Revolutionary Road

Curhat#1:
Udah dua kali Mimi menangis. Awalnya, Mimi bertengkar dengan Mamak gara-gara hal sepele. Dede yang mendengar cekcok itu kemudian menyarankan salah satu untuk pergi agar adu mulut tidak berkepanjangan. Maksud Dede, Mimi dan Mamak jangan berada di ruangan yang sama. Namun, Mamak tersinggung karena disangkanya Dede mengusir beliau. Jadilah pertengkaran semakin berlarut karena tak ada yang mau mengalah hingga Mamak pergi dari rumah dan sudah beberapa hari ini tidak pulang.

Curhat#2:
Seorang adik kelas di kampus memiliki pacar yang ternyata suka memukul. Ia bertanya, ‘jika seorang cewek yang mengalami KDRT memilih bertahan, berarti cewek itu bodoh ya?’. Aku berusaha hati-hati memilih kata. Aku sadar, akhir-akhir ini ucapanku memang kadang suka seenaknya pada semua orang. Pikirku, aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Aku lupa bahwa kejujuran bisa disampaikan dengan lebih lembut. Maka, aku belajar lagi untuk memperhatikan sikapku, sebisa mungkin tak menyalahkannya. Katanya, setelah memukul hingga adik kelasku itu lelah menangis, si pacar akan memandanginya dengan penuh penyesalan lalu minta maaf. Wajahnya tentu mengiba hingga temanku nggak tega. Ya, begitulah tipikal pelaku KDRT, tidak heran. Dan pasangan yang menjadi korban biasanya akan bertahan karena dipikirnya hal itu merupakan pembuktian cinta. Mana tahu, si pelaku KDRT akan melihat pembuktian cinta itu hingga mau berubah. Untungnya, mereka belum terikat pernikahan seperti temanku yang lain yang menolak untuk meninggalkan suaminya demi anak. Berselang berapa hari berikutnya, dia mengirimkan sms lagi bahwa ia telah memutuskan untuk meninggalkan laki-laki itu.

Curhat#3
Pernikahan sepasang suami-istri berakhir pahit di meja pengadilan. Aku selalu ingat bagaimana sang istri dulu menceritakan tentang kisah cinta mereka yang bak novel karena mereka telah berteman dari kecil. Beberapa bulan setelah pertemuanku dengan sang istri, sang suami membawa seorang temannya untuk ikut di salah satu kegiatan kantor. ‘Teman’ itu kini merupakan kandidat pengganti sang mantan istri untuk menduduki tahta ratu keluarga yang baru. Tidak, awalnya ini memang bukan masalah perselingkuhan. Tapi, aku sungguh menyesalkan, saat rumah tangga tengah berkonflik, menjalin kedekatan dengan lawan jenis tak akan memperbaiki apapun, meskipun mungkin hanya untuk curhat.

Hmmm… Bagi beberapa orang, buku ‘The Secret’ mungkin hanya lelucon. Namun, aku meyakini (meski tidak 100%) hukum ketertarikan itu ada benarnya, bahwa alam akan ‘memberi’ apa yang kita pikirkan.

Pikiranku yang kini selalu negatif memandang sebuah hubungan cinta, membuat cerita-cerita pedih seperti ini tertarik masuk ke dalam hidupku. Aku sampai kehilangan kepercayaan bahwa cinta tulus antara lelaki dan perempuan itu benar-benar ada. Gimana mau percaya, coba, kalau kisah-kisah nyata yang sampai padaku semuanya berakhir tidak bahagia kayak curhatan-curhatan di atas? Kepala mau meledak rasanya hingga aku ingin menjerit, ‘tolong dunk, kasih aku link tentang kisah cinta sejati yang bahagia…’. Huhuhu…

Saat Bu Eko memintaku untuk menonton film Revolutionary Road, aku sempat menolaknya karena bagiku film itu menggambarkan sebuah sisi kehidupan pasangan yang menjemukan dan menyesakkan hati. Aku takut semakin tak mempercayai lembaga pernikahan. Tapi Bu Eko penasaran karena ia memiliki beberapa pertanyaan tak terjawab saat menontonnya. Mungkin aku bisa menemukan yang ia lewatkan.

Meski telah menolak lebih dari sekali, eh, saat aku lagi mantengin HBO di rumahnya, film ini malah diputar ulang, huhuhu… Jadilah aku berusaha memahami konflik yang terjadi pada pasangan yang diperankan oleh Leonardo diCaprio dan Kate Winslet ini.

Pertanyaan Bu Eko#1
Kenapa mereka merasakan emptiness and hopeless? Bukankah hidup mereka mulai mapan dan baik-baik saja?
Jawabku: Mereka jenuh. Si suami melakoni pekerjaan yang tak sesuai minatnya ditambah bos yang menurutnya tak memiliki keselarasan visi. Sementara si istri merasa lelah harus memerankan istri karyawan kelas menengah sekaligus tetangga yang sempurna tanpa cela. Ia pun gagal dalam meniti karier sebagai aktris panggung. Ia ingin lebih mengekspresikan hidupnya tanpa harus memusingkan omongan orang lain.

Pertanyaan#2
Kenapa si istri keukeuh menggugurkan kandungannya?
Jawabku: Karena ia merasa punya hak untuk tidak menginginkan anak lagi. Lagipula, di tengah konflik, kehamilan ini dianggap telah menggagalkan rencana mereka untuk pindah ke Paris. Maka, ketika sang suami memutuskan untuk tetap tinggal di Amerika dan menerima tawaran promosi jabatan dengan gaji lebih tinggi, sang istri juga mengambil keputusan menggugurkan janin sebagai bentuk ‘ini hakku’ dan juga untuk ‘membalas’ suaminya.

Pertanyaan#3
Kenapa ia tak menggugurkan kandungannya di dokter atau rumah sakit yang lebih aman?
Jawabku: Jujur, aku juga kurang mengerti. Mungkin karena si istri merasa lebih praktis kalau melakukannya sendiri, toh alatnya sudah ia beli dari jauh-jauh hari (sebelumnya, alat penggugur kandungan ini sempat membuat suaminya ‘ngamuk’ karena ia menganggap istrinya tak punya hati nurani hingga tega membunuh bayi mereka sendiri). Dengan begitu, kupikir, si istri lebih ‘puas’ dalam membalas keputusan suaminya yang dianggapnya telah menghancurkan mimpinya.

Ini penafsiranku, lho, jadi sah-sah aja kalo ada yang berbeda pendapat.

Yah, setidaknya aku bisa mengambil pelajaran dari film ini. Konflik tak akan selesai bila dihadapi dengan kemarahan, keras kepala apalagi dibumbui selingkuh. Ketidaksesuaian pemikiran pasangan ini cukup menakutkan, bagaimana jika itu terjadi padaku? Bagaimana jika aku bosan setengah mati sedang suamiku nanti tak bisa memahami itu? Karena dengan mengalah, justru si istri ternyata malah makin ‘menggila’ karena tertekan. Na’udzubillah….

Maka, aku mulai berusaha mengubah pikiranku menjadi positif dan belajar untuk ikhlas. Aku ingin menarik lebih banyak kebahagiaan dalam hidupku. Dan kata ‘ikhlas’ akan membawaku kepada kedamaian dan kejernihan pikiran. Aku harus percaya bahwa Tuhan masih menyediakan sebuah cinta yang sebenar-benarnya cinta jika aku memberikan sebenar-benarnya ketaatanku pada-Nya. Ah, jadi malu…

Mungkin tak sampai berevolusi, tapi yang jelas banyak hal yang harus kubenahi dalam hidupku, termasuk sisa-sisa kemarahan dan kekecewaan yang harus segera kubersihkan dari hatiku.

Advertisements

6 thoughts on “Revolutionary Road

  1. Film Revolutionary Road ini diambil dari novelnya Richard Yates, say… Kadang esensi yg ingin disampaikan bisa tertangkap jauh lebih baik dengan membaca bukunya 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s