Edisi Jogja: Memanjakan Lidah

Sebagai penikmat makanan yang nggak terlalu rese (asal halal, ga menjijikkan dan bukan ikan air tawar), mencoba makanan atau menu di tempat makan baru merupakan kegiatan yang menyenangkan, apalagi jika ditemani sahabat yang mempunyai kegemaran yang sama. Dan Jogja adalah sebuah kota yang menjadi lahan subur bagi begitu banyak tempat makanan enak dengan harga terjangkau.

Namun, berhubung rencana perjalanan ke kota ini memang telah berantakan dari awal, aku akhirnya tidak terlalu ngotot lagi ingin mencoba tempat makan baru. Tadinya, makan malam di Restoran Bale Raos yang menyediakan menu khusus kesukaan para Sultan Kerajaan Yogyakarta ada di top list-ku. Nyatanya, karena tak membawa kendaraan sendiri dan tak ada teman untuk mencicipi menu di sana, rencana itu gagal. Akhirnya aku menyerah, hanya ingin bersantai dengan ‘rasa’ yang telah dikenal lidahku sebelumnya. Jadi, inilah tempat makan yang kudatangi selama akhir minggu kemarin.

nanamia pizzeria

pizza tipis dan crunchy

Berhubung aku baru sampai di Jogja pas Maghrib, lalu mengobrol ngalor-ngidul dengan si Botak yang udah lama ga ketemu, kami baru keluar untuk makan malam jam 20.30 WIB. Lalu lintas masih ramai dengan turis yang tumpah ruah di jalanan. Karena bingung memutuskan tempat makan, si Botak akhirnya mengajakku ke Mal Galleria. Di mal itu ada tempat makan favorit kami waktu kuliah: Bee’s. Restoran ini merupakan ‘fast food’ untuk masakan-masakan Asia, mulai dari Malaysia, Thailand hingga India. Harganya antara belasan hingga puluhan ribu, masih setara lah dengan McD. Well, dengan harga segitu, jangan harap bumbu asli negara asalnya bakal terasa 🙂 Tapi lumayan enak, koq. Yang kurang kusuka, ada beberapa menu yang masih disajikan di kotak styrofoam, selain ga go green *haiyah*, rasanya kurang mantap aja. Masa sih, makan di warung aja pake piring, di sana cuma pake styrofoam? 😀 Ternyata, menu yang tersedia tinggal Gold dan Platinum Box (semacam paket hematnya). Si Botak menggeleng, jadi kami keluar dari sana.

“WS aja,” kata si Botak. WS itu singkatan Warung Steak yang udah terkenal di seantero Jogja sebagai tempat makan berbagai macam steak dengan harga mahasiswa. Aku ngikut aja, deh. Eh, baru menginjakkan kaki di pintu masuk, si Mas waiter-nya langsung mendekat dan memberitahukan menu di sana sudah habis. Uah, memble deh….

“Nanamia aja, yuk!” Ajakku pas di parkiran. Mumpung tempatnya dekat dari situ. Kami akhirnya meluncur ke Jl. Moses Gatotkaca yang terletak di sebelah Jogjakarta Plaza Hotel (awal aku kuliah namanya Hotel Radisson). Di dalam restoran masih ramai dengan bule-bule yang lagi asik kongkow-kongkow sambil minum bir.

Tempat makan ini relatif baru. Meskipun banyak bule berkunjung ke sini, jangan bayangkan tempatnya luas dan mewah. Ukuran restonya kecil dengan kursi dan meja sederhana terbuat dari kayu. Desainnya hangat dan homy banget. Alunan musik yang upbeat seperti Samba selalu mengiringi gelak tawa pengunjung.

Yang istimewa di sini memang makanannya. Berbeda dengan Pizza Hut, pizza di sini benar-benar dibuat ala Italia dengan roti yang tipis-renyah dan guyuran saus dengan rempah-rempah seperti oregano dan basil yang cukup kuat plus keju mozarella yang hmmm…. Dipanggang di tungku besar dengan bahan bakar kayu. Pelayannya -meskipun tidak full senyum- tapi sangat sigap. Saat hendak memesan, si Mas pelayan bilang pizza-nya sudah habis, tinggal tersisa pasta Lasagna. Si Botak protes karena Lasagna yang biasanya cuma seukuran 15×15 cm itu ga bakal membuatnya kenyang. Tapi aku udah capek banget jadi kubilang aja abis dari sini dia beli nasi goreng lagi buat dimakan di rumah, hehe….

Kalo mau ngintip menunya ada di sini. Jangan khawatir, harganya hampir sama koq dengan Pizza Hut atau Papa Ron’s.

RM Padang Murah Meriah

Apa istimewanya rumah makan yang satu ini? Jawabnya: nggak ada, hahaha…. Ini tempat makan yang sering kukunjungi di sela-sela kuliah dulu karena letaknya di dekat kosku, di belakang pasar Condong Catur. Kangen aja sama tempat satu ini.

Seperti hampir semua RM Padang lainnya di Jogja, bumbunya tidak terlalu asin dan pekat atau kental, sudah bercampur citarasa Jawa yang agak manis. Tapi, setelah mencoba-coba di tempat lain, di tempat ini bagiku rasanya pas banget, jadi aku selalu datang lagi ke sini. Tempatnya terang, bersih dan pelayanannya cepat. Harganya jelas murah meriah dunk. Satu porsi nasi+ayam+sayur+sambal ga lebih dari Rp 6.000,00. Sayang, mereka ga sedia sate Padang T_T.

Rumah Coklat

Cafe di Jl. Cik Di Tiro ini sudah membuatku penasaran sejak dulu. Pernah aku dan Een ngebela-belain menyisihkan uang kiriman bulanan biar bisa makan di cafe yang kayanya tempat kongkow para mahasiswa tajir ini. Pas nyampe sana, ternyata tutup karena lagi direnovasi. Asemmm!!! Hahaha… (Inget, ga, En?).

Sebelum pulang ke Cirebon, aku dan Icha menyempatkan diri mampir ke sini. Dari luar aja udah kelihatan tempatnya cukup eksklusif, tapi harganya ternyata ga semahal yang kukira dulu, masih murah di sini dibanding setarbak mah :). Karena dilengkapi hot spot, beberapa muda-mudi asik berselancar dengan laptop masing-masing di sofa-sofa empuk ala lounge. Memang asik kalo ngenet gratis ditemani cemilan dari coklat plus secangkir cappuccino, hmmm….

Menu yang ditawarkan ternyata tak hanya seputar coklat. Seingatku memang tidak ada nasi, tapi ada beberapa pilihan pasta seperti fettuccini carbonara (bisa pilih tuna/sapi) dan camilan agak berat, seperti mayo chicken stick (sekilas mirip nugget dilengkapi saus mayonaise), french fries, croissant dan… apalagi ya? Banyak juga, sih….

Karena aku memang lagi pengen ngemil, aku memesan mix cake dan secangkir hot caramel coffee. Tapi, dipikir-pikir, karena takut kelaparan di perjalanan pulang ke Cirebon, aku juga memesan mini butter croissant. Mix cake itu sepotong cake yang bisa dipilih di counter ditambah satu scoop es krim vanila, ditaburi chocochips dan dihias sepotong biskuit oreo. Karena pelayannya bilang mix cake favorit di situ adalah Mediterranean, aku mengikuti sarannya. Sementara Icha memesan Lasagna dan minuman Cold Choco Royale (coklat dingin yang rasanya coklat banget!)

Saat pesanan datang, aku sumringah melihat lapisan cake dan krim coklat berselang-seling yang ditata cantik dengan hiasan cherry dan kepingan dark chocolate yang dibentuk abstrak berdiri di atas krim putih. Rasanya ga akan mengecewakan penggemar coklat, deh…. Tapi….

“Ini rasa apa ya? Kismis?” Tanya Icha saat dia mencicipi cake itu.

“Kismis?” Tanyaku bingung karena memang tak menemukan butiran kismis di manapun.

“Ini, agak asam gimana gitu…,” katanya sambil mengunyah dan berpikir, “kayak rhum?”

Hah? Aku ikut menyendok lagi dan mulai memperhatikan rasa asing tapi wanginya cukup familiar itu. Soalnya, beberapa kali aku menemukan wangi yang sama di vla di dalam kue sus atau vla puding untuk menghilangkan bau amis kuning telur. Aku sepakat dengan Icha, itu rhum.

Saat pelayan datang mengantarkan lasagna, aku bertanya padanya, “Mbak, maaf, aku boleh nanya, ya? Cake-nya dikasih rhum, ya?” Si Mbak meng-iya-kan. “Alkohol?” Tanyaku lagi.

“Iya. Tapi, kan alkohol buat makanan, Mbak,” katanya.

Teteup aja aku ga bisa makan, sesedikit apapun alkohol dari rhum ya haram. Icha udah nahan ketawa melihat wajahku yang langsung kecewa karena terpaksa bilang bubbye sama cake nan lezat menggoda itu. Kenapa harus pake alkohol, sih? Gerutuku sebal. Aku akhirnya hanya menghabiskan es krim-nya. Untung masih ada mini butter croissant (yang ternyata bentuknya ga mini :p) dihias lelehan coklat di atasnya. Kopinya juga enak, bukan kopi instan. Lasagna-nya masih lebih berbumbu yang di Nanamia, tapi enak juga, sayang pas disajikan udah agak dingin.

Pas bayar di kasir, aku melirik sebal ke arah counter yang berisi berbagai macam cake menawan tapi ga bisa dimakan itu, hiks…. Karena penasaran, aku tanya lagi sama kasirnya, “semua cake di sini pake rhum, ya, Mas?”

“Iya, Mbak,” jawabnya ramah.

“Tetep aja aku ga bisa makan,” kataku rada manyun.

“Kan rhum yang buat makanan, Mbak.”

“Alkohol apa essens?” Tanyaku lagi.

“Essens,” jawabnya senyum. Hiiiih…. makin sebel lah dirikyu. Kalo essens kan insya Allah halal. Teringat lagi potongan besar cake yang tadi kucuekin.

“Mbak-nya nggak nanya, sih…,” kata Mas di kasir lagi, kali ini sambil nyengir.

Hwah…. Laen kali aku mau pesan yang lain aja lah, biar ga ragu-ragu 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Edisi Jogja: Memanjakan Lidah

    • Kalo liburan kan boleh menggendutkan diri siy, Ta…. Jangankan ke Jogja, waktu ke Bali aja makannya nasi padang ma McD juga (abis waktu itu belom tw tempat makan halal), hehe…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s