Kondangan…

Aku dikenalkan dengan Mbak Ami oleh Bu Eko di suatu acara bedah buku. Jabat tangannya erat dan mantap, sikapnya juga benar-benar ramah, seolah kami telah lama berteman. Sebelum berpisah, kami bertukar nomor HP.

Seminggu kemudian, sebuah undangan pernikahan dari Mbak Ami sampai di inbox sms-ku.

<em>Ga akan dateng, ah… Ga begitu kenal ini</em>, pikirku nakal. Paling nanti titip kado aja sama Bu Eko. Tapi aku langsung bengong karena di sms (yang cukup panjang itu) diakhiri dengan sebuah kutipan hadits yang intinya mengatakan bahwa ketika seorang muslim diundang, maka ia wajib memenuhi undangan saudaranya itu.

Hahaha… *getok kepala sendiri*. <em>Well, okay then.</em> πŸ˜€

Menjelang hari H, aku dan Bu Eko cukup pusing dengan ‘kostum’ yang harus kami kenakan. Mbak Ami memakai jilbab super panjang, jadi hampir dipastikan acara <em>walimatul ‘urs</em>-nya tidak seperti resepsi pernikahan biasa. Bu Eko, sih, jilbabnya lebar, jadi harusnya ga masalah. Nah, aku? Baju kondanganku pan centil semua modelnya… Takutnya bajuku dianggap kurang sopan.

Setelah mengobrak-abrik, aku memutuskan memakai tunik kecoklatan yang hiasan kinclongnya ga terlalu banyak. Masalahnya, aku ga punya padanan jilbabnya. Satu-satunya alternatif, tunik itu aku padukan dengan rok dan jilbab hitam. Tapi… jadi gelap deh… (udah mah orangnya juga gelap, hehe… :D).

Pas dijemput mobil Bu Eko dan Pak Eko… Mak Oiiii… Serasi kali mereka! Bu Eko pake batik three-in-one berwarna merah bata yang segar. Pak Eko memakai baju koko warna senada. Bu Eko bahkan mengikatkan selendang batik sedemikian rupa menjadi hiasan di jilbabnya, membuat wajah Arab-Aceh (lengkap dengan hidung mancungnya yang bikin ngiri) itu keliatan makin cantik, hehe… Ga heran deh Pak Eko makin hari makin cinta… πŸ˜›

Nyampe di tempat kondangan, cobaan pertama datang… Rombongan tamu yang lain juga baru sampai karena kami datang sebelum akad nikah. Masalahnya… Rombongan itu rata-rata memakai cadar dengan gamis berwarna gelap. Padanan rok dan jilbab hitamku ternyata bukan yang paling gelap :-P. Justru Bu Eko yang jadi keliatan mencrang banget sampai dia minder sendiri, hahaha… πŸ˜€ Belum lagi selop high heels-nya yang juga kinclong. Kata dia, di pengajian yang diikutinya dengan Mbak Ami, high heels merupakan salah satu yang tidak diperbolehkan karena membuat seorang perempuan terlihat lebih menarik syahwat. Aku yang awam cuma bisa geleng-geleng kepala tak mengerti.

Dan tepat setelah itu, aku merasa ada sesuatu yang salah dengan selop wedges kesayanganku. Ternyata, selopnya mangap, sodara-sodara!!! Huhuhu… Wedges itu memang jarang kupakai karena cuma kukeluarkan saat acara istimewa. Karena kamar kosku lembab, jadi rapuh, deh… (aku ga kasih silica gel, sih). Pak Eko sampe ngakak waktu akhirnya aku berjalan menepi dan berusaha mencopot semua lapisan tebal di sepasang wedges itu. “Kayak iklan mentos”, katanya terkekeh-kekeh. Jadinya, aku memakai selop super flat yang bawahnya amburadul πŸ˜›

Akhirnya kami masuk ke rumah tempat berlangsungnya acara. Tamu perempuan dan laki-laki dipisahkan. Tak ada pelaminan ataupun meja prasmanan, seolah-olah ini hanya acara pengajian biasa. Para tamu duduk lesehan disuguhi air minum kemasan dan piring berisi buah-buahan. Aku dan Bu Eko <em>cenga-cengo</em> di antara para tamu yang cuma keliatan matanya aja, hehe…

Tapi persaudaraan terasa amat kuat. Setiap tamu yang datang menyalami hampir semua orang di ruangan dengan tegur sapa yang hangat. Aku iseng bertanya pada Bu Eko, “How do they recognize each other? They all look the same for me…”. (Kami memang suka ngobrol dalam bahasa Cirlish -Cirebonan English-, bukan buat gaya-gayaan, tapi untuk mengasah kemampuan). Dia bilang, kalau kita sudah kenal orang-orangnya, kita bisa mengetahui siapa yang datang hanya dari ‘bahasa tubuh’-nya.

Mbak Ami kemudian keluar sebentar untuk menyapa para tamu. Dan dia dirias seperti pengantin pada umumnya, cantik banget dalam balutan kebaya merah. Para tamu laki-laki jelas tak diperbolehkan bertemu dengannya πŸ˜€ Bahkan mempelai pria hanya boleh menemuinya setelah akad nikah selesai.

Kami baru bisa menyalami dia sesaat sebelum akad nikah berlangsung. Setelah cipika-cipiki, dalam jabat tangannya yang erat, Mbak Ami mendo’akan dengan sungguh-sungguh agar aku cepat menyusulnya, hihihi… πŸ˜€ *malu*.

Oh, ya, maharnya berupa bacaan Al Ikhlas. (Pernikahan memang harusnya dimudahkan, tapi, IMHO, buatku mahar itu koq terlalu gampang ya? Kalo aku, sih, setidaknya akan meminta hafalan surat yang lebih panjang :-P).

Setelah akad nikah dan khotbah, barulah piring-piring diantarkan pada para tamu. Isinya semacam kuah daging dengan lontong (entah apa namanya, pokoknya semacam soto daging tapi bumbunya lebih kental dan lebih manis). Saat aku gigit dagingnya, huhuhu… aku langsung mual karena merasakan aroma daging kambing. Ga tau kenapa, daging kambing merupakan salah satu makanan yang tak pernah bisa diterima perutku. Akhirnya, Bu Eko kebagian tugas menghabiskan makanan itu (kami tadinya makan sepiring berdua :D).

Setelah itu, kami pun pamit pulang.

Wah, entah ya menurut kalian, tapi menurutku syukuran pernikahan sederhana seperti ini lebih terasa akrab. Tak ada uang dan makanan yang terbuang percuma. Pasangan yang telah siap menikah pun tak perlu menunda-nunda kehalalan hubungan dengan alasan tak punya biaya untuk pesta. Semampunya aja, yang penting sah acaranya tetap layak. πŸ™‚

Mungkin ada juga yang berpendapat bahwa acara itu hanya berlangsung sekali seumur hidup, jadi harus istimewa. Well, istimewa kan tidak harus mewah?

Yah, tapi merupakan hak seseorang untuk memiliki pesta pernikahan impian. Lagipula, para ‘sesepuh’ keluarga yang masih memegang adat biasanya keberatan bila acara keluar dari ‘pakem’ yang telah diikuti turun-temurun.

So, seperti apa pernikahan impianmu? ^_^

Advertisements

8 thoughts on “Kondangan…

  1. CaLiWa says:

    Hikmat yah, kecuali bagian wedges mu ntu πŸ˜€
    Btw, Mbak Ami nya waktu itu pake cadar atau ga? Koq bs ketauan didandan ga nya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s