Single Fighter

Beberapa minggu ini mati kutu. Hampir tiap kali meng-klik alamat blog yang ada wp-nya langsung diblok, terus ada tulisan: ‘Maaf, Anda mengakses konten yang kurang layak, bla… bla… bla…’. Idiiiih… giliran game online sama FB aja lancar jaya. Jadinya, boro-boro bisa blogwalking, buka dashboard sendiri aja nggak bisa, hehe… 😀

Oh, btw, pekerjaanku lagi krisis.

Tadinya, tim EO kami ada berlima. Awal tahun ini, dua orang mendapatkan pekerjaan lebih baik di tempat lain, jadi tinggal bertiga. Tak dinyana tak disangka, minggu ini dua orang temanku hampir dipastikan ditarik perusahaan lain. Jadinya tinggal satu orang… Which is… me!

Me, myself, alone….

Saat seorang rekanku bertanya, “Nggak apa-apa sendirian?”. Dengan tabahnya (ga tau pasrah :-P), aku jawab, “Insya Allah bisa koq!”.

Jauh sebelum ini terjadi, aku memang sudah meniatkan akan resign setelah event lomba fotoblog dan workshop penulisan selesai. Bukan apa-apa, kedua ide itu aku yang mengusulkan. Kalau aku tinggalkan, rasanya koq kurang bertanggung jawab. Tapi, pindahnya kedua rekanku di waktu hampir bersamaan jelas sempat membuatku linglung, sekaligus pengen ngakak… Abisnya… Lucu amat ya, jadi satu-satunya bawahan, sementara si bos sepertinya sama sekali tidak peduli pada situasi yang ada. Untung masih ada Bu Eko yang bisa kuandalkan.

Well, setelah kupertimbangkan, insya Allah aku memang masih bisa menangani kedua event itu sendiri. Lomba dilakukan secara online, jadi bisa aku monitor tanpa harus meninggalkan meja. Rencana workshop telah disusun sebagian. Kalaupun aku kerepotan, kurasa aku bisa mengajukan part-timer untuk membantuku.

Yang membuatku pusing adalah request Pakde Lama untuk trekking ke Gunung Merbabu…

Alah Mak Jaaaang!!!

Masalahnya trekking ini menyangkut nyawa. Aku ga mau kejadian pendakian Gunung Ciremai terulang lagi. Aku dan rekan-rekanku nyaris tinggal nama karena semalaman terdampar di ketinggian 2950 mdpl tanpa perlengkapan dan perbekalan cukup gara-gara operator trekking salah melakukan perencanaan beban logistik. Alhamdulillah, untungnya porter penduduk setempat yang kami sewa berhasil menemukan kami dan membawakan air minum serta membuatkan api unggun seadanya. Kalo nggak, yang punya blog ini udah nggak napak tanah deh…

Acara trekking ini memang untuk peserta pendaki pemula atau amatiran, jadi harus melalui perencanaan yang matang. Pemilihan operator yang akan menentukan guide dan porter, survey jalur pendakian, pengecekan alat, perencanaan kecukupan gizi, air, obat-obatan bagi para pendaki sebelum, selama dan sesudah trekking juga harus dilakukan detail. Termasuk juga simulasi keadaan darurat jika terjadi masalah hingga pengurusan asuransi jiwa. Itu baru sebagian, belum tetek-bengek yang lain. Dan semua takkan bisa kutangani sendiri. Harus bekerja sama dengan orang yang sudah berpengalaman.

Hmmm….

Dan seakan belum cukup, ibu-ibu -istri para pejabat di sini- ingin mengadakan seminar dengan mengundang Ibu Elly Risman, Psi. Duh, aku udah ilfil, sebenarnya. Beberapa waktu yang lalu aku sudah bolak-balik negosiasi dengan pengurus Yayasan Kita dan Buah Hati untuk acara ini. Nego tanggal, biaya dan alternatif pembicara pengganti jika Ibu Elly berhalangan. Ujung-ujungnya ibu-ibu itu membatalkan. Kan namaku yang tercemar… Apalagi ternyata mereka ingin mengadakan acara hanya selisih tiga hari dengan penyelenggaraan workshop penulisan. Kalo rencana mereka belum jelas, aku ogah ngurusinnya…

Well, rencana ke depanku memang masih gelap. Mungkin ada gunanya juga awal bulan ini aku ikut seminar di Bandung 😀 Mana tau abis ini banting stir jadi wanita wirausaha, hahaha… (Duh, tadinya pengen nulis soal materi seminar ini, abis pembicaranya keren-keren: Rhenald Kasali, Yoris Sebastian sama Cyltamia Irawan… Tapi basi nggak, ya? Hiks…)

Untuk menghibur diri sendiri, aku akan menutup postingan ini dengan salah satu quote favoritku dari Robert Kennedy:

There are those who look at things the way they are, and ask ‘why?’… I dream of things that never were, and ask ‘why not?’

Keep struggling for your dreams and have a wonderful life, everyone!

Sumber gambar di sini

Advertisements

3 thoughts on “Single Fighter

  1. CaLiWa says:

    Uh uh uh,
    Mantep ikh berjuang sendirian.
    Bearti laporannya makin seru nih. Hayu we, semangat!!! *kompor.com*
    Btw soal seminarnya ga basi koq. Aku masih nunggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s