Edisi Jogja: Sopir-sopir Aneh

Waktu ke Jogja minggu lalu, pembatalan keikutsertaan teman-temanku agak mendadak, hanya berjarak empat hari sebelum long weekend. Karena tadinya kami akan pergi ke sana dengan membawa mobil pribadi, aku jadi tak sempat lagi memesan tiket kereta. Semua kereta Jakarta-Jogja atau Jakarta-Solo yang melewati Cirebon fully booked. Sempat terpikir untuk naik kereta ekonomi. Tapi, kereta ekonomi dari Jakarta biasanya telah penuh ketika sampai di stasiun Prujakan Cirebon, hingga temanku bilang, aku mungkin harus berdiri sampai stasiun Gombong. Owh, no, thanks!

Maka, aku memesan tiket travel untuk keberangkatan jam 8 pagi. Ada beberapa travel Cirebon-Jogja yang bisa menjadi pilihan, Fadila dan Permata adalah dua di antaranya. Yang paling populer adalah Fadila. Dalam sehari, terdapat dua jadwal keberangkatan: pukul 08.00 WIB dan pukul 20.00 WIB. Harga tiketnya Rp 100.000,00 sudah termasuk air mineral gelas dan snack. Kelebihan naik travel adalah kita akan diantarkan sampai alamat tujuan. Berhubung aku belum tahu lokasi penginapan yang kupesan (cuma tahu letaknya di daerah Kotagede), maka aku memperlihatkan secarik kertas berisi alamat wisma itu pada Pak Sopir yang langsung mengangguk-angguk.

Awal perjalanan sih, sama sekali tak ada masalah. Mitsubishi L-300 yang kunaiki sedikit terguncang karena jalur alternatif dari Brebes menuju Kebumen memang kecil dan rusak di sana-sini. Di beberapa ruas jalan, mobil harus bergerak pelan karena jalanan berlubang-lubang dan rusak parah. Dalam kondisi seperti itu, memang kurang memungkinkan untuk kebut-kebutan. Tapi, lama-lama kondisi jalan semakin membaik dan akhirnya benar-benar mulus hingga ke Jogja.

Masalahnya, aku baru sadar kalau Pak Sopir yang ramah itu ternyata terlalu santai. Ketika beberapa papan nama menunjukkan bahwa kami telah memasuki daerah Gombong, aku melirik jam yang hampir menunjukkan pukul 14.00 WIB. Karena jarang melewati jalur itu, aku berpikir-pikir, Harun bilang normalnya perjalanan Cirebon-Jogja ditempuh dalam waktu 6 jam. Oke, berilah toleransi waktu satu jam. Maka, harusnya pukul 15.00 WIB kami telah sampai, setidaknya di perbatasan provinsi.

Nyatanya, lewat dari jam dua siang, travel baru sampai di rumah makan untuk beristirahat. Dan pukul 15.00 WIB, travel masih juga berada di wilayah Kebumen. Nyampenya jam berapa, nih? Aku mulai melihat pemandangan di luar dengan gelisah. Kadang-kadang, aku mengintip jalanan di depan dan gemas sendiri melihat kendaraan-kendaraan lain di belakang menyalip kami dengan mudahnya karena memang lajunya agak santai. Haduuuh, aku cuma punya libur tiga hari dan rada ga rela satu hari terbuang percuma di jalanan.

Tadinya, karena melihat di internet kalau wisma yang kutuju memiliki kolam renang, aku udah bercita-cita untuk menyempatkan diri buat berenang sore biar segar (lebih tepatnya, sih, nyemplung terus berendam sambil berkecipak-kecipak ga jelas karena ga pandai berenang, hehe…. :p). Lah, kalau sesore ini aku masih di provinsi lain, boro-boro pengen nyebur deh, pengennya begitu sampai langsung merem aja kali….

Sekitar jam 5 sore, barulah kami sampai di daerah Wates. Aku dah H2C alias Harap-harap Cemas pengen dianterin paling pertama. Oow, tet… tow… Anda kurang beruntung! Setelah si travel kelayapan di Jogja, bahkan ada penumpang yang turun di depan kampus ungu segala (jangan-jangan mbak cantik yang suka ada di Indomaret depan itu juniorku, ya? :D), aku dianterin terakhir…. Huhuhu…. Jadilah aku sampai di Wisma Martha saat Magrib.
Si Botak dan Harun yang ku-sms ga percaya kalo perjalanan dari depan kosku hingga Wisma Martha ditempuh dalam waktu 10 jam, ckckckck….

Lain saat pergi yang sopirnya kelewat santai, lain lagi saat pulang ke Cirebon.

Sabtu siang, aku memesan travel untuk keberangkatan Hari Minggu jam 8 malam agar tiba di Cirebon sebelum Subuh (dengan catatan sopirnya bukan yang barusan kuceritain :p). Minggu siang, saat aku tengah makan nasi padang, aku tak menyadari HP-ku ditelepon sebuah nomor simpati asing berkali-kali. Sebuah sms masuk, mengatakan agar aku siap-siap dijemput jam 7 malam oleh travelnya. Aku hanya membalas singkat: ok. Nomor itu kembali mengirim sms, dijemput di pasar concatnya sebelah mana?

Aku memang tidur di tempat Icha Hari Sabtu malam untuk pengiritan biaya penginapan :p Karena rumah kontrakannya jauh di pelosok Wedomartani, aku meminta dijemput di depan Pasar Condong Catur (Concat). Pasar itu kecil. Saat memesan travel, aku bilang pada mbak-nya bahwa jika ada sebuah travel nangkring di ring road depan pasar, pasti mudah dikenali, jadi biar aku yang menemukan travelnya, sopirnya santai aja. Lebar pasar itu cuma seemprit koq. Tapi, entah si mbak-nya membayangkan pasar itu segede Mangga Dua atau gimana, dia keukeuh menanyakan aku mau menunggu di depan toko apa, atau bangunan apa. Rupanya si sopir yang meng-sms-ku tadi punya pikiran yang sama dengan mbaknya itu. Akhirnya untuk memudahkan, Icha menyarankanku untuk meminta dijemput di depan kampus kami, kampus ungu tercinta.

Dimana tuh?

Adalah balesan sms dari si sopir. *Gubrak*

Cial banget tu sopir, masa kampus dengan 8 prestasi dunia dan jadi percontohan UNESCO untuk kampus dengan keuangan mandiri itu ga tau sih? (Padahal aku aja baru nemu kampus ini gara-gara iklan di RCTI, hahahahaha…. *ketawa guling-guling*). Nasib…. punya kampus ga ngetop.

Dengan amat sangat berat hati, aku menjelaskan kalo kampus ungu ngejreng itu ada di seberang kampusnya Harun (hu…. Nyengir deh dia!). Kalo ga tau juga, sopirnya dipecat aja deh!

Sore hari, nomor si sopir kembali mengirim pesan singkat, bahwa jam penjemputan diundur jadi 19.15 WIB. Aku cuma mengiyakan aja. Eh, lagi-lagi sopirnya nanya, jadinya dijemput dimana nih? Ampyun DJ, ni sopir hobi banget sms-an atau gimana, sih? Mentang-mentang simpati lagi promo tiga kali sms dapet gratisan 100 sms gitu? Dengan agak kesal, aku kembali menyebutkan kampus ungu di seberang kampusnya Harun. Ok, katanya.

Habis Magrib, selesai shalat dan mandi, tiba-tiba datang sms-nya:

Mohon siap-siap. Travel sedang meluncur ke tempat Anda.

Lhooo? Aku protes, kan tadi janji dijemputnya jam 19.15?

Ternyata maju lagi jadi jam 7. Dah, gi siap-siap aja.

Hwaaaahhhh…. Rasanya aku udah pengen maki-maki ni sopir, sembarangan banget, sih?!!! Tapi, mengingat aku dapat kursi di depan –yang artinya aku bakal duduk di samping si sopir sepanjang perjalanan ke Cirebon- jelas situasinya bakal ga enak kalo aku ribut sama dia. Aku ga minat balas lagi. Langsung dandan sambil ngomel-ngomel diaminin sama Icha. Icha juga ikut ngomel-ngomel karena berarti ia harus mengantarkanku naik motor ke kampus sambil ngebut –meskipun sebenarnya dalam situasi santai pun dia bakal ngebut juga, sih, hehe…. Bekas luka di lenganku saat kami berdua dulu jatuh dari motor karena disenggol mobil box adalah saksi bisunya, hehe….

Saat sampai, si sopir dan mobil travel udah nangkring di depan kampus. Aku sama sekali ga minta maaf, malah mukaku diset rada jutek. Setelah pamit cipika-cipiki sama Icha ditontonin sopirnya dengan ga sabar, aku masuk. Si sopirnya –yang ternyata masih muda- nanya, “Rumahnya di mana, Mbak?”

“Klayan,” jawabku, mengira ia bertanya tujuanku di Cirebon.
“Bukan, yang di sini…”

“Oh, Wedomartani,” sahutku pendek karena ga minat basa-basi. Sepanjang perjalanan pun aku sama sekali tak berusaha beramah-tamah dengannya. Duduk di depan membuat perasaanku ga nyaman. Tambah ga nyaman karena ternyata sambil nyetir, si sopir lumayan sibuk sms-an dan telpon-telponan. Haduh… duh… Bener-bener, deh… Pengen aku getok kepalanya!

Kalo menelpon masih mending lah, secara dia juga pake headset. Tapi kalo sms-an… Tu mata kan sibuk ngeliatin layar, padahal nyetirnya juga ga sesantai sopir yang sebelumnya. Sambil berusaha merem (soalnya takut ngantuk di kantor keesokan harinya), aku berdo’a semoga perjalanan ini selamat. Rasanya koq maut begitu dekat mengintai…. Padahal, sih, yang namanya maut ya teteup mengintai meskipun aku lagi leyeh-leyeh di kos, ya?

Saat aku hampir terlelap, aku merasa jalannya mobil ada yang salah. Begitu aku membuka mata, aku langsung refleks berteriak karena sepasang sorot lampu milik truk dari arah berlawanan nyaris menghantam hingga sopirnya membanting stir ke kiri (itupun hampir nabrak kendaraan yang di depan karena lajunya sedikit lebih lambat dari travel yang tengah menyalip). Sejak kejadian itu, aku hampir ga bisa memejamkan mata lagi.

Menjelang subuh, ketika sampai di Cirebon dan tinggal aku dan satu orang penumpang lagi di belakang yang belum diantarkan (yeah, lagi-lagi aku dianterin terakhir), sopirnya bertanya, “Semalam ngigau, ya, Mbak?” Cuma perasaanku aja, atau dia emang tiba-tiba tersenyum menggoda?

“Ngigau apaan?”

“Itu, sampe teriak segala….”

“Ya gimana ga teriak, orang hampir nabrak gitu,” kataku sewot.

“Ga akan nabrak lah kalo mobilnya sama-sama maju, kecuali ada yang berhenti mendadak,” jawabnya santai. “Kayak gitu kan biasa kalo di jalan.”

“Aku sih ga biasa!” Aku masih sewot. Teringat bagaimana orang tuaku nyaris menjadi korban kecelakaan bertahun yang lalu saat mobil sedan yang dikendarai kakak iparku dihantam truk hingga mulut sedan itu nyungsep di bawah si truk. Teman kakak iparku yang duduk di sebelahnya meninggal dunia, sementara Mamaku luka berat. Papa sempat kehilangan memori untuk beberapa waktu, namun setalah di CT Scan, alhamdulillah semuanya baik. Waktu itu, kakak iparku sempat takabur karena merasa ia jago menyetir malam. Warning nih buat yang suka nyetir! Kadang takabur kayak gitu ga kerasa, keceplosan, atau malah dalam hati aja.

Mamaku masih trauma kalo naik mobil malam-malam. Dan yang terakhir dilihat Mama sebelum truk itu menghantam adalah sorot lampunya yang besar sungguh menakutkan. That was exactly what I feel waktu si travel hampir nabrak malam itu. Tapi si sopir meremehkan banget. Makin sebal aku jadinya.

“Habis ini mau ke mana?” Tanya si sopir lagi.

Maksud loooo? Dalam keremangan subuh, aku nyaris melotot ke arahnya. YA JELAS MAU PULANG LAH, yang dugem aja jam segitu mah udah mau pulang juga kaleee….

“Rumahnya di sini ya?” Tanyanya ga penting. Oh Mama, oh Papa, kalo pertanyaan dia makin basi, aku kasih hadiah kerupuk deh, biar sama-sama garink. Akhirnya, karena aku cuma menjawab singkat-singkat dan judes, dia berhenti bertanya-tanya ga penting lagi. Uh! Laen kali aku ke Jogja naik kereta api aja!!!!

Advertisements

8 thoughts on “Edisi Jogja: Sopir-sopir Aneh

    • Huuu… Judes aja masih diisengin, apalagi kalo ramah… bisa-bisa aku harus ngerekrut septa buat ngurusin fans club-ku, wkwkwk…. *ngimpi*

    • hwaaa… waktu komen aku ngasi alamat ini tah? Ketauan dehhh…. :”> hehe…. iya, katanya wordpress lebih ramah komen, jadi harus dibuktikan :p

  1. CaLiWa says:

    Ckckckc, liburan isinya pengen geplak orang, pengen gampol orang, pengen nabrak orang, trus yang kasih komen mo diapain we? ^_^
    Emang kadang aneh-aneh si supir, ada yg yakin bakal masuk surga jd nyetir seenak udelnya, ada yg ga ada yakin2nya masuk surga jd super ekstra hati-hati..

    • Yang komen aku do’ain masuk surga, huehehehehe…. Amin… ^_^
      Makanya aku ajakin wewe liburan… Yuuukkk… *ngelirik peta S’Pore* :p

  2. Rimoen says:

    cekakakkaka. nasip banget ye para supir di omelin penumpang terus. padahal supir itu tanggung jawabnya besar nyawa orang banyak di tangan dia.malah penumpang banyak yang sewot alias sok sok an. nek mau pelayanan oke. tuku kendaraan pribadi ga usah naik kendaraan umum.
    wkwkwkwkkwkwkwkkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s