FRENEMIES

Besties or frenemies?

Istilah ini pertama kali aku temukan waktu membuka-buka majalah Elle punya adenya Bu Eko. Awalnya aku cuma tertarik liat foto artikelnya yang lucu. Di foto itu, dua orang model cantik -dalam balutan gaun desainer ternama, tentunya- tengah melayang di udara, saling berhadapan sambil memegang pedang dengan posisi siap menyerang. Kewl! (sayang majalahnya ga bisa dicilok buat di-scan :D)

Saat membaca judulnya, aku tergelitik dengan istilah ‘frenemies’. Seperti yang mudah ditebak, istilah ini berasal dari ‘friend’ dan ‘enemies’ yang digabung jadi satu. Intinya, istilah ini merujuk pada persahabatan yang menjadi bumerang, bagi salah satu atau kedua pihak.

Kasus selebritis dunia yang dijadikan contoh adalah persahabatan Gwyneth Paltrow dan Winona Ryder. Disebutkan, persahabatan mereka retak saat Winona menuduh Gwyneth mencuri naskah film Shakespeare in Love yang mengantarkan Gwyneth sebagai peraih Oscar untuk pemeran utama wanita terbaik. Gwyneth juga menulis dalam blog bahwa ia senang seorang yang tadinya ia anggap teman namun bersikap buruk akhirnya kena batunya. Disinyalir, tulisan ini ditujukan untuk Winona yang tertangkap basah saat mengutil di sebuah toko.

Aku yakin, bukan cuma seleb, tapi banyak di antara kita yang mengalami ini dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam hidup, orang-orang selalu datang dan pergi. Yang bertahan hanyalah keluarga, sahabat dan kasih sayang *cwiwit!*. Namun, sulit sekali menyebutkan bahwa seseorang adalah sahabat sejati sebelum teruji dengan jarak, waktu dan tingkat kesulitan dari ujian yang mendera keduanya *halah* 🙂

Di awal, kita mungkin merasa cocok dengannya. Lama-lama, sikapnya mulai membuat sebal. Ia terus-menerus membuat kita kecewa, tak ada lagi keseimbangan antara take and give. Akhirnya, tak ada lagi value yang bisa kita ambil dari persahabatan seperti ini. Daripada terus makan ati -meskipun kaya akan zat besi *towewww*- ya lebih baik diturunkan derajatnya dari sahabat menjadi teman biasa. Haha…. Bisa gitu ya, turun pangkat!

Segala sesuatu dalam hidup harus ditimbang manfaat dan mudharatnya. Kalau lebih banyak kerugiannya, tak ada salahnya menjaga jarak. Bukan berarti memutuskan silaturahmi dengan ‘mantan sahabat’ (kecuali kalau dia benar-benar mengganggu, seperti parasit atau backstabber). Saat dia kesulitan dan kita bisa membantu, ya teteup berusaha bantu, meskipun mungkin prioritasnya sudah berbeda :).

Artikel ini jadi bahan renungan juga buatku. Untuk para sahabat manis yang telah bertahan untukku hingga bertahun lamanya, melewati susah-senang-tangis-tawa hingga kelaparan bersama karena kehabisan duit kiriman ortu :D, jangan sampai aku menjadi frenemies bagi mereka, na’udzubillah!

Hmmm… Ada kata-kata bagus dari teendiariesonline.com:

If you’re an eagle, don’t hang around chickens: Chickens Can’t Fly!

Haha!

Sumber foto: http://www.bellasugar.com

PS. Koq postingannya makin ga jelas gini yah *garuk-garuk kepala*

Advertisements

8 thoughts on “FRENEMIES

  1. ..
    Sahabat itu ibarat pisau..
    Semakin di asah semakin tajam..
    Kalo gak ada konflik malah gak asik..hi..hi..
    ..
    Sahabat datang dan pergi sudah biasa..
    Hilang satu tumbuh seribu, kayak semboyan teroris ya..he..he..
    ..
    Ayam memang gak bisa terbang seperti elang..
    Ayam juga gak bisa berkokok tengah malam..
    Tapi ayam bisa bangunin orang di pagi hari..
    🙂
    ..
    -AtA-
    ..

  2. CaLiWa says:

    Huhuhue..Baru di WP, jd bingung cara kasih komennya 😀
    Btw, backstabber tu apaan ya? Bisa minta tolong kasih contoh yg jelas? *hahahahaha becanda we..*
    Selamat ya pny blog baru..

    • Wkakakaka…. Wewe punya akun di WP juga ya, bisanya ntu si pucuk nongol di avatar 😀

      Backstabber mungkin dulunya sepupuan sama backpacker, cuma abis ditusuk jadi putus hubungan… hwah, jaka sembung mabok :p

  3. CaLiWa says:

    Makanya binun tuh si pucuk koq ya eksis, kan ntar pasaranku berkurang 😀 hahahahaha
    Dl punya cm dah lupa soalnya ga pintar pake WP

  4. Frenemy

    Friend tapi sekaligus juga Enemy …
    saya baru dengar istilah ini …
    dan setelah saya kaji lebih lanjut …
    ini mungkin saja terjadi …

    Mungkin bahasa kitanya bertajuk … Musuh dalam selimut ?

    Maybe ?

    Nice Article

    Salam saya Mida

    • Musuh dalam selimut? Hmm… Bisa juga ya Om. Meskipun, imho, kedua pihak yang menjadi frenemies pada mulanya berniat baik untuk menjalin persahabatan, hanya saja hubungan mereka memburuk. Sedangkan musuh dalam selimut bisa jadi memang memiliki niat negatif dari awal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s