Oh, Carol!

Sabtu malam kita masih bercanda tentang besi-besi tua, tentang ramalan Dewi untukku hingga Kadal Keren yang muncul di TV. Maka, hatiku mencelos ketika pagi-pagi membaca sms-mu di nomor axis. Tak percaya karena begitu tiba-tiba. But you said you were okay. Mungkin laki-laki itu hanya bercanda.

Jadi aku lewatkan akhir minggu bersama keluarga kecil Susan: datang ke pengajian, facial+chemical peeling, cuci mata di mal, mencicipi poffertjes dan Yogen Fruzz untuk menghibur diri serta menggoda bayi Eilen dan mengelus kucing mereka yang bernama Keyla. It was such a normal weekend.

Well, almost.

Seumur-umur aku tak pernah melihatmu menangis. Biasanya juga aku yang termehek-mehek. Maka saat mendengar isakanmu di telepon, mengatakan pernikahan itu benar terjadi, hatiku sakiiit rasanya. Speechless.

Kenapa kita harus mengalami kisah cinta yang hampir sama, luluh lantak di waktu yang juga hampir bersamaan? Dan kita bahkan memiliki pertanyaan yang sama: kenapa ia tega melakukan itu? Dilambungkannya perasaan dengan kata-kata dan sikap penuh kasih hingga kita terbius, ditunjukkannya rasa sayang di depan orang-orang dan teman-teman hingga mereka berkata, ‘kalian kayanya soulmate, deh, kapan merit?’, lalu tiba-tiba dicampakkannya kita bagai sampah dan bersikap, ‘sorry, aku tak bisa bersamamu, aku telah memilih yang lain…‘.

Aku tahu rasa sakitnya. Aku bahkan belum bisa sembuh. Dan mengetahui kau mengalami yang jauh lebih buruk adalah hal terakhir yang ingin kudengar. Padahal kebaikan di hatimu jauh lebih banyak dibandingkan yang kumiliki, tapi ternyata masih ada saja laki-laki idiot yang tega menyakitimu.

Oh, sweety, lihatlah aku! Sejak kejadian pengkhianatan itu, aku menjadi seorang yang lemah dan sangat pemarah. Tulisanku bahkan tak berjiwa, kehilangan ketenangan dan keceriaannya seperti dulu. Dan karena aku telah melaluinya lebih awal, aku memintamu untuk tidak menjadi sepertiku.

Kesedihan, kemarahan bahkan kebencian akan menjadi karibmu beberapa hari ke depan. Manangislah! Tak apa, sungguh… Jangan merasa lemah karenanya. Air mata mungkin akan membuat lukamu terasa lebih perih, tapi ia juga membantu menyembuhkan. Dan meskipun aku mengatakan ingin terbang ke kotamu untuk menampar laki-laki itu, dengan berat hati, aku harus mengatakan bahwa jalan terbaik adalah memaafkannya. Bukan untuknya, tapi untuk ketenangan hati kita.

Sulit. Aku tahu. Aku pun masih sulit berdamai dengan kata itu. Namun di situlah letak trofi kemenangan kita berada. Bukan pada perpisahannya dengan perempuan lain itu. Susah untuk diterima memang, tapi percayalah, meskipun mereka tak jadi menikah, dunia kita tidak akan menjadi lebih baik.

Lalu kenapa Tuhan menimpakan ini pada kita?

Untuk belajar, sweety! Karena kita istimewa.

Lihatlah bagaimana teman-teman dulu memandang kita. Mereka pikir hidup kita kelihatannya serba enak: punya banyak uang, selalu tertawa, hepi, suka makan enak, nilai-nilai di ijazah yang membuat orang tua tersenyum bangga, tak kesulitan mendapatkan pekerjaan…. Mereka tak tahu bagaimana kita jungkir balik mengatur belanjaan agar cukup untuk sebulan. Tak tahu kita pernah kehabisan uang dan membeli sebungkus roti bakar untuk tiga kali makan. Tak tahu kita nyaris nangis darah mengerjakan tugas kuliah karena tak ada yang bisa ditanyai atau dimintai bantuan. Tak tahu kita hanya bisa menertawakan masalah-masalah yang bikin ruwet di kepala agar tetap waras tanpa menjadi seorang pengeluh, tanpa terlihat ingin dikasihani atau malah dipuji orang.

Well, mungkin hingga saat itu kita bisa melalui ujian hidup dengan cukup baik. Jadi diuji-Nya kita dengan persoalan cinta yang mengejutkan. Karena kita berdua sama-sama tidak mudah jatuh cinta. Ya, tak seperti teman lain yang gonta-ganti pasangan selama sekolah dan kuliah untuk have fun, kita justru menyimpan perasaan itu bagi calon suami terbaik. Maka alangkah menyakitkan karena saat kita mulai percaya telah menemukannya, justru dialah yang mempermainkan perasaan tulus kita.

Satu hal yang harus disyukuri adalah Tuhan menganugerahkan orang-orang baik di sekeliling kita. Selalu tersedia pelukan, nasihat, tawa dan penghiburan saat kita saling membutuhkan. Dan mereka juga tak pergi saat kita bertingkah menyebalkan. Dan seperti itulah harusnya laki-laki sumber tulang rusuk kita nanti. Bukan seseorang yang tak bisa menghargai perasaan kita.

Kita akan sembuh, dear, insya Allah. Kelak, kita mungkin akan minum kopi sambil ngemil di Orchard Road sambil menertawakan hal ini bersama pasangan kita. Dan semoga di umur yang tersisa, kita masih bisa menikmati keberkahan dari sebuah persahabatan yang indah. Amin.

Be brave, girl!!! Luv u!

Advertisements

16 thoughts on “Oh, Carol!

  1. CaLiWa says:

    Hahahaha, akhirnya aku nangis juga ya we 😀
    Semoga semuanya lebih baik ke depannya.
    Makasih atas waktu, telinga, dan hatimu untukku.

    • Yaelaaa… Meggy Z aja sampe termehek-mehek nyanyi lagu ‘lebih baik sakit gigi daripada sakit hati iniiiiii…’ atau ‘sungguh teganya dirimu teganya 99x…’

      *serius*

      Dikhianatin itu menyakitkan loh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s