Cerita Meja Makan

Semua berawal dari Carrie Bradshaw.

Karena bagiku ia mewakili sebagian gambaran impian perempuan metropolis yang sukses: kolumnis surat kabar terkenal (yang kemudian bukunya best-seller) sekaligus fashionista yang tak takut makan cupcakes :). Meskipun cerita cintanya tak semulus jalan tol Bakrie πŸ˜€

Aku selalu suka cerita yang tokoh utamanya seorang penulis. Dan anehnya, kalimat sederhana Carrie Bradshaw di salah satu versi filmnya yang terpatri kuat di otakku adalah: “Aku membutuhkan meja tulis yang bagus!” :).

Carrie dan apartemennya

Konyol?

Mungkin! Tapi, dia benar. Kurasa menginginkan meja tulis bagus adalah sesuatu yang wajar bagi seorang penulis, uhmm… well… untuk kasusku… calon penulis πŸ˜€ πŸ˜€

Karena ingin memiliki sebuah meja tulis (yang besar, bagus dan harganya tak terlalu mahal) inilah, aku meminta Dede menemaniku untuk keluar masuk toko furnitur sore itu. Sayangnya, meja tulis dengan budget patokanku modelnya cenderung menyedihkan. Meja sederhana dari kayu multipleks bongkar-pasang dengan warna monoton (tau, kan, serupa tiruan Olym***).

Setelah kecewa karena tak menemukan yang pas di hati, dalam perjalanan pulang, aku melihat toko furnitur dekat kantor yang beberapa waktu sudah tutup karena dikabarkan pindah ke tempat lain. Toko itu buka kembali dan rupanya sedang mengadakan sale untuk menghabiskan stok barang yang sudah terlanjur dirakit (untuk display).

Petugasnya menunjukkan sebuah meja ukuran sedang, kokoh dan berwarna gelap. Meskipun sama-sama kayu multipleks, tapi modelnya tak pasaran. Harganya sedikit di atas budget. Sebenarnya tak masalah kalau saja barang ini tidak memiliki cacat (namanya juga obralan) yang tak bisa dihilangkan.

Aku naksir sebuah lemari belajar lebar berwarna putih dan biru yang cute. Tapi, sedikit sentuhan corak anak-anak (karena sepertinya didesain untuk anak sekolahan ABG) membuatku pikir-pikir. Lucu, sih, lucu… Lalu aku akan semakin dituduh immature… Nggak, deh…

Setelah membuat dua petugasnya puyeng dengan keinginanku yang abstrak :D, akhirnya aku memutuskan berjalan mengitari toko hingga ke bagian display dapur di bagian belakang yang agak tersembunyi. Dan di sanalah ia… ngejugruk di sebuah sudut. Aku membaca harganya dan…

“Mas, aku ambil ini, deh….”

Dede yang mengantarku agak melongo.

“Meja makan?” Tanyanya bingung.

“Meja ini kan bisa untuk segalanya. Buat makan, nulis, ngerumpi sama Mimi… Aku bahkan bisa nulis sambil minum kopi.” Harganya memang jauh berkali lipat dari budget semula buat beli meja tulis. Tapi kursi dan meja makan dengan harga bagus? I definitely need it!

Setelah mengurus pembayaran, kami pun pulang.

Dan di kamar…

Aku bengong…. Tiba-tiba panik mulai melanda….

KAMU INI APA-APAAN, SIH? NGAPAIN BELI MEJA MAKAN SEGALA? SAMPAI MENGURAS TABUNGAN PULA? KATANYA AKHIR TAHUN PENGEN LIBURAN?

Huhuhu… Aku bukan Carrie Bradshaw, tapi Rebecca Bloomwood yang shophaholic!

Apa dibatalin aja, ya? Mumpung barangnya belum dikirim…. Mungkin bisa ditukar dengan meja makan lain tanpa kursi (yang bentuknya bulat dari kaca) dengan harga lebih murah. Setelah resah-gelisah dan mulai lapar, aku tiba-tiba menyadari satu hal…

“Ma, aku stress!” Laporku cemas, teringat nafsu makanku yang menggila dan keputusanku di toko furnitur tadi.

“Kenapa?” Tanya Mama di ujung telepon sana, hampir terdengar geli (btw, percakapan ini terjadi dalam Sundanese medok dan sudah kuterjemahkan dengan ilmu kira-kira :D).

“Aku ngabisin banyak uang hari ini….”

“Nggak apa-apa. Nanti kan bisa diganti,” kata Mama dengan ketenangan luar biasa. Kadang aku kagum dengan ketidak-terikatan Mama akan materi. Prinsip ‘materi-penting-tapi-bukan-yang-terpenting dan rejeki Allah itu Maha Luas’ benar-benar diterapkannya dengan baik. Aku harus banyak belajar lagi!

“Tapi, aku beli satu set kursi-meja makan…,” kataku takut-takut, bersiap dengan kehebohan Mama dengan ‘apa-apaan? Ngapain beli itu? Nanti kalo pindah mau ditaro di mana?’. Yang terjadi malah membuatku heran…

“Oh, baguslah…. Setidaknya uangnya bermanfaat….”

*bengong*

Mama kembali meyakinkanku bahwa itu ‘tidak apa-apa’ dan aku tak seharusnya khawatir. Pun waktu Bu Eko, sahabatku, aku beritahu, mulanya ia harus menahan diri untuk nggak ngakak. Lalu berkata dengan bijak bahwa ada masanya seorang perempuan berhak membeli barang yang diinginkannya dari uang hasil keringatnya sendiri. Membuatku kembali tenang dan merasa normal.

Lagipula… punya meja makan sendiri ternyata memang menyenangkan! ^_^

masih kinclong πŸ˜€

sambil duduk bisa ngintipin teras dan taman

Advertisements

26 thoughts on “Cerita Meja Makan

  1. Heeee hampir sama nich..saya punya rencana beli baju di Mall, sebelum masuk ke tempat baju, mampir di gramedia sekedar lihat-lihat, hal hasil 3 buah buku saya beli, dan tidak jadi beli baju, padahal besoknya mau wawancara, hal hasil pula pinjam baju ama teman heeeee

    Mejanya bagus tuh..pasti nyaman kalau makan sambil nulis (tentu sesudah makan):)

  2. CaLiWa says:

    bagus koq we mejanya, meskipun pertama kali waktu dirimu bilang aku cuma bengong dan mikir mo ditaruh dimana, tp pas tau itu tipe paviliun ya agak lega, masalahnya kirain tipe cm kamar doank πŸ˜€

  3. Mejanya licin banget ya Mba. Semoga harfanya murah dan dapat erjangkau sama aku ya !

    Dengan mengatasi permasalahan yang kecil, kita dapat menyelesaikan permasalahan yang besar.

    Salam dan sukses selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s