Benarkah?

Bahwa aku pernah menikmati keindahan alun-alun Suryakencana lalu menaklukkan Tanjakan Setan, menuju puncak Gunung Gede, terpesona oleh kawahnya yang megah…

Bahwa aku pernah nyaris sekarat kedinginan di bawah puncak Ciremai. Lalu ketika mentari terbit, aku tahu Tuhan masih tersenyum pada kami dan memberi kami kekuatan untuk meneruskan perjalanan…

Bahwa aku pernah merayapi punggung Gunung Cikuray di bawah hujan lebat dan tidur menggigil di atas matras basah. Aku nyaris menyerah turun. Tapi lagi-lagi, kekuatan-Nya menuntunku untuk bergembira, terpesona memandang lautan awan dari puncak si gunung mati ini…

Bahwa aku pernah mengalahkan ketakutanku akan suara derasnya sungai melalui jeram-jeram Cimanuk…

Bahwa aku bergembira menyusuri jeram-jeram berikutnya di Sungai Citanduy setelah melalui perjalanan berkelok-kelok dalam kecepatan tinggi hingga nyaris muntah…

Bahwa aku terjatuh dari perahu di Sungai Ciberang lalu megap-megap karena panik, sebelum seseorang mengingatkanku untuk tenang menikmati arus dan bukannya melawannya…

Bahwa aku pernah menjadi perempuan bebas yang sangat menikmati hidup dan menulis….

Tapi kau, ya, kau dan mereka hanya menganggap semua ini angin lalu seolah semua cerita ini hanya bualan belaka. Hanya cerita karangan dari seorang perempuan kucel yang memakai daster sepanjang hari. Seorang perempuan dari sebuah gang sempit yang tak tahu apa-apa dan tak pantas berbicara tentang gunung, sungai apalagi kebebasan.

Hingga aku mulai bertanya-tanya, benarkah semua yang kuingat itu hanya karangan yang kurajut dari mimpi-mimpiku sendiri?

Bahwa aku terlahir hanya untuk menjadi perempuan yang melengkapi kehidupan kalian  sebagai pengisi peran pecundang?

Kumohon, lihatlah aku sebagai aku. Bukan sebagai ‘perempuan kebanyakan’ yang selama ini telah terbentuk di pikiranmu sebelum bertemu denganku.

Kencan Pancake

Pancake Kumel (keju karamel) buatan adekku :)

Pancake Kumel (keju karamel) buatan adek🙂

Katakanlah aku ini norak, ndeso, katrok atau apapun yang sejenis itu, tapi pertama kalinya aku makan pancake adalah tahun 2011😀

Sebelumnya memang sudah sering mendengar menu sarapan satu ini (meskipun kalo buat kita jadinya camilan ya, bukan sekedar sarapan). Tapi dulu, tempat-tempat makan di Yogyakarta yang menawarkan pancake rasanya masih jarang. Jadi, tiap liat gambarnya, cuma bisa merem-melek sambil menebak-nebak rasanya seperti apa, hehehe… Kasian amat!

Pertama kalinya makan pancake di Cafe Rodeo. Makanan inilah yang kumakan waktu suamiku “nembak”, hahaha… Dan rasanya sungguh-sungguh mengecewakan. Adonan terigu-telur-nya kerasa ga “nyatu”. Bentuknya juga agak kempes, ga ngembang. Toppingnya cuma lelehan cokelat blok aja. Bikin ga selera. Atau… apa ini gara-gara aku jadi grogi karena tiba-tiba diajak merit yah? Hahaha…

Maka, setelah merit, rasanya koq dendam kesumat, pengen nyobain pancake yang enak. Jadilah kami ‘kencan pancake’ lagi di Mr. Pancake Amplaz. Yang ini jelas te-o-pe deh. Kenyang dan enak! Sebenarnya penasaran sama Pancious. Tapi, entah kapan bisa mampir ke sini… Cuma ada di Jakarta, ya?

So, karena aku jadi ketagihan, mulai deh kasak-kusuk sama si Mbah Gugel. Dapat beberapa resep, tapi baru nyobain satu. Dan alhamdulillah, meskipun bikinnya gampang banget (bahkan takarannya cuman pake sendok), tapi hasilnya enak. Mau aku posting tapi belom izin sama yang punya blognya😀

Dan saking gampangnya bikin pancake, adek iparku yang cowok, yang dulunya jarang ke dapur, bisa bikin juga. Bahkan, dia sempet jualan di kafe punya temennya. Foto di atas adalah salah satu hasil kreasinya yang paling sederhana. Cuma dia bikinnya agak ribet, melibatkan mixer dan timbangan. Toppingnya keju cheddar parut dan saus karamel. Enyak!

Jadi, siapapun (ternyata) bisa menikmati pancake. Cuma dikasih topping es krim, ditaburin coklat meises atau selai aja udah sip banget. Apalagi kalo masak dan makannya berdua sama suami, mmmmh… Nikmatnya dunia! Hehehe… *kompor buat yang masih jomblo.

Btw, masih penasaran sama topping sirop maple (beli siropnya di mana siiih?)

Just The Three of Us

Ini sebenarnya rasa yang aneh. Setiap memandang makhluk mungil yang kini hadir di antara kami, semua yang terjadi selama berbulan-bulan ini seperti mimpi yang samar-samar. Tak percaya ia tumbuh di rahimku selama 39 minggu. Tak percaya telah kulalui malam panjang menahan sakit akibat kontraksi dan akhirnya mengerahkan seluruh tenaga dan kepasrahan untuk membuatnya mengirup udara dunia. Tidak, rasanya semua itu tidak terjadi. Bagiku, ia seperti keajaiban yang hadir begitu saja di pangkuan kami.

Dan kehadirannya membuatku kebingungan setengah hidup. Seminggu pertama para eyangnya datang dan menginap untuk menengok cucu terbarunya (ini cucu pertama bagi keluarga suamiku). Kehadiran mereka membuatku masih tidak menyadari bahwa statusku telah berubah menjadi seorang ibu. Aku masih anak bungsu kesayangan yang semua keperluannya selalu terpenuhi.

Saat semua pulang, mendadak aku menyadari, makhluk rapuh ini sangat bergantung padaku. Tanpa bantuan orang tua, tanpa bantuan saudara, tanpa asisten rumah tangga dan tanpa pengasuh, dunia rasanya jadi jungkir balik bagiku. Aku tergagap-gagap mempelajari semuanya, membagi waktu untuk urusan rumah dan anakku. Tak ada lagi waktu untuk diri sendiri. Seharian hanya dihabiskan untuk mengerti, apa yang seharusnya dilakukan agar bayi ini tetap tenang.

Dua minggu pertama ASI-ku masih belum lancar hingga anakku sering menangis kelaparan. Setiap kali kami menyuapinya sesendok demi sesendok dengan susu formula, aku merasa tak berarti dan tak berdaya sebagai seorang ibu. Ini membuatku stress. Dan semakin aku stress, semakin sulit ASI keluar. Seperti lingkaran setan.

Hanya mukjizat saja yang membuat aku dan suamiku bisa bertahan merawat keajaiban ini berdua saja. Jangan ditanya, lelahnya luar biasa, lahir batin. Tapi keteguhan suamiku yang optimis membuatku semakin tenang dari waktu ke waktu. Ia rela mengerjakan urusan rumah –dari mencuci popok hingga memasak sayur untukku– sebelum berangkat kerja. Ia rela menyuapiku makan sementara aku hanya bisa duduk tak berdaya dengan 22 jahitan (yang lama bangeud sembuhnya) sambil menyusui putera kami. Ia rela jam kerjanya terpotong hanya karena aku sms memintanya pulang. Sungguh, saat suamiku akhirnya bisa istirahat, aku sering memandang wajahnya yang kelelahan sambil menahan tangis. Semoga Allah selalu memberkahimu, Suamiku…

Dan semoga kami selalu diberi kekuatan, kesabaran dan keikhlasan dalam merawat putera kami. Semoga semuanya baik-baik saja. Insya Allah semua akan baik-baik saja.

Siuman

Akhirnya blog saya siuman juga dari pingsan berbulan-bulan, hehehe… Mudah-mudahan sahabat semua sealu dalam keadaan baik dan sehat, amin.

Btw, makasih banyak buat sahabat yang udah komen di postingan saya sebelumnya. Mohon maaf belum sempat berkunjung balik.

Cerita kontrakan rumah itu akhirnya berujung tak indah karena si empunya rumah sulit diajak bekerja sama. Seperti yang sudah saya duga, dia merasa kami mempersulit rejekinya dengan menghalang-halangi orang-orang (baca: calon pembeli) memasuki rumah yang sedang kami kontrak tersebut. Jadi, ketika di sms dia berkata bahwa bukan masalah baginya mengusir kami dari rumah itu, saya dan suami langsung memutuskan untuk angkat kaki dan mencari kontrakan lain (tanpa merasa perlu repot-repot pamit segala).

Yang sangat mengejutkan saat itu adalah makelar yang berurusan dengan kami ternyata bukan tangan pertama. Ada makelar lain yang bahkan mukanya ga pernah kami lihat, tapi (menurut pengakuan makelar kami) ‘menikmati’ keuntungan lebih besar. Ya, akhirnya kami tahu berapa harga kontrakan sebenarnya dari omongan si pemilik rumah. Dari uang yang kami bayarkan, 25%-nya ternyata dibagi-bagi di antara kedua makelar ini, ckckck… Yang lebih heboh, kwitansi pembayaran kontrakan ditandatangani oleh si makelar pertama (yang entah-siapa-itu), bukan oleh si pemilik rumah. Gila bener nih orang-orang ya, pantesan aja dari awal minta kontak pemilik rumah aja dihalang-halangi, harusnya dari situ kami udah ‘aware’ ada yang ga beres… Gara-gara takut uang muka hangus, malah jadi rugi lebih banyak… Ah, sungguh sebuah pelajaran sangat berharga.

Tapi alhamdulillah kini kami menempati rumah yang lebih baik dan jauuuuuh lebih strategis di dekat Ring Road Utara (kontrakan sebelumnya harus masuk jalan kampung dan agak jauh dari peradaban :D). Yang punya rumah sekarang seorang ibu baik hati (almarhum suaminya orang Timor-timur dan anaknya ga kalah ganteng dari Jeremy Thomas :D). Dan tetangga sebelah rumah saya adalah Warung Burjo (alias bubur kacang ijo), yang penjualnya dari Kuningan. Saya jadi bisa ngobrol berbahasa Sunda tiap hari, hahaha… Kalo ada yang tinggal dekat sini, mampir yaaa… ^_^

Alhamdulillah juga saat ini ada janin tengah bertumbuh dalam rahim saya. Sungguh sebuah karunia teramat indah setelah penantian selama beberapa waktu. Ah, segala puji bagi-Nya, yang Maha Mendengar do’a-do’a…

Alls well, ends well too.

Benar yang dikatakan Pak Mario Teguh, bahwa Tuhan tidak akan menyedihkanmu tanpa rencana pembahagiaanmu. Dan kebahagiaan-Nya itu berlipat kali lebih indah dari yang bisa kita bayangkan.

Jadi, buat sahabat yang tengah dilanda kesulitan, jangan habis kesabaran ya… Berpeganglah pada-Nya, semoga semua berakhir baik, amin…

Curhat Kontraktor :)

Akhir-akhir ini, saya jarang sekali bisa membuat sebuah tulisan yang berkualitas. Itu sebabnya, saya melarang diri saya menulis di blog tentang hal-hal yang tak penting hanya demi blognya terlihat aktif. Setiap kali saya blogwalking, saya malu sekali dengan tulisan sahabat-sahabat lain -yang meskipun hanya berupa tulisan ringan- tapi tetap menambah wawasan atau sekedar menghibur dan membuat pembacanya tersenyum.

Hal-hal tak penting berupa curhat ge-je itu saya tulis di kertas, hanya untuk saya baca sendiri saja, bukan untuk dikonsumsi oleh publik. Jika sudah tak diperlukan, saya bisa membuangnya (karena kebanyakan curhat-curhat seperti itu nadanya negatif).

Tapi kali ini, saya tak tahan lagi, saya pengen curhat, huhuhu… Dan saya putuskan untuk ditulis di sini untuk melihat komentar para sahabat blogger saya tentang sikap saya yang seharusnya, atau mungkin sepantasnya.

Curhat ini berawal dari sebuah rumah kecil bercat biru…

Saya pernah menulis, bahwa pernikahan saya terhitung mendadak, karena kedua keluarga meminta kami untuk menyegerakan kehalalan hubungan itu sesuai ajaran agama (bukan berarti kami melakukan yang ga halal lho ya :D)

Di tengah kehebohan mempersiapkan segala sesuatunya (yang terasa sempit untuk sebuah perencanaan pernikahan), saya dan suami mendadak sadar bahwa kami memerlukan sebuah rumah. Ga lucu jika setelah menikah kami masih tinggal di kos yang berbeda bak mahasiswa🙂

Jadi, kami mulai berburu kontrakan di beberapa daerah Jogja. Sayangnya, harga sewa rumah di daerah-daerah favorit kami yang strategis tidak terjangkau oleh kantong ‘dua mantan jomblo yang lupa nabung’, hehehe… Kami akhirnya memutuskan mencari di daerah Jl. Wonosari dengan pertimbangan harga yang lebih murah plus kantor stasiun tv lokal tempat kerja suami saya juga berada di situ.

Melalui sebuah iklan di koran, saya dan suami menemukan rumah bercat biru ini. Biasanya, saat saya memasuki sebuah rumah, ada feeling tertentu yang bisa saya rasakan jika rumah itu agak ‘bermasalah’. Hawanya akan terasa tidak enak. Tapi rumah ini tidak memberikan feeling apa-apa. Melihat ruang-ruangnya yang cukup bersih, saya setuju untuk mengontrak di situ. Selain saya sudah lelah mencari kesana-kemari, waktunya juga cukup mepet karena saya harus segera pulang ke Bandung, tak ada waktu lagi untuk mencari rumah idaman lain.

Mulai bermasalah saat kami meminta daya listrik dinaikkan dari 450 Watt ke 1300 Watt. Yang mengiklankan rumah ini ternyata bukan pemilik, melainkan seorang makelar yang tinggal di kompleks yang sama. Saat itu, suami saya meminta nomor kontak empunya rumah untuk meminta surat-surat berkaitan dengan kenaikan daya listrik itu, tapi ditolak oleh sang makelar. Katanya, biar semuanya dia yang urus. Kami tak usah repot-repot menghubungi pemilik rumah.

Saat itu, sempat suuzhan sih… Jangan-jangan harga sebenarnya dari pemilik rumah ga seperti kesepakatan kami dengan sang makelar. Tapi, daripada uang muka yang udah disetorkan hangus, kami pun menyerahkan urusan ini padanya. Dan akhirnya urusan listrik pun selesai.

Masalah lain, sebelum kami kontrak, rumah ini sebenarnya memang akan dijual. Dan inilah gangguannya…

Rupanya, makelar rumah di kompleks ini ternyata bukan hanya si ibu yang berurusan dengan kami. Yang saya tidak tahu, rumah ini ternyata tetap “dipasarkan” oleh beberapa tetangga di sini untuk dijual.

Saya terbengong-bengong ketika suatu siang, saat saya sedang demam, pintu rumah diketuk oleh beberapa orang. Makelarnya bilang mereka adalah calon pembeli rumah, jadi mau masuk lihat-lihat seisi rumah. Saya jelas merasa tidak nyaman memasukkan orang asing untuk melihat ke seluruh penjuru rumah saya, apalagi tanpa seizin suami. Saya sudah berusaha menolak dengan sopan, tapi mereka agak memaksa, “Sebentar saja, Mbak, ini sudah datang jauh-jauh ke sini…”.

Saya bahkan belum sempat menghubungi suami dan mereka sudah berada di dalam rumah. Saat tahu, suami marah dan berkata bahwa lain kali saya harus hati-hati. Memang hare gene, banyak sekali kejahatan dilakukan dengan cara tak terduga. Nah, yang menyebalkan, itu tidak hanya terjadi sekali saja, dengan makelar yang berbeda-beda pula. Kedatangannya juga selalu mendadak, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Sungguh, saya tahu menjual rumah itu tidak mudah. Dan saya juga tidak ingin menghalangi rezeki si pemilik rumah. Tapi, saya pikir, selama kami sudah melunasi kewajiban kontrak, kami juga berhak mendapatkan privasi di rumah ini kan? Tidak nyaman jika beberapa orang asing tiba-tiba datang ingin melihat-lihat seluruh sudut-sudut tempat tinggal kita. Dan akhirnya, meski mendapatkan wajah-wajah jutek, permintaan mendadak dangdut seperti ini selalu saya tolak.

Saya ingin sekali menghubungi si pemilik, menyatakan keberatan dengan hal ini. Tapi, saya takut beliau jadi tersinggung dan memutuskan kontrak sepihak (itu mungkin saja, kan?). Sedangkan untuk menyediakan sejumlah uang berjuta-juta rupiah untuk menyewa rumah lain, jelas kami belum mampu.

So, what should I do? Anyone?

Si Gopek

Resolusi tahun ini rajin apdet blog ga kesampean… Malah blognya lebih banyak terlantar… Dengan banyak alasan, hehehe… :hammer:

Baiklah, tahun depan, mudah-mudahan bisa apdet setidaknya seminggu sekali, di hari Kamis.

Kenapa harus Kamis?

Karena buatku -yang pengangguran ini- semua hari keliatan sama, jadi suka lupa nama-nama hari, hahaha… Tapi, setiap hari Kamis suami akan berangkat ke kantor mengenakan seragam hijau pupusnya. Kalo pagi-pagi udah liat seragam itu baru ngeh, oooh… ini Kamis ya… udah seminggu ga ngeblog ya… Gitchu…

(Ga mutu banget alesannya… :P)

Pagi ini, entah kenapa, aku tiba-tiba teringat sebuah humor sederhana. Lupa juga baca di mana, udah  lama sih…

Alkisah, sebuah uang koin lima ratus dan selembar uang seratus ribu bertemu di suatu tempat. Si uang seratus ribu dengan bersemangat bercerita tentang tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Dari penyimpanan bank-bank ternama di Indonesia, dompet para jutawan, koruptor hingga tempat-tempat hiburan elit.

Selesai bercerita, ia bertanya pada uang koin lima ratus, “Nah, coba ceritakan, tempat-tempat mana aja yang pernah kamu kunjungin?”

Si uang koin menjawab kalem, “Ah, aku sih ga sehebat itu. Paling pindah ke dua tempat aja. Kalo nggak ke WC Umum, ya… ke kencleng masjid.”

HADEWWW…

Serba salah baca humor ini, serasa tersindir, mau ketawa juga nyinyir…

Padahal sekarang, mana ada WC Umum harganya gopek, minimum juga seribu perak. Tapi, mau masuk surga cuma ngasih lima ratus, hehehe… Dasar kita manusia emang makhluk malu-maluin.

Kadang godaan juga sih… Maklum rumah tangga baru dengan hanya mengandalkan satu pemasukan memang keadaan ekonominya masih gonjang-ganjing. Masih terbawa-bawa aja kebiasaan boros jaman single dulu, hehehe… Jadi, saat tangan ingin memberi, ada aja bisikan-bisikan maut, “Ga usah ngasih dulu deh… Kita juga masih butuh lho…”.

Huufffttt…

Kalo udah gitu, lagi-lagi aku teringat nasihat Mama yang ajib…

Allah itu Maha Kaya!

Jadi,kenapa harus takut kekurangan karena memberi? Apalagi jika pemberian itu membuat saudara-saudara kita berbahagia… Rasanya the whole world smile with you…😀

Karena kata seorang ustadz, orang yang PELIT itu adalah orang yang berzakat, tapi TIDAK bersedekah. (Nah lho, jadi yang ga zakat namanya apa dunk???).

When I Said ‘Yes’…

Selepas ujian skripsi, ketika (dengan malasnya) aku wara-wiri di kampus meminta tanda-tangan persetujuan para dosen penguji, ada satu dosen yang biasanya nangkring di warnet kampus. Kebetulan, beliau tak pernah mengajar di kelasku, jadi aku tak tahu seperti apa sifatnya. Tapi, saat menguji sepertinya baik-baik aja, tidak terlihat sadis atau semacamnya. Dan, ya, mudah sekali mendapatkan tanda-tangan beliau, tanpa ribet, tanpa pertanyaan macam-macam, malah diberi bonus senyum lebar…

Siapa sangka, bertahun-tahun kemudian aku ternyata menikahi keponakannya…

Aku tak pernah merencanakan akan menikah tahun ini. Jangankan menikah, membayangkan bisa jatuh cinta lagi saja rasanya sungguh sulit, mengingat kisah yang terakhir penuh dengan rasa sakit yang susah sembuhnya *drama*.

Jadi, ketika dalam kurun waktu 6 bulan tiba-tiba saja aku harus mempersiapkan pernikahan dengan seorang yang kukenal selama 9 tahun sebagai ‘teman-say-hi’, yang ngobrol aja seumur-umur tak pernah lebih dari 5 menit, rasanya agak aneh. Dan jujur, selama beberapa waktu aku sempat ragu. Is he really the one? Mr. Right?

Hanya Allah yang Maha Tahu jawabannya. Maka aku bertanya pada-Nya, lagi dan lagi. Dan kata-kata penolakan yang tadinya sering kupersiapkan setiap bertemu dengannya hilang entah ke mana… Berganti pertanyaan yang terus muncul di kepalaku, “Kenapa kau ingin menolak orang sebaik dia?” Dan entah kenapa sebuah hadits Rasulullah SAW terus terngiang-ngiang…

Jika datang seorang laki-laki kepadamu (untuk melamar), sedang kau tahu ia baik akhlak dan agamanya lalu kau tolak, maka jadilah fitnah buatmu dan kerusakan yang besar,” (HR. Ibnu Majah)

Padahal, sebelumnya aku bahkan tidak hafal hadits ini…

Bertukar saran dengan orang tua dan sahabat pun tak henti kulakukan. Lucunya, berbeda dengan hubungan yang sudah-sudah (ada yang pro dan kontra *halah*), kali ini semua saran justru mengarah pada jawaban: beri dia kesempatan.

Nasihat terbaik dari curhat tentang ‘ketidaksiapanku menikah’ kudapatkan dari Bu Eko, sahabatku yang kini pindah ke pulau seberang. Intinya dia bilang, “Sampai akad nikah pun kita ga akan pernah siap. Menikah bukan hanya sebuah tahapan kehidupan. Menikah itu ibadah. Yang namanya ibadah, ga siap ya harus disiapin, ga khusyu ya harus dibuat khusyu…”.

Uh, dalemmmm…

Sampai kini pun, kadang aku masih merasa tak siap. Apalagi ego-ku yang demikian besar sepertinya agak sulit menerima bahwa kini posisi kapten kapal telah berpindah tangan pada seorang laki-laki yang belum kukenal seutuhnya. Aku tak boleh lagi mengendalikan kapal ini tanpa izinnya.

Tapi satu hal yang aku tahu pasti, aku tak lagi belajar mencintai laki-laki ini. Karena ia telah berhasil membuatku jatuh cinta pada akhirnya. Namun, masih banyak pelajaran lain menanti, dengan ujian yang semakin berat.

Persiapan, meluruskan niat dan mengkhusyu’kan diri dalam ibadah itu memang harus terus dilakukan sepanjang hayat. Termasuk dalam menikah.

Betul?

(Ah, siapalah saya, berani-beraninya menggurui para pembaca tentang masalah pernikahan ini…)