Wisata Ngos-ngosan ke Kalibiru

(Ahaaayyy… Lama nian ini blog ga diurus… *bersih-bersih, nyapu, ngepel…)

Ngomong-ngomong… Ada yang tahu Kalibiru?

Aku nemu tempat ini lewat bisikan Mbah Gugel. Ceritanya, akhir Maret kemaren, ada tamu-tamu keren dari Batam yang salah satu rencananya selama menjejakkan kaki di Pulau Jawa adalah mengunjungi Jogja. Maka, sebagai satu-satunya panitia penyambutan seksi jalan-jalan, aku kasak-kusuk dengan Si Mbah Gugel beberapa hari, mencari-cari alternatif piknik yang oke selama sehari penuh. Lalu, didapatlah penampakan alamat ini.

Dengan gambar-gambar meyakinkan ditambah keterangan-keterangan dari beberapa blogger yang menjadi saksi hidup rayuan pemandangan Perbukitan Menoreh yang kesannya romantis, tanpa pikir panjang, aku langsung memasukkan Kalibiru ke dalam daftar. Karena letaknya di Kulonprogo, aku menambahkan Pantai Glagah di bawahnya. Sounds perfect. Pagi-pagi menghirup udara segar perbukitan hingga makan siang, sorenya menyaksikan keindahan pantai.

A simple plan…

Kenyataannya? Hahahahaha… Aku pengen ketawa ngakak sekaligus jengkel kalo inget acara jalan-jalannya yang nyaris berantakan…

Pertama, sopir dari mobil yang kusewa ga pernah ke Kalibiru. Untungnya Mas Sopir yang masih muda dan begitu sopan ini tahu jalan menuju Waduk Sermo (karena Kalibiru memang terletak di atas waduk ini). Pas lewat waduk yang indah, damai, tentram dan sentosa sih, kita pada hepi… Begitu liat tanda panah kecil bertuliskan ‘kalibiru’ menuju jalan kecil yang tanjakannya na’udzubillah, barulah kami mulai bertanya-tanya… Ini wisatanya kayak apaan ya? Yang kubayangin semula sih wisata outbond kayak di Katumiri, Bandung (muuph, ga nemu link-nya). Katumiri juga terletak di dataran tinggi Cihanjuang, sebuah tempat wisata yang ga cuma nawarin berbagai fasilitas outbond kayak flying fox, high rope, hingga Gocar, tapi juga ada track hiking menuju sebuah air terjun di lembah bukitnya. Asik lah, pokoknya… Ponakan-ponakanku aja sampe susah diajak pulang, hehehe…

Nah, setelah melalui jalan kecil-nanjak-berliku, mobil tiba-tiba parkir di halaman sebuah rumah dengan baligo besar bertuliskan… (eh, apa, ya, tulisannya, We? :D)… kalo ga salah “Selamat datang di kawasan wisata Kalibiru bla… bla.. bla…”. Kami clingak-clinguk, koq sepiiii???

Empunya rumah (yang ternyata pondokan untuk menginap bagi para wisatawan) memberitahu kami untuk menyusuri jalan menanjak yang sukses membuat kami pada melongo… Habisnya, kami para cewek udah berdandan imut dengan flat shoes buat piknik, bukan buat hiking (well, aku malah pake sendal jepit, hihihi…).

Setelah ngos-ngosan (udah lama banget ga trekking, hiksss… ๐Ÿ˜ฆ ), jalan lalu menyempit menjadi jalur setapak tanah dengan baluran semen (apa keramik, ya? Lupa :D), di tengahnya… Kemudian menurun tajam berupa anak-anak tangga berkelok… Antara kehabisan nafas sampe pengen ketawa guling-guling, kami akhirnya memutuskan berhenti saat anak-anak tangga berubah kembali menjadi jalur setapak tanah yang tak bersemen karena sepertinya jalan ini kayak di mimpi (baca: bikin capek tapi ga ada ujungnya, hahaha…).

Dan yang nyebelin, di sini juga ga ada restoran, hihihi… Jadi, terpaksalah itu gembolan berisi makanan dan minuman buat 7 orang ikut dipanggul ke atas bukit ๐Ÿ˜€

Terusss… Flying Fox-nya mana yaaa?

Berhubung belom pada sarapan dan ga ada yang jualan makanan, bekal sate Ponorogo jadi laris manis... ^_^

Tali di atas makhluk-makhluk imut ini ternyata buat luncuran flying fox... Tapi fox-nya udah kabur kali... ๐Ÿ˜€

"Wisata ke Desa," kata Dek Daiva dengan polosnya, haha...

Tante Ika, buncis dulu dunk... (lagi ngos-ngosan dipaksa nyengir sama fotografer :p)

Jadiiiii… Kalibiru itu memang wisata hiking, gituuuu… Koq ga ada yang ngobrol, sihhhh??? Hahahaha…

Tapi, pemandangan dari atas bukit memang indaaaaaaaahhhh… banget. Waduk Sermo yang gede itu jadi keliatan imut diantara pepohonan hijau.

Nah, kalo sahabat sekalian berencana ke sini, lebih asik naik motor kayanya (kalo bawa mobil, pastikan sopirnya ga panik duluan liat jalannya, hahaha…). Jangan lupa juga bawa sepatu olahraga, bekal makanan-minuman, dan kamera. Lebih oke lagi, kalo bawa bekal piknik dan tikar… Jadi makan-makannya bisa di samping danau yang menenteramkan jiwa, hehe…

Sekian curhat-curhatan kali ini… *nerusin bersih-bersih dulu ah…

Meskipun capek, teteup senyum dunkkk...^_^

NB. Makaci ya Weee, udah minjemin futu-futunya… :-*

Award Yang Tertunda

Kalo ada lomba blogger paling ga tau diri, mungkin aku bakalan masuk nominasi… Udah tiga orang blogger baik hati yang memberiku award, tapi baru diposting sekarang… Muuph yaaa… Dan terima kasih banyak udah mempercayakan award-award ini kepadaku… *membungkuk takzim…

Pertama, award dari Andinoeg alias Sang Penjelajah Malam

Lalu award dari Dek Anla Arinda

Dan terakhir award dari Mabruri

Kedua award terakhir, ternyata pe-ernya sama… Diminta menuliskan minimal delapan hal tentang diri sendiri. Hahaha… ya ampyunnn, aku menampilkan page About Marinouy aja awalnya ga niat banget ๐Ÿ˜€ Tapi, baiklah, untuk menghormati blogger-blogger ganteng (dan cantik – khusus dek Anla :D) yang udah ngasih award di atas, aku tambahkan lagi beberapa hal tentangku.

  1. Aku maniak warna ungu. Dan biasanya, aku bereaksi negatif sama siapapun yang mengatakan ungu itu warna janda atau warna gay atau hal-hal jelek lainnya. Reaksinya dari yang paling ringan (manyun) hingga yang parah (ngamuk :P). Bagiku, ejekan itu jadi terdengar seperti mendoโ€™akan. So, berhenti dunk ngejek-ngejek warna unguโ€ฆ Ini kan cuma masalah selera ajaโ€ฆ
  2. Suaraku mirip anak kecil (ga percaya? Telpon aja :D). Yang paling parah, pernah suaraku direkam oleh seorang temen kosku di hape-nya. Lalu suatu hari, tanpa sengaja rekaman itu didengar oleh temannya (yang ga kukenal), temennya itu langsung bertanya dengan polosnya, “Ang (panggilan untuk Anggraini — temenku), ini suara kucing, ya?”. Kontan aja semuanya pada ketawa ngakak. Sebeeeelll…!!!
  3. Suka kucing dan pernah berminat memelihara kucing dengan sungguh-sungguh. Tapi, saat aku satu kontrakan dengan seorang Mbak dan dia memelihara kucing di dalam kontrakan kami, aku jadi berpikir ulang. Kenapa? Hmmm… perlu satu postingan khusus kayaknya… ๐Ÿ˜€
  4. Jijik sama kecoak. Lebih be-te lagi kalo kecoaknya terbang. Kalo ada kecoak dalam radius 50 meter, aku bisa ngenalin baunya yang bikin empet itu. Dan kalo ada kecoak berhasil “menyentuhku” (iiiiihhh… *merinding), biasanya aku bakalan gatel-gatel dan bentol-bentol dari ujung kepala sampe ujung kaki.
  5. Lebih suka tidur dengan lampu menyala. Bukan, bukan karena takut hantu, tapi karena serangga itu tadi. Kalo ada kecoak berhasil masuk kamar, aku bisa mengusirnya dengan lebih mudah dalam keadaan terang (atau membunuhnya kalo dia lagi sial).
  6. Berbeda dengan kebanyakan orang, aku sama sekali ga memiliki ketergantungan pada guling. Aku malah ketergantungan sama selimut. Meskipun di tempat-tempat hangat seperti Cirebon dan Jogja, aku teteup tidur pake selimut. Ga perlu selimut khusus, sih, sarung atau pashmina-nya Mama juga jadi ๐Ÿ˜€ yang penting hangat…
  7. Ga suka masakan berbahan ikan air tawar dan ga doyan sayur asem. Ini rada mengherankan karena keduanya ga bisa dilepaskan dari menu masakan Sunda. Dan karena Papaku juga ga doyan sayur asem, masakan satu ini jarang muncul di meja makan rumah orang tuaku ๐Ÿ™‚
  8. Jarang dikenali sebagai orang Sunda. Kebanyakan mengira aku orang Jawa atau Sulawesi… *geleng-geleng kelapa… Pernah ngotot-ngototan sama sopir angkot di Bandung hanya gara-gara ini, hahaha… *kurang kerjaan…

Dengan berakhirnya nomor delapan di atas, maka langkah berikutnya adalah mengumumkan blogger yang bakalan ketiban durian award berikutnya. Hmmm… ย harus delapan blogger yang baru dikenal ya? Baiklah, kalo begitu, aku hadiahkan padaaaa…

  1. Anak Tapsel
  2. Dieka
  3. Dheeasy
  4. Mebigina
  5. Dek Fi
  6. Elsa (dan Baby Dija kalo udah ngerti award sih, hehehe… :P)
  7. Akbar
  8. Semua yang komen di postingan ini ๐Ÿ˜€ (silakan diborong ketiganya yaaa…)

Sekali lagi terima kasih banyak untuk award-awardnya… Mudah-mudahan silaturahim kita di dunia maya semakin terjalin erat dan makin semangat menulis (fiuhhh… :P).

Salam hangat dari Jogja… ^_^

Ke Kawaru Yukkk…

Mungkin belum banyak yang mengenal Pantai Kawaru (ada juga yang menuliskannya dengan โ€˜Kwaruโ€™) di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pantai ini sebenarnya masih โ€˜tetanggaanโ€™ dengan Parangtritis dan Pantai Depok yang lebih dulu ngetop.

Tadinya, aku dan temanku, Achy, agak ragu untuk pergi berdua aja karena kami benar-benar tak tahu jalan menuju ke sana. Berbekal wangsit dari Mbah Gugel dan secarik peta yang digambar sederhana (tapi ternyata cukup komplit) oleh saudaranya Achy, kami pun nekat bermotor-ria ke sana Hari Minggu pagi (Alhamdulillah cuaca cukup cerah).

Ternyata jalannya ga sesulit yang dibayangkan. Kami terlebih dahulu melaju menuju pertemuan Ring Road Selatan dengan Jalan Raya Bantul (bisa diliat di gugelmap). Dari Jalan Bantul, jalannya tinggal luruuuus aja ke selatan (tapi, jauh banget emang, siap-siap bemper jadi rata, dehโ€ฆ :D).

Melewati banyak perempatan dan pertigaan utama (di antaranya perempatan Kasongan, Pemda Bantul dan Srandakan), kami juga dibantu papan petunjuk jalan yang terdapat di setiap persimpangan. Kalau sudah melewati pertigaan Ganjuran, ikuti Jalan menuju Pantai Samas. Namun, hati-hati, setelah itu akan ada pertigaan menuju Pantai Pandan Simo. Nah, buat yang ingin ke Pantai Kawaru, ikuti belokan menuju Pantai Pandan Simo.

Dari pertigaan menuju Pantai Pandan Simo, lagi-lagi, kami tinggal mengikuti jalan. Namun, jalan yang relatif kecil sepertinya ga akan muat dilewati bis berukuran besar. Di depan kami ada tiga buah bis berukuran sedang (kira-kira isinya 27 seat ) – sepertinya sih rombongan dari Purworejo. Begitu di belokan ketemu pick-up jenis Panther, si Panther terpaksa mundur mengalah dulu karena jalannya terlalu sempit.

Nah, di sebuah perempatan, akan ada petunjuk menuju pantai. ย Petunjuk jalannya agak kecil, kalo ngebut ga bakalan ngeh dehโ€ฆ (lagipula kebut-kebutan bahaya juga kan…). Ikuti terus jalan ini pelan-pelan. Nanti juga bakal ada petunjuk jalan lagi menuju berbagai Pantai yang ada di sana.Kami, tentu saja terlebih dahulu menuju Pantai Kawaru.

Asiknya di Kawaru, banyak pohon jenis Cemara Udang yang ditanam di pinggir pantai untuk menahan abrasi, jadi suasananya teduh banget. Pantai ini ramai dikunjungi keluarga-keluarga yang menggelar tikar di bawah cemara, bekal makanan dibuka, bercanda akrab sambil menikmati deburan ombak, hmmmโ€ฆ

Achy berpose depan pepohonan Cemara Udang yang bikin adem...

Karena datang agak pagi, sekitar jam 10, beberapa perahu nelayan ada yang baru saja kembali membawa berbagai jenis ikan. Bisa langsung ditawar di situ, lhoโ€ฆ Tapi kalo ingin lebih lengkap lagi, di sana juga ada Tempat Pelelangan Ikan. Asal pinter nawar ajaโ€ฆ

Dan kayaknya ga afdhol kalo ke Kawaru ga nyobain naik ATV. Tenang aja, mengendarainya cukup mudah koq… Anak kecil aja ย bisa ๐Ÿ˜› Dan jalur yang dilalui juga teduh. Sewa ATV ini harganya Rp 25.000,00 untuk pemakaian 15 menit.

seru lohhh...

Karena ga bawa bekal makan siang (emang udah niat mau makan seafood segar di situ sih…), kami memesan cumi saus tiram dan udang goreng tepung dari salah satu deretan warung di sana. Sayangnya, si Mbak yang masak seleranya manis, bumbu saus tiramnya terlalu encer dan kurang klop sama lidahku yang lebih suka asin. Jadinya aku lebih sibuk ngabisin udang goreng, hehe…

Setelah shalat Dhuhur, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Goa Cemara. Di sini ga ada goa. Dinamakan begitu, karena pepohonan Cemara Udangnya tumbuh rapat, jadi membentuk goa. Lucu juga, kesannya jadi ada hutan kecil di pinggir pantai… Di sini airnya lebih kehijauan dan bersih. Kalo Pantai Kawaru sih airnya coklat dan di pasirnya banyak sampah… ๐Ÿ˜ฆ

di belakang Achy, jalan teduh menuju pantai Goa Cemara

Mungkin karena pantai ini lebih sepi dan lebih “remang-remang” (halah… soalnya pepohonannya kan rapat…), di pantai ini banyak anak muda yang… well… pacaran… Mereka bercengkerama sambil nangkring di cabang-cabang pohon yang cukup rendah… Cieee… Asoy banget dah… Hahaha… ๐Ÿ˜€

Di sebelah Pantai Goa Cemara, ada lagi Pantai Pandan Sari… Di sini ga banyak yang bisa dilihat. Hanya ada mercu suar (salah satu benda favoritku di muka bumi karena bentuknya yang dramatis :P) dan beberapa petak kebun buah naga.

Pantai terakhir yang kami kunjungi sebelum pulang adalah Pantai Samas. Sepertinya, Pantai ini dulu cukup ramai (terlihat dari banyaknya lapak dan sisa-sisa sampah makanan), namun saat kami ke sana suasananya benar-benar sepi… Beberapa lapak makanan di pinggir pantai tampak kotor tak terurus. Apa mungkin jadi kalah pamor sama Kawaru ya?

Karena sore telah menjelang dan cuaca juga mulai mendung, kami pun pulang menuju Sleman… *penting gitu ya disebutin ๐Ÿ˜€ Jalan pulang lebih mudah, soalnya dari Pantai Samas tinggal lurus aja ke arah utara. Ga terasa, dalam waktu kira-kira 90 menit, udah nyampe kos lagi…

Sekarang tinggal rajin luluran buat ngilangin gosongnya, hahaha…

Update: ternyata di tiket masuk, ditulisnya Pantai Kuwaru ๐Ÿ™‚

Up and Down

Do’a akhir tahunku adalah menginginkan adanya perubahan. Ke arah yang lebih baik, tentunya. Tak terpikirkan seperti apa. Hanya saja, aku ingin pindah dari Kota Udang. Ke mana? Tak tahu juga…

Setelah Dede Harun – (the one and only) my partner in crime – mengajukan resign pertengahan Desember lalu dan pindah ke Jakarta, aku sempat down. Tiba-tiba saja meja sebelahku kosong, ga ada yang bisa digangguin lagi, ga bisa manja-manja dan pundung teu puguh lagi, hehe… Dan tiba-tiba saja aku harus mengurus segala tugas yang tertunda sendiri.

Niatku sebenarnya resign bersamaan dengan Harun ๐Ÿ™‚ Abisnya, dulu, kami diterima di sini juga hanya bertaut beberapa hari… Kan ceritanya kompak gitu deh… Aku sampai sempat bilang, kalo dia resign duluan aku mw nangis… (Tapi pas dia pamit, aku ternyata ikut happy… Semoga rezekinya di sana lebih baik dan berkah. Amin.)

Di sela-sela membantu sebuah event mahasiswa, aku mulai rajin bergabung dengan dunia jobseeker, sampe tiap hari ngintipin kaskus ๐Ÿ˜€ Sempat was-was, tak terbayangkan jadi pengangguran… Secara, pekerjaanku saat itu sungguh nyaman, terlalu nyaman malah. Berkutat dengan kegiatan yang kusukai, bisa jalan-jalan gratis, ketemu para pembicara ahli yang hebat, teman-teman yang asik, well-paid pula. Tapi, semuanya mulai membosankan…

Need new challenge adalah alasan basiku setiap mengisi formulir lamaran online di bagian ‘The reason you leave current job’. Sedikit belagu, ya, tapi ada benarnya koq.

Dan begitulah Allah mengabulkan do’aku. Begitu laporan event yang terakhir kuselesaikan, aku dikenalkan juniorku di Jogja dengan seorang temannya. Dan ia menawariku pekerjaan. Ah, ternyata, timing-nya telah diatur oleh-Nya sedemikian rupa… Sempat ga pe-de karena posisinya benar-benar berbeda, bukan lagi tukang sablon seperti dulu ๐Ÿ˜› But, hey, u said u need new challenge? Hehe… *termakan omongan sendiri…

Jadi, hari ini aku duduk di ruangan yang baru, meja yang asing, dengan rekan-rekan yang ramah dan jenaka. Tugas pertamaku adalah belajar. Mempelajari proyek yang sedang berlangsung, mendownload software-software yang udah kutinggalkan sejak wisuda ๐Ÿ˜›ย  dan di depanku terbentang buku english setebel bantal tentang application development untuk iPad ๐Ÿ˜€

Astaga… Si tukang sablon sedang belajar jadi programmer… Walaupun, seperti bos baruku bilang, “Aku gaย  pengen kamu jadi programmer dan terjebak dengan hal-hal teknis…”.

Aku belum mengerti rencana si bos…

Juga belum memahami sepenuhnya rencana-Nya…

Tapi, aku tahu, aku tengah berada dalam perubahan menuju ke arah yang lebih baik… Insya Allah.

Jadi, apa kabar sahabatku semuanya? ๐Ÿ™‚

A Formed Path

I canโ€™t tell you how much I miss to be here and write again.

But, Iโ€™m still on my way finding a somewhat-magical-healer. Sometimes, I feel funny because I donโ€™t know exactly what kind of illness Iโ€™ve been suffering. The anger, hatred, blame everyone for everythingโ€ฆ Iโ€™m not the person I used to be. All I want is to stop the hurt from hurting meโ€ฆ

Time will heal, they said. Well, itโ€™s a very slow healer for meโ€ฆ

Of course, I didnโ€™t mean to underestimate the power of prayer. But, imho, God always wants us to try, to learn, to struggle, so we can understand our life.

I do everything I can to cure my heart. But first, I need to define my pain. A doctor couldnโ€™t give you an effective medicine if he/she doesnโ€™t know the disease, right?

So, I took an online quiz โ€“ no, donโ€™t laugh, I really did. And you know what? Those simple questions were determining all the feelings I kept inside. Questions that forced me to be honest to myself. Few minutes later, the result came to my inbox.

And the points are:

You fall into a pretty high category of pain. I understand this is an extremely difficult time, but there is still hope for you to feel better โ€“ and soon. Below is a quick summary of your results followed by a custom healing lesson which will start your healing today.

1 โ€“ You are suffering from Emptiness.
2 โ€“ You are experiencing the Reminder Syndrome.
3 โ€“ Negative thoughts.
4 โ€“ Loss of a possible soulmate.

Okay, the result might say the same things to every person who takes take quiz (I mean, who knows?). And I hate to admit it, but I guess those points are drawn toward my problems. Well, hereโ€™s the good thing: at least, I finally found a path to step on.

Picture is taken from here

Hapehate

Zaman dahulu kala :), aku pernah mengikuti sebuah praktikum yang melibatkan alat bernama HPHT Filter Press. HPHT merupakan akronim dari High Pressure High Temperature. Alat ini membantu kami untuk mengetahui sifat-sifat fisik lumpur dan pengaruh lain (seperti penambahan zat aditif tertentu) sesuai kondisi suhu dan tekanan di lapangan.

Udahan dulu meracaunya…

Sekarang, tentu saja, aku tak lagi berurusan dengan hal-hal berbau lumpur ๐Ÿ˜€ Tapi istilah HPHT ini tetap tinggal dalam ingatan. Pertama, karena alat ini sangat melegenda bagi para mahasiswa dengan resiko ledakannya. Langit-langit laboratorium yang tingginya sekitar 6 meter dihiasi sebuah noda raksasa yang konon diakibatkan ledakan saat angkatan ’97 melakukan praktikum ๐Ÿ˜€ Kedua, karena alat ini membutuhkan waktu yang amat-sangat-lama-sekali untuk menghasilkan sejumlah data yang kami perlukan, sampai-sampai kami sempat tidur dan beli makan malam dulu daripada manyun nggak jelas. Dan kelompokku cukup beruntung karena bisa selesai sekitar pk. 22.00 WIB, sementara kelompok lain ada yang manyun hingga tengah malam ๐Ÿ˜€

Dengan dua alasan itu, aku dan teman-teman kerap menyebut HPHT (diucapkan ‘hapehate’) sebagai pelesetan dari capehate alias bikin capek hati. Dan ini tak hanya berlaku di praktikum, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Kita kerap dibuat pusing dengan tekanan pekerjaan serta setumpuk masalah lainnya. Tekanan hidup ini biasanya membuat tekanan darah jadi tinggi dan temperatur otak dan hati ikut meningkat tajam hingga kita berkata, “rasanya mau meledak aja deh!”. Nah, inilah yang kami sebut dengan kondisi high-pressure-high-temperature alias hapehate ๐Ÿ˜€

Itulah yang sedang kualami akhir-akhir ini…

Bukan sebuah awal yang baik di tahun yang baru, memang… Kurasa, aku membutuhkan waktu untuk menyepi dari keramaian, introspeksi dan… mencari cara untuk memperoleh kembali kemampuan untuk memaafkan. Memaafkan dia, mereka, juga diriku sendiri.

Itu artinya, aku akan pamit sementara dari dunia blogging. FB pun akan kunonaktifkan. Jadi, mohon maaf jika aku lama tak berkunjung ke blog sahabat sekalian. Semoga masih diberikan-Nya kemudahan bagi kita untuk kembali bersilaturahmi dalam keadaan yang jauh… jauh… lebih baik.

Dan, ya, aku berjanji akan kembali dengan hati yang baru…

Okay, mungkin nggak baru (karena kartu garansinya ga ada :P), tapi setidaknya retakan-retakan dan buteknya sudah jauh berkurang… Insha Allah…

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู‡ูŽู…ูู‘ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฒูŽู†ู ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูŽุฌู’ุฒู ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุณูŽู„ู
ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฌูุจู’ู†ู ูˆูŽุงู„ู’ุจูุฎู’ู„ู ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุบูŽู„ูŽุจูŽุฉู ุงู„ุฏูŽู‘ูŠู’ู†ู ูˆูŽู‚ูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ุฑูู‘ุฌูŽุงู„ู

โ€œYa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang, dan kesewenang-wenangan orang.โ€

Writing Workshop: Behind The Scene

Pasti banyak yang bingung, ngapain sih kantorku ngurusin acara workshop penulisan kayak gini? ๐Ÿ˜€

Sebenarnya, dulu kami hanya meng-handle workshop dan kegiatan outdoor untuk kalangan tukang minyak dan sekitarnya ๐Ÿ˜€ Namun, Pakde Lama, bos kami yang brilian, berinisiatif untuk mengadakan acara-acara yang bisa diikuti oleh masyarakat umum agar nama kami lebih dikenal.

Nah, salah satu event yang beliau usulkan adalah workshop tentang penulisan. Singkat kata singkat cerita, setelah membuat daftar beberapa alternatif pembicara, kami mulai mengontak manajemen Asma Nadia karena mereka juga tengah gencar melakukan workshop penulisan di berbagai kota, jadi klop gitu deh.

Aku sendiri udah mengenal tulisan-tulisannya Mbak Asma sejak SMA, melalui majalah Annida (yang bikin hepi, salah satu cerpenku juga pernah dimuat di majalah yang sama, hihihi… Alhamdulillah…). Jadi, bagiku tulisan-tulisan beliau sudah tak asing lagi.

Asalnya, event ini dijadwalkan bulan Oktober, namun diundur karena bentrok dengan seminar parenting bersama Ibu Elly Risman, Psi. yang diadakan atas inisiatif ibu-ibu kantor di sini. Maklum, bendera organisasinya sih boleh keren, tapi yang bertugas mengurus event cuma berdua aja (aku dan Harun). Makanya, agak sulit jika kami menangani dua event sekaligus. Kemarin pun aku dan Harun terpaksa bagi-bagi tugas: aku lebih fokus di writing workshop (sampe jadi setrikaan bolak-balik Cirebon-Bandung pp untuk mencari meeting room dan mengurus promosi), Harun lebih fokus di pemilu dan simposium nasional yang diadakan pusat di Jakarta.

Rasanya sampe butek otak kami memikirkan segala detail. Ada saat-saat aku ngambek teu puguh sama Harun saking stresnya (muuph ya, Dek… ๐Ÿ˜ฆ ). Bahkan di saat-saat akhir, mobil kantor yang telah kami reservasi beberapa hari sebelumnya, ternyata tak ada karena dipakai ke lapangan. Alhasil, panitia workshop baru sampai di Bandung menjelang Sabtu tengah malam, itupun berkat Mas Iwan yang merelakan Baleno-nya mengangkut kami ke sana.

Nyampe di hotel, sempat bersitegang dengan resepsionis karena kamar untuk panitia hanya disiapkan satu aja (gara-gara marketingnya salah paham). Untung masih ada kamar kosong. Ruangan yang akan dipakai workshop juga masih berantakan, hiks…

Sambil menunggu pagi tiba, kami membereskan seminar kit yang akan dibagikan pada peserta dan mengeprint file-file yang masih tersisa. Jam 3 pagi, udah ga kuat lagi, ambruk deh di kasur sampe Subuh ๐Ÿ˜€ Barulah pagi-pagi lanjut mengatur kursi, meja registrasi dan memasang spanduk di ruangan dibantu banquet hotel. Alhamdulillah, semua selesai sebelum para peserta tiba.

Namun, masih ada satu hal yang mengganjal pikiranku: soal makanan! Dari jauh hari sebelumnya, aku sudah meminta daftar menu untuk di-fax ke Cirebon. Beberapa hari sebelum hari H, aku ulangi lagi permintaan itu, namun si menu tak kunjung tiba. Karena tak pernah mencoba makanan tester, agak deg-degan juga, takut makanannya ga enak. Kalo soal perut, urusannya bisa gawat kalo mengecewakan. Alhamdulillah enak-enak aja (meski menurutku masakannya agak keasinan :P).

Saat sarapan, datang para mahasiswa yang sudah dimintai bantuan untuk acara ini. Dan mereka malah ngetawain tampang-tampang kusut kami yang kurang tidur, heuheu…

Mbak Asma dan Mas Isa sendiri kabarnya berangkat pukul 03.00 WIB dari Depok menuju Bandung. Kru Asma Nadia Publishing House datang lebih dulu untuk mengatur bazar buku di depan pintu masuk. Awalnya agak kaku karena selama ini kami hanya berkomunikasi via telepon, email dan FB. Tapi, lama-lama ‘cair’ juga… ^_^

Alhamdulillah, acaranya bisa dimulai tanpa ngaret dan semuanya lancar. Satu hal yang sangat membahagiakan bagi EO adalah jika pembicara dan peserta sama-sama hepi dan puas dengan acara yang diselenggarakan. Kami akui masih banyak kekurangan di sana-sini, namun semoga termaafkan ๐Ÿ™‚

Special Thanks buat Mbak Nchie Hani, Mbak Erry, Ismi dan Deden Hf yang telah menyempatkan datang dan melaporkan acaranya lebih dulu di blog, jangan kapok yaaa… ^_^

Mbak Erry serius konsultasi sama Mas Isa, Deden sadar kamera ๐Ÿ˜€

hwaaw... ada penampakan di belakang, hihihi... ๐Ÿ˜€

pembicara yang kompak dan saling mengisi... romantis ^_^