Zahra

Bukan rintik rinai sejak fajar yang menunda keberangkatan kami ke Bandung hari itu….

Sudah hampir seminggu Mbak Nani, sekretaris bos di sini, tidak masuk kerja karena demam putri tunggalnya tak kunjung reda. Jum’at pagi, beredar kabar bahwa bayi cantik itu divonis terkena DBD. Kami kemudian menjenguknya ke rumah sakit sepulang jam kantor. Ternyata sudah masuk ICU dan tak ada satu pun dari kami yang tega melihat bayi mungil di balik jendela itu terbaring tak berdaya dengan selang-selang dan masker oksigen menutup mulutnya. Melihat Mbak Nani berjuang menahan air mata saat menemui kami justru semakin membuatku ingin menangis.

Sabtu dini hari, aku menyalakan HP setelah selesai di-charge. Sms dari Bu Eko langsung masuk, kupikir konfirmasi tentang keberangkatan kami hari itu yang direncanakan jam tujuh pagi agar bisa tiba di Bandung sebelum Dhuhur. Yang kutemukan justru kalimat singkat: Nouy, anaknya mba nani meninggal….

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un….

Rasanya baru kemarin kami berkunjung ke rumahnya dan melihat bayi mungil itu untuk pertama kalinya. Begitu rapuh, dengan senyum secantik ibunya. Senyum yang juga mengembang di wajah eyangnya. Kelahiran putri pertama yang telah diimpikan selama bertahun-tahun. Namun, belum juga hilang ingatan akan syukuran akikahnya, Sang Pemilik telah memanggilnya pulang….

Setelah gerimis reda, aku, Bu Eko dan Pak Eko, Harun dan Gunle berangkat untuk ikut menyalatkan jenazah Zahra. Sayang, salat ternyata dilakukan lebih pagi sehingga kami langsung menuju pemakaman.

Ah, tak ada kata yang terucap melihat tanah menerima jasad kecil tak berdosa itu. Selesai do’a diucapkan, hati kami tersayat melihat tangis ibundanya kembali pecah sehingga ia dipaksa dipapah pulang suaminya. Sungguh lama penantian mereka untuk menyambut Zahra, namun sungguh singkat kehadirannya menebar tawa di dunia….

Aku teringat tentang kisah Isra Mi’raj Rasulullah SAW. Di salah satu lapisan langit, Rasul melihat anak-anak kecil tertawa gembira di sekeliling seseorang. Saat bertanya, malaikat menjawab bahwa itu adalah ruh anak-anak yang dijaga oleh Nabi Ibrahim a.s.

Kemurnian mereka akan membuat surga lebih ceria….

Semoga Mbak Nani dan suami bersabar dan tawakkal, hingga kesabaran itu akan mempertemukan mereka dengan Zahra kembali di surga. Dan semoga Allah telah mempersiapkan kehadiran adik-adik Zahra untuk mengganti keikhlasan mereka melepasnya.

Amin.

NB: Kepulangan Zahra juga menjadikan pelajaran bagi kami: jangan menyepelekan demam anak. Awalnya, dokter pertama hanya memberikan obat demam dan antibiotik. Setelah demamnya tak jua reda, barulah Mba Nani ganti dokter dan dokter itu langsung menyarankan tes darah. Kupikir agak terlambat jika Zahra baru masuk ICU justru setelah demamnya turun, padahal itu titik kritisnya. Namun, pihak RS menyatakan bahwa Zahra bukan menderita DBD, tapi terserang semacam virus yang memakan sel darah merah dan mengambil oksigen sehingga trombositnya turun (entah apa namanya, ya?) Wallahualam.

Advertisements

20 thoughts on “Zahra

  1. Mida …
    mata saya berkaca-kaca membaca kisah ini …
    saya bisa merasakan betapa hancur perasaan Mbak Nani dan Suami …
    Setelah sekian lama ditunggu …
    Akhirnya dapat …
    baru sebentar …
    sudah diambil lagi …

    Saya hanya bisa mendoakan semoga Zahra bahagia disana …
    Dan Ayah dan Bundanya diberi kekuatan oleh NYA …

    salam saya Mida

    • Betul! Mengimani hal itu merupakan kekuatan untuk bangkit lagi dan menjalani hidup dengan lebih baik, insya Allah. Salam kenal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s