Animal Lover and Hatred

Berhubung aku lagi bawa sial (semua tim yang aku dukung di Piala Dunia selalu mengalami kekalahan, bahkan Pedrosa pun finish di urutan 8, ckckck…), aku mengalihkan pusat perhatianku pada tanaman. (Terbukti setelah aku berhenti mendukung, Korsel lolos ke 16 besar :D).

Waktu Mama menjenguk putri bungsunya pertama kali setelah hampir 2 tahun tinggal di Cirebon (well, aku udah terbiasa jadi anak ilang, sih. Waktu tinggal di Jogja selama 6 tahun pun, aku cuma ditengok 2 kali: awal kuliah dan wisuda :D), Mama dan Teteh rupanya senang dengan tempat tinggal pilihanku. Awal tahun ini, aku memang menyewa sebuah paviliun yang terpisah dari bangunan utama Ibu Kos. Paviliun itu terdiri dari satu kamar luas, satu kamar mandi, dan teras sendiri. Lengkap dengan taman kecil dan kolam ikan yang sudah tak terpakai.

Pertama kali pindah sebenarnya aku lumayan menyesal gara-gara penghuni sebelumnya sama sekali tak memiliki rasa seni. Keadaan kamar benar-benar amburadul. Cat berwarna kuning mengerikan, debu menumpuk, kusen keropos, kabel dan tali jemuran semrawut, poster minuman energi terpampang dimana-mana (rupanya penyewa sebelumnya memang bekerja sebagai sales minuman ini), maksudku poster itu benar-benar ada dimana-mana: meja, kursi, lemari, tembok, jendela, langit-langit, bahkan kasur pun dibungkus spanduk minuman energi, ckckck…. Tadinya sewanya mau aku batalkan. Tapi, begitu mengintip jendela kecil di samping tempat tidur, aku jatuh cinta pada pemandangan tamannya.

Jangan bayangkan taman indah yang rapi terawat. Sama seperti keadaan kamar, tamannya juga berantakan dengan tumpukan sampah nyempil di antara tangkai dan daun. Apalagi saat itu Cirebon sedang dilanda kemarau, jadinya kering-kerontang. Tapi, begitu hari-hari berhujan tiba, kamboja dan melati yang bertahan hidup mulai mekar. Mama yang memang hobi berkebun (nggak kayak anaknya :D), menyarankanku untuk merawat taman itu. Melati yang rimbun di depan pagar harus dipotong lebih rapi. Ntar, deh… pikirku waktu itu.

Nah, begitu mengalihkan perhatian dari bola dan menamatkan cerita klasik ‘Secret Garden’, aku baru menyadari, rumput dan tanaman liar sudah tumbuh tinggi hingga sebentar lagi bakal jadi hutan rimba, huhuhu… Maka sore itu, aku memantapkan niat untuk menata taman dan mulai membabat rumput liar tanpa ampun.

Sulur-sulur melati yang tumbuh tak beraturan juga mulai aku potong. Saat menggarap bagian tengah, taraaaaa….! Ulat bulu garis-garis cokelat-hitam sebesar telunjukku (yang gendut, maksudku keduanya gendut – ulat bulu dan telunjukku :D) tengah ngendon di salah satu daun. Aku tertawa sendiri.

Aku mengenali ulat itu. Beberapa minggu sebelumnya, aku menemukan ulat kecil-kurus-kurang gizi yang entah bagaimana caranya ada di meja tulisku di kamar. Panjangnya mungkin hanya 2 cm. Karena aku memang tak begitu jijik dengan ulat bulu, aku sodok dengan kertas dan aku jatuhkan dia ke rimbunan daun depan pagar, biar dia bisa makan (kalau Mamaku tahu, aku pasti dijewer dan diomelin :D). Ulat kecil dan ulat gendut itu memiliki warna bulu yang sama.

Jadinya, aku hentikan aktivitasku memotong sulur melati. Kupikir, biar dia jadi kupu-kupu dulu, jadi daun-daun bolong yang dimakannya bisa aku bersihkan sekalian.

Minggu pagi kemarin, mumpung libur dan cuaca cerah, aku mulai mencabuti lagi rumput-rumput liar di halaman. Setelah selesai, aku memperhatikan daun-daun melati untuk mencari si gendut berbulu itu. Kusibak pelan-pelan, tapi dia ga kelihatan juga. Mungkin ngumpet di jalinan sulur-sulur dekat tanah yang masih rimbun, pikirku. Lalu tepat saat itu, sebuah kupu-kupu cantik dengan garis cokelat, hitam dan putih terbang mengepak-ngepakkan sayap di depanku. Hwaaa….

Dengan begonya aku refleks berkata, “Is that you? Is that you?” (setelah aku ingat-ingat lagi, aku bingung sendiri, ngapain aku ajak ngomong pake Cirlish ya? Cirebonan-English, maksudku…). Sayang, kupu-kupu itu terus terbang menjauh.

Setelah rimbunan melatinya aku ‘cukur’ sampai pendek, si gendut berbulu itu tetap tak ada. Maka, aku asumsikan kupu-kupu tadi adalah dia. Hiks… Jadi pengen ngamen ala Melly Goeslaw, ‘kupu-kupu jangan pergi…‘.

Yang lebih menyenangkan, ketika aku asik mengalihkan tanah dari pot rusak ke pot yang lebih bagus, seekor kucing jantan berbulu kuning rupanya mengamatiku. Aku cuma bertanya sok judes, “Apa liat-liat?”. Bosan mengamatiku, dia kemudian lewat tanpa permisi. Wah, biasanya kucing-kucing lain langsung ngibrit begitu aku judesin, yang ini cuek-cuek aja. Aku langsung memanggilnya dengan mengulurkan tangan. Ia berhenti, menatapku sejenak, kemudian menghampiri. Ia juga kelihatan hepi saat aku mulai mengelus bulu-bulu di lehernya. Horeee… dapat teman baru!

Sayangnya, ‘penguasa’ area itu ternyata kucing jantan berbulu hitam-putih yang biasanya langsung kabur begitu aku buka pintu. Jadinya, si kuning ini jarang nongol, huhuhu…

Minggu depan beli Whiskas, ah, buat si Keyla kucingnya Bu Eko sama si Kuning…

Menurutku, jika kita menyayangi binatang setulus hati, mereka mengerti koq. Tapi maaf ya, buatku hal ini tidak berlaku untuk binatang merugikan seperti kecoak, nyamuk, kelabang dkk. Dan terutama, kadal serta buaya, hahaha… πŸ˜€

Advertisements

20 thoughts on “Animal Lover and Hatred

  1. julianusginting says:

    kebetulan saya mengamankan posisi pertamax yaa…
    kalimat terakhir…ternyata ada pengecualian juga ya…saya pikir semua binatang… πŸ˜€

  2. Betul ..
    Dirumah saya ada dua kucing …
    yang entah milik siapa … tetapi senang sekali bermain di seputaran rumah saya …
    dan mereka kami beri makan …
    akhirnya … mereka jadi selalu ketempat kita deh
    serasa punya kucing pribadi …
    hehehe

    salam saya

    • Hehe… Kucing memang begitu ya, sekali dimanja pasti ketagihan dan jadi malas… πŸ˜€ Mungkin tidak sesetia anjing (seperti Hachiko), tapi kucing juga membalas kebaikan kita dengan caranya sendiri.
      Makasih udah sempat berkunjung ya, Om Trainer πŸ˜‰

    • julianusginting says:

      pak trainer…kalo di rumah saya anak kucing yg suka dateng, nangis2 minta makan.bukannya ga ngasih ke rumah sih cuma ributnya itu lho…dia mungkin lg nyari induknya yg pergi ntah kemana…mau diambil ga enak(krn bukan punya sendiri) ga diambil kasihan (uff….dilema 😦 )

  3. Saya juga pecinta binatang lho…
    Binatang favorit saya ular, hehehe

    Terus ttg piala dunia, saya jadi aktifis kalo piala dunia, gak punya jagoan, tapi pembela yg lemah. Jadi… saya menunggu kuda hitam muncul sekarang ini πŸ™‚

    • Ular? Waaww… Keren… Sebenarnya pengen juga, sih, tapi memelihara ular kayanya berat di ongkos ya? Lagipula Ibu Kosku bakal ngamuk kalo tahu πŸ˜€

      Iya, Mbak, sama… tadinya aku berharap Korea Utara bisa jadi kuda hitam. Namun, berhubung Korut satu grup dengan 2 raksasa, harapannya jadi kurang realistis πŸ˜€

    • Rencananya mw aku bikin foto ‘before and after’, jadi nunggu ‘after’-nya dulu kalo tamannya dah bagus… kira-kira 50 tahun lagi, hihihi…. πŸ˜€

      Emangnya Ata, bikin terlantar Pablo sama Miu, weee… :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s