek domino. Keputusanku meninggalkan kampus lama dan pindah jurusan di kampus baru, kota yang baru, teman-teman baru, memulai semuanya dari nol benar-benar menguras energi hingga sempat membuatku ‘jatuh’ dan hilang harapan. Ada satu masa saat aku benar-benar merasa tak berguna: merasa ditinggalkan para sahabat, tak punya bahan skripsi, tak punya pekerjaan dan tak punya pacar ^_^. Bandingkan saat masih kuliah di Bandung yang selalu disanjung-sanjung karena kuliah di tempat keren, jurusan keren, ikut organisasi kampus dan tak pernah kesulitan karena selalu ada teman dan penggemar (hahay!) yang siap membantu. Begitu pindah ke Jogja, semuanya bergerak begitu lambat bagiku karena melakukan semuanya dengan deraan perasaan rendah diri yang cukup parah.

(Lagi-lagi) Aku terlambat menyadari satu hal: if u can’t find happiness, then make one! (Begitu bukan, sodara-sodara? ^_^) Aku menyukai dunia desain,meskipun ‘suka’ dan ‘bisa’ adalah dua hal yang berbeda, hehe… Tapi itulah alasan utamaku untuk meninggalkan dunia petroleum engineering dan banting stir mempelajari dunia perangkat lunak yang mendukung kesukaanku menggambar ga jelas :p Do what you love or love what u do! Meskipun saat skripsi, aku malah mengangkat tema jaringan syaraf tiruan, bukannya tema grafis atau multimedia atau bahkan membuat film kartun berdurasi pendek seperti yang dilakukan teman-teman di kelas perancangan film kartun yang kuambil di semester 6.

Unpredictable adalah satu kata yang diucapkan salah satu teman untuk menggambarkan diriku. Seringkali jalan pikiranku memang sulit dipahami orang. Kadang aku memang enggan untuk mengikuti ‘mainstream’ dan memilih berbalik untuk mencari jalan baru yang belum banyak dilirik yang lain. Saat orang lain sukses menyelesaikan studinya, aku masih jungkir balik berburu buku-buku dan artikel tentang tema yang bahkan tak pernah diajarkan para dosen di kelas. Saat orang lain menerima pinangan seorang laki-laki, aku justru memutuskan seorang cowok saat dia melamarku karena ketakutan akan diatur dan dikekang. Saat orang lain telah mapan dalam karier dan pekerjaannya, aku malah berpikir untuk resign dan mencoba hal-hal baru seperti menulis novel dan berbisnis online. Zona nyaman adalah musuh terbesarku. Dan percaya diri yang rendah menghambat lajuku.

Ya, kuakui dalam beberapa hal, aku tertinggal jauh dari teman-temanku. Tapi kehidupan terlalu luas dan terlalu sayang jika kita lewatkan dengan aktivitas itu-itu saja dan menolak untuk mencoba hal-hal baru. Kadang perubahan yang terjadi efeknya memang tidak menyenangkan, kadang kita juga salah memilih jalan, kadang kita terlambat sampai di tujuan, tapi selalu ada hikmah yang bisa diambil. Bukan seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa banyak yang bisa kita pelajari. Tuhan menciptakan alam semesta dalam waktu enam hari, kenapa? Padahal mudah saja bagi-Nya untuk membuat semua dalam hitungan sepersekian detik. Kun fayakun! Tapi, tidak. Dia justru mengajari kita bahwa segala sesuatu di alam ini ada prosesnya. Proses itulah yang penting dan menjadi catatan hidup kita untuk bahan pertimbangan di akhirat kelak. Jadi, tak ada satu pun yang harus kusesali.

Bahkan sebuah gigi yang terlambat muncul sama sekali bukan masalah. Tak peduli dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menunggu kemunculannya. Yang penting ia kini ada dan utuh, hingga aku masih bisa memanfaatkannya untuk mencerna nikmatnya makanan yang telah digariskan-Nya menjadi rezekiku. Alhamdulillah.

Advertisements

4 thoughts on “Serba Terlambat

  1. CaLiWa says:

    Wewe nyindir daku ya? Iya kadang aku ampe frustasi ni liat orang-orang di sekitarku, mereka terus maju tapi koq aku tetap di tempat bahkan cenderung mundur..

    • Salah setting gigi kali we, coba ubah dulu ke gigi satu biar bisa maju, wkwkwk….
      *Serius*
      Kadang kita perlu mundur biar bisa melompat lebih jauh, We, orang Sunda bilang mah ‘ngawahan heula’ (cari ndiri artinya di kamus Sunda-English) :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s